Modul Sejarak Kelas XI IPS SMA Pembangunan Lab.UNP

Dengan diterbitkan modul diharapkan adanya kesamaaan Bahan Ajar pada mata pelajaran sejarah, di SMA/MA negeri maupun swasta di Kota Padang dan dapat dijadikan sebagai acuan dalam proses pembelajaran yang kreatif dan inovatif.

Harapan saya agar  guru dapat mengembangkan, meningkatkan dan menyempurnakan Bahan Ajar ini terus menerus. Sehingga siswa dan  guru dapat menggali kompetensi diri sehingga terwujud sistem pembelajaran yang berkualitas.

Selamat belajar, semoga sukses dalam membentuk peserta didik menjadi manusia yang  cerdas, berahlaq mulia dan bertakwa.

PENDAHULUAN

Bahan Ajar ini akan mengantarkan anda untuk menganalisis pengaruh perkembangan agama dan kebudayaan Hindu-Buddha dan Islam  terhadap kehidupan  masyarakat di berbagai daerah di Indonesia.

Melalui kegiatan belajar, Anda dapat memahami perkembangan agama dan kebudayaan Hindu-Buddha terhadap masyarakat di berbagai daerah di Indonesia, yaitu hipotesa proses masuk, ajaran Agama Hindu-budha, proses interaksi, pengaruh Hindu – Budaha, kerajaan-kerajan yang bercorak Hindu-Budha di Indonesia dan bukti-buktinya, yaitu meliputi Kerajaan Kutai, Tarumanegara,  Melayu, Sriwijaya, Pagaruyung, Mataram Kuno, Kediri, Singosari, Majapahit dan lainya.   terhadap kehidupan masyarakat Indonesia.                                                                               Anda dapat Menganalisis pengaruh perkembangan agama dan kebudayaan Islam terhadap masyarakat di berbagai daerah di Indonesia,  penyebaran agama Islam, proses integrasi masyarakat,dan Kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam di Indonesia maka diharapkan tumbuh kesadaran dalam diri Anda untuk menghargai dinamika masyarakat Indonesia sehingga dapat memperkokoh rasa persatuan dan kesatuan bangsa.

Pada kegiatan belajar 3, Anda dapat mengetahui proses akulturasi kebudayaan tradesi lokal, Hindu-budha dan Islam di Indonesia. Akulturasi dilakukan dengan berbagai cara dalam meujudkannya seperti bidang kepercayaan, sosial budaya, bangunan, sastra dan pemerintahan sesuai  dengan pola pikirnya.

Untuk memudahkan Anda mempelajari bahan ajar ini serta memperluas wawasan, baca pula buku-buku lain yang berkaitan dengan materi ini. Selesaikanlah tugas-tugas yang diberikan dan jangan ragu untuk bertanya kepada teman-teman sejawat, apabila Anda mengalami kesulitan. Untuk memudahkan memahami keseluruhan isi bahan ajar ini maka ikutilah petunjuk di bawah ini dengan seksama.

  1. Bacalah setiap penjelasan yang diberikan dengan cermat. Anda jangan tergesa-gesa agar dapat memahami isi modul ini dengan benar.
  2. dalam uraian materi terdapat latihan soal untuk menguji lebih jauh pemahaman Anda, maka kerjakanlah sesuai arahan.
  3. mempermudah pemahaman Anda dalam mempelajari bahan ajar  ini usahakan untuk mempelajari peta Asia/dunia maupun peta Indonesia.
  4. jawaban Anda masih banyak yang tidak sesuai dengan kunci jawaban maka bacalah kembali bagian-bagian tersebut sampai Anda benar-benar paham
  5. Anda lebih sungguh-sungguh dalam memahami bahan ajar ini agar Anda dapat memperoleh sukses yang diharapkan.


Selamat belajar, semoga sukses

Kegiatan 1

PROSES MASUK DAN BERKEMBANGNYA AGAMA
SERTA KEBUDAYAAN HINDU-BUDHA DI INDONESIA

 

Standar Kompetensi :  Menganalisis perjalanan bangsa Indonesia pada masa

Negara-negara tradisional.

 

Kompetensi Dasar    :  1.1  Menganalisis pengaruh perkembangan agama dan kebudayaan

Hindu- Buddha terhadap masyarakati berbagai daerah di Indonesia.

1.2. Menganalisis perkembangan kehidupan negara-negara kerajaan

Hindu-Buddha  di Indonesia

1.3  Menganalisis pengaruh perkembangan agama dan kebudayaan Islam

terhadap masyarakat di berbagai daerah di Indonesia

                                       1.4  Menganalisis perkembangan kehidupan negara-negara kerajaan-

                                             kerajaan Islam di Indonesia.

                                      1.5  Menganalisis proses interaksi antara tradisi lokal, Hindu-Buddha, dan

                                             Islam di Indonesia,

 

  1. PROSES MASUK AGAMA HINDU-BUDHA

Bagaimana dengan persiapan Anda untuk mempelajari materi ajar ini? Mudah-mudahan Anda benar-benar siap, agar kesuksesan dapat Anda raih.

Seperti yang telah Anda ketahui melalui pendahuluan, bahwa agama Hindu- Budha berasal dari India, kemudian menyebar ke Asia Timur. Asia Tenggara termasuk Indonesia. Timbul suatu pertanyaan bagaimana proses masuknya agama Hindu-Budha ke Indonesia? Dan bagaimana pengaruhnya terhadap kebudayaan Indonesia? Untuk mengetahui jawaban tersebut, silakan Anda pelajari uraian materi berikut ini!

Proses Masuknya Agama Hindu dan Budha ke Indonesia

Indonesia sebagai negara kepulauan letaknya sangat strategis, yaitu terletak diantara dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudra (Indonesia dan Pasifik) yang merupakan daerah persimpangan lalu lintas perdagangan dunia.

Untuk lebih jelasnya, silahkan Anda amati gambar peta jaringan perdagangan laut Asia Tenggara berikut ini:

 

                           Gambar  Peta jalur perdagangan laut Asia Tenggara

 

Awal abad Masehi, jalur perdagangan tidak lagi melewati jalur darat (jalur sutera) tetapi beralih kejalur laut, sehingga secara tidak langsung perdagangan antara Cina dan India melewati selat Malaka. Untuk itu Indonesia ikut berperan aktif dalam perdagangan tersebut.

Akibat hubungan dagang tersebut, maka terjadilah kontak/hubungan antara Indonesia dengan India, dan Indonesia dengan Cina. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab masuknya budaya India ataupun budaya Cina ke Indonesia.

Mengenai siapa yang membawa atau menyebarkan agama Hindu – Budha ke Indonesia, tidak dapat diketahui secara pasti, walaupun demikian para ahli memberikan pendapat tentang proses masuknya agama Hindu – Budha atau kebudayaan India ke Indonesia.

A.Hipotesa

Untuk penyiaran Agama Hindu ke Indonesia, terdapat beberapa pendapat/hipotesa yang membawa agama yaitu antara lain:

  1. Hipotesis Ksatria, diutarakan oleh Prof.Dr.Ir.J.L.Moens berpendapat bahwa yang membawa agama Hindu ke Indonesia adalah kaum ksatria atau golongan prajurit, karena adanya kekacauan politik/peperangan di India abad 4 – 5 M, maka prajurit yang kalah perang terdesak dan menyingkir ke Indonesia, bahkan diduga mendirikan kerajaan di Indonesia.

 

  1. Hipotesis Waisya, diutarakan oleh Dr.N.J.Krom, berpendapat bahwa agama Hindu masuk ke Indonesia dibawa oleh kaum pedagang yang datang untuk berdagang ke Indonesia, bahkan diduga ada yang menetap karena menikah dengan orang Indonesia.

 

  1. Hipotesis Brahmana, diutarakan oleh J.C.Vanleur berpendapat bahwa agama Hindu masuk ke Indonesia dibawa oleh kaum Brahmana karena hanyalah kaum Brahmana yang berhak mempelajari dan mengerti isi kitab suci Weda. Kedatangan Kaum Brahmana tersebut diduga karena undangan Penguasa/Kepala Suku di Indonesia atau sengaja datang untuk menyebarkan agama Hindu ke Indonesia.

 

  1. Hipotesis Sudra, diutarakan Von van Faber mengungkapkan bahwa peperangan yang tejadi di India telah menyebabkan golongan sudra menjadi orang buangan. Mereka kemudian meninggalkan India dengan mengikuti kaum waisya. Dengan jumlah yang besar, diduga golongan sudralah yang memberi andil dalam penyebaran budaya Hindu ke Nusantara.

 

  1. Hipotesis Arus Balik, dikemukakan oleh FD. K. Bosh. Hipotesis ini menekankan peranan bangsa Indonesia dalam proses penyebaran kebudayaan Hindu dan Budha di Indonesia. Menurutnya penyebaran budaya India di Indonesia dilakukan oleh para cendikiawan atau golongan terdidik.

 

Pada dasarnya kelima teori tersebut memiliki kelemahan yaitu karena golongan ksatria dan waisya tidak mengusai bahasa Sansekerta. Sedangkan bahasa Sansekerta adalah bahasa sastra tertinggi yang dipakai dalam kitab suci Weda. Dan golongan Brahmana walaupun menguasai bahasa Sansekerta tetapi menurut kepercayaan Hindu kolot tidak boleh menyebrangi laut. Indonesia dalam proses penyebaran kebudayaan Hindu dan Budha di Indonesia, dilakukan oleh para cendikiawan atau golongan terdidik. Dalam penyebaran budayanya melakukan proses penyebaran yang terjadi dalam dua tahap yaitu sebagai berikut:

Pertama, proses penyebaran di lakukan oleh golongan pendeta Budha atau para biksu, yang menyebarkan agama Budha ke Asia termasuk Indonesia melalui jalur dagang, sehingga di Indonesia terbentuk masyarakat Sangha, dan selanjutnya orang-orang Indonesia yang sudah menjadi biksu, berusaha belajar agama Budha di India. Sekembalinya dari India mereka membawa kitab suci, bahasa sansekerta, kemampuan menulis serta kesan-kesan mengenai kebudayaan India. Dengan demikian peran aktif penyebaran budaya India, tidak hanya orang India tetapi juga orang-orang Indonesia yaitu para biksu Indonesia tersebut. Hal ini dibuktikan melalui karya seni Indonesia yang sudah mendapat pengaruh India masih menunjukan ciri-ciri Indonesia.

Kedua, proses penyebaran kedua dilakukan oleh golongan Brahmana terutama aliran Saiva-siddharta. Menurut aliran ini seseorang yang dicalonkan untuk menduduki golongan Brahmana harus mempelajari kitab agama Hindu bertahun-tahun sampai dapat ditasbihkan menjadi Brahmana. Setelah ditasbihkan, ia dianggap telah disucikan oleh Siva dan dapat melakukan upacara Vratyastome / penyucian diri untuk menghindukan seseorang

 

Jadi hubungan dagang telah menyebabkan terjadinya proses masuknya penganut Hindu – Budha ke Indonesia. Beberapa hipotesis di atas menunjukan bahwa masuknya pengaruh Hindu – Budha merupakan satu proses tersendiri yang terpisah namun tetap di dukung oleh proses perdagangan.

Untuk agama Budha diduga adanya misi penyiar agama Budha yang disebut dengan Dharmaduta, dan diperkirakan abad 2 Masehi agama Budha masuk ke Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan adanya penemuan arca Budha yang terbuat dari perunggu diberbagai daerah di Indonesia antara lain Sempaga (Sulsel), Jember (Jatim), Bukit Siguntang (Sumsel). Dilihat ciri-cirinya, arca tersebut berasal dari langgam Amarawati (India Selatan) dari abad 2 – 5 Masehi. Dan di samping itu juga ditemukan arca perunggu berlanggam Gandhara (India Utara) di Kota Bangun, Kutai (Kaltim).

  1. B.       Ajaran Agama
  2. 1.   Agama Hindu
     Agama Hindu berkembang di India pada ± tahun 1500 SM. Sumber ajaran Hindu  terdapat dalam kitab sucinya yaitu Weda. Kitab Weda terdiri atas 4 Samhita atau “himpunan” yaitu:
    1) Reg Weda, berisi syair puji-pujian kepada para dewa.
    2) Sama Weda, berisi nyanyian-nyanyian suci.
    3) Yajur Weda, berisi mantera-mantera untuk upacara keselamatan.
    4) Atharwa Weda, berisi doa-doa untuk penyembuhan penyakit.

 

  Di samping kitab Weda, umat Hindu juga memiliki kitab suci lainnya yaitu:                                        1) Kitab Brahmana, berisi ajaran tentang hal-hal sesaji.
2) Kitab Upanishad, berisi ajaran ketuhanan dan makna hidup.

   Agama Hindu menganut polytheisme (menyembah banyak dewa), diantaranya Trimurti  atau “Kesatuan Tiga Dewa Tertinggi” yaitu:
   1) Dewa Brahmana, sebagai dewa pencipta.
   2) Dewa Wisnu, sebagai dewa pemelihara dan pelindung.
   3) Dewa Siwa, sebagai dewa perusak.

Selain Dewa Trimurti, ada pula dewa yang banyak dipuja yaitu Dewa Indra pembawa hujan yang sangat penting untuk pertanian, serta Dewa Agni (api) yang berguna untuk memasak dan upacara-upacara keagamaan. Menurut agama Hindu masyarakat dibedakan menjadi 4 tingkatan atau kasta yang disebut Caturwarna yaitu:
1) Kasta Brahmana, terdiri dari para pendeta.
2) Kasta Ksatria, terdiri dari raja, keluarga raja, dan bangsawan.
3) Kasta Waisya, terdiri dari para pedagang, dan buruh menengah.
4) Kasta Sudra, terdiri dari para petani, buruh kecil, dan budak.

Selain 4 kasta tersebut terdapat pula golongan pharia atau candala, yaitu orang di luar kasta yang telah melanggar aturan-aturan kasta.

Orang-orang Hindu memilih tempat yang dianggap suci misalnya, Benares sebagai tempat bersemayamnya Dewa Siwa serta Sungai Gangga yang airnya dapat mensucikan dosa umat Hindu, sehingga bisa mencapai puncak nirwana.

 2. Agama Buddha
Agama Buddha diajarkan oleh Sidharta Gautama di India pada tahun ± 531 SM. Ayahnya seorang raja bernama Sudhodana dan ibunya Dewi Maya. Buddha artinya orang yang telah sadar dan ingin melepaskan diri dari samsara.

    Kitab suci agama Buddha yaitu Tripittaka artinya “Tiga Keranjang” yang ditulis dengan bahasa Poli. Adapun yang dimaksud dengan Tiga Keranjang adalah:
1)  Winayapittaka : Berisi peraturan-peraturan dan hukum yang harus
dijalankan oleh umat Buddha.
2)  Sutrantapittaka : Berisi wejangan-wejangan atau ajaran dari sang
Buddha.
3)  Abhidarmapittaka : Berisi penjelasan tentang soal-soal keagamaan.

    Pemeluk Buddha wajib melaksanakan Tri Dharma atau “Tiga Kebaktian” yaitu:
1) Buddha yaitu berbakti kepada Buddha.
2) Dharma yaitu berbakti kepada ajaran-ajaran Buddha.
3) Sangga yaitu berbakti kepada pemeluk-pemeluk Buddha.

     Disamping itu agar orang dapat mencapai nirwana harus mengikuti 8 (delapan) jalan kebenaran atau Astavidha yaitu:

     1)  Pandangan yang benar.
2)
 Niat yang benar.
3)
 Perkataan yang benar.
4)
 Perbuatan yang benar.
5)  Penghidupan yang benar.
6)  Usaha yang benar.
7)   Perhatian yang benar.
8) Bersemedi yang benar.

   Karena munculnya berbagai penafsiran dari ajaran Buddha, akhirnya menumbuhkan dua aliran dalam agama Buddha yaitu:
1)  Buddha Hinayana, yaitu setiap orang dapat mencapai nirwana atas usahanya  sendiri.
2)  Buddha Mahayana, yaitu orang dapat mencapai nirwana dengan usaha bersama  dan saling    membantu.

 

Pemeluk Buddha juga memiliki tempat-tempat yang dianggap suci dan keramat yaitu:
1)  Kapilawastu, yaitu tempat lahirnya Sang Buddha.
2)  Bodh Gaya, yaitu tempat Sang Buddha bersemedi dan memperoleh Bodhi.
3)  Sarnath/ Benares, yaitu tempat Sang Buddha mengajarkan ajarannya pertama kali.
4)  Kusinagara, yaitu tempat wafatnya Sang Buddha.

C. Proses Interaksi Masyarakat                                                                                                                        Indonesia sebagai daerah yang dilalui jalur perdagangan memungkinkan bagi para pedagang India untuk sungguh tinggal di kota pelabuhan-pelabuhan di Indonesia guna menunggu musim yang baik. Mereka pun melakukan interaksi dengan penduduk setempat di luar hubungan dagang. Masuknya pengaruh budaya dan agama Hindu-Budha di Indonesia dapat dibedakan atas 3 periode sebagai berikut.

1.  Periode Awal (Abad V-XI M)                                                                                                               Pada periode ini, unsur Hindu-Budha lebih kuat dan lebih terasa serta menonjol sedang unsur/ ciri-ciri kebudayaan Indonesia terdesak. Terlihat dengan banyak ditemukannya patung-patung dewa Brahma, Wisnu, Siwa, dan Budha di kerajaan-kerajaan seperti Kutai, Tarumanegara dan Mataram Kuno.

2. Periode Tengah (Abad XI-XVI M)                                                                                                            Pada periode ini unsur Hindu-Budha dan Indonesia berimbang. Hal tersebut disebabkan karena unsur Hindu-Budha melemah sedangkan unsur Indonesia kembali menonjol sehingga keberadaan ini menyebabkan munculnya sinkretisme (perpaduan dua atau lebih aliran). Hal ini terlihat pada peninggalan zaman kerajaaan Jawa Timur seperti Singasari, Kediri, dan Majapahit. Di Jawa Timur lahir aliran Tantrayana yaitu suatu aliran religi yang merupakan sinkretisme antara kepercayaan Indonesia asli dengan agama Hindu-Budha.

Raja bukan sekedar pemimpin tetapi merupakan keturunan para dewa. Candi bukan hanya rumah dewa tetapi juga makam leluhur.

3.  Periode Akhir (Abad XVI-sekarang)                                                                                           Pada periode ini, unsur Indonesia lebih kuat dibandingkan dengan periode sebelumnya, sedangkan unsur Hindu-Budha semakin surut karena perkembangan politik ekonomi di India. Di Bali kita dapat melihat bahwa Candi yang menjadi pura tidak hanya untuk memuja dewa. Roh nenek moyang dalam bentuk Meru Sang Hyang Widhi Wasa dalam agama Hindu sebagai manifestasi Ketuhanan Yang Maha Esa. Upacara Ngaben sebagai objek pariwisata dan sastra lebih banyak yang berasal dari Bali bukan lagi dari India.

  1. Pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha

Masuknya pengaruh unsur kebudayaan Hindu-Buddha dari India telah mengubah dan menambah khasanah budaya Indonesia dalam beberapa aspek kehidupan.

 

1. Agama
 Ketika memasuki zaman sejarah, masyarakat di Indonesia telah menganut   kepercayaan animisme dan dinamisme. Masyarakat mulai menerima sistem kepercayaan baru, yaitu agama Hindu-Buddha sejak berinteraksi dengan orang-orang India. Budaya baru tersebut membawa perubahan pada kehidupan keagamaan, misalnya dalam hal tata krama, upacara-upacara pemujaan, dan bentuk tempat peribadatan.

 2. Pemerintahan
Sistem pemerintahan kerajaan dikenalkan oleh orang-orang India. Dalam sistem ini kelompok-kelompok kecil masyarakat bersatu dengan kepemilikan wilayah yang luas. Kepala suku yang terbaik dan terkuat berhak atas tampuk kekuasaan kerajaan. Oleh karena itu, lahir kerajaan-kerajaan, seperti Kutai, Tarumanegara, dan Sriwijaya.

3.  Arsitektur
  Salah satu tradisi megalitikum adalah bangunan punden berundak-undak. Tradisi    

     tersebut berpadu dengan budaya India yang mengilhami pembuatan bangunan candi.  

         Jika kita memperhatikan Candi Borobudur, akan terlihat bahwa bangunannya  

         berbentuk limas yang berundak-undak. Hal ini menjadi bukti adanya paduan budaya 

         India-Indonesia.

 

 4.Bahasa
Kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia meninggalkan beberapa prasasti yang sebagian besar berhuruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta. Dalam perkembangan selanjutnya bahkan hingga saat ini, bahasa Indonesia memperkaya diri dengan bahasa Sanskerta itu. Kalimat atau kata-kata bahasa Indonesia yang merupakan hasil serapan dari bahasa Sanskerta, yaitu Pancasila, Dasa Dharma, Kartika Eka Paksi, Parasamya Purnakarya Nugraha, dan sebagainya.

 

5. Sastra
Berkembangnya pengaruh India di Indonesia membawa kemajuan besar dalam bidang sastra. Karya sastra terkenal yang mereka bawa adalah kitab Ramayana dan Mahabharata. Adanya kitab-kitab itu memacu para pujangga Indonesia untuk menghasilkan karya sendiri. Karya-karya sastra yang muncul di Indonesia adalah:
a. Arjunawiwaha, karya Mpu Kanwa,
b. Sutasoma, karya Mpu Tantular, dan
c. Negarakertagama, karya Mpu Prapanca.

Demikianlah uraian materi tentang proses masuknya agama Hindu dan Budha ke Indonesia, untuk mengukur tingkat pemahaman Anda silahkan Anda kerjakan latihan soal berikut ini!

 

II. NEGARA-NEGARA KERAJAAN BERCORAK HINDU-BUDHA

1.             KERAJAAN KUTAI

Kutai adalah salah satu kerajaan tertua di Indonesia, yang diperkirakan muncul pada abad  5 M atau ± 400 M, keberadaan kerajaan tersebut diketahui berdasarkan sumber berita yang ditemukan yaitu berupa prasasti yang berbentuk Yupa/tiang batu berjumlah 7 buah.                                                 Untuk mengetahui bentuk yupa tersebut silahkan Anda amati gambar berikut ini.

              Prasasti Yupa dari Kutai

 

             

 

Setelah Setelah Anda melihat gambar  tersebut, silahkan Anda tulis huruf dan bahasa yang dipakai dalam prasasti tersebut! tulis jawaban Anda pada tabel  berikut ini. Prasasti Yupa – tiang batu  – Huruf Pallawa –India      Selatan  – abad V  – ditemuka 7 buah jupa (1880)

( Sang Maharaja Kudunga yang amat mulia, mempunyai putra yang mashur, Sang Aswawarmman namanya, yang seperti Sang Ansuman (dewa Natahari), menumbuhkan keluarga yang sangat mulia. Sang Aswawarman mempunyai putra tiga seperti api (yang suci) tiga. Yang terkemuka dari tiga putra ialah Sang Mulawarmman, raja yang berperadaban baik, kuat dan kuasa. Sang Mulawarmman telah mengadakan kenduri (selamatan yang dinamakan), emas-amat-banyak. Buat peringatan kenduri (selamatan) inilah tugu batu ini didirikan oleh para brahmanana  )

 

Prasasti Yupa yang menggunakan huruf Pallawa dan bahasa sansekerta tersebut, dapat disimpulkan tentang keberadaan kerajaan Kutai dalam berbagai aspek kebudayaan yaitu antara lain politik, sosial, ekonomi, dan budaya.

A. Kehidupan Politik
Dalam kehidupan politik seperti yang dijelaskan prasasti Yupa bahwa raja terbesar Kutai adalah Mulawarman, ia putra Aswawarman dan Aswawarman adalah putra Kudungga.                                                                                                                               Dalam prasasti Yupa juga dijelaskan bahwa Aswawarman disebut sebagai dewa Ansuman/ Matahari dan dipandang sebagai Wangsakerta atau pendiri keluarga raja.

Hal ini berarti Asmawarman sudah menganut agama Hindu dan dipandang sebagai pendiri keluarga atau dinasti dalam Agama Hindu. Para ahli berpendapat Kudungga masih nama Indonesia asli dan masih sebagai kepala suku, ia yang menurunkan raja-raja Kutai.

Dalam kehidupan sosial terjalin hubungan yang harmonis/ erat antara Raja Mulawarman dengan kaum Brahmana, seperti yang dijelaskan dalam prasasti Yupa, bahwa raja Mulawarman memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana di dalam tanah yang suci bernama Waprakeswara. Dengan adanya istilah Waprakeswara, tentu timbul pertanyaan dalam diri Anda, apa yang dimaksud dengan Waprakeswara? Waprakeswara adalah tempat suci untuk memuja dewa Syiwa. Di pulau Jawa disebut Baprakewara.

  B. Kehidupan Ekonomi
Dalam kehidupan ekonomi, tidak diketahui secara pasti, kecuali disebutkan dalam  salah satu prasasti bahwa Raja Mulawarman telah mengadakan upacara korban emas dan tidak menghadiahkan sebanyak 20.000 ekor sapi untuk golongan Brahmana.                                     Tidak diketahui secara pasti asal emas dan sapi tersebut diperoleh, apabila emas dan sapi tersebut didatangkan dari tempat lain, bisa disimpulkan bahwa kerajaan Kutai telah melakukan kegiatan dagang.

 C. Kehidupan Budaya
Dalam kehidupan budaya dapat dikatakan kerajaan Kutai sudah maju. Hal ini  dibuktikan melalui upacara penghinduan (pemberkatan memeluk agama Hindu) atau disebut upacara Vratyastoma.

                                                                    Peta  Kerajaan Kutai

2 . KERAJAAN TARUMANEGARA

      Bukti-bukti adanya kerajaan Tarumanegara diketahui melalui sumber-sumber yang   berasal dari dalam maupun luar negeri. Sumber dari dalam negeri berupa 7 buah prasasti batu yang ditemukan empat di Bogor, satu di Jakarta dan satu di Lebak Banten.

     Untuk mengetahui lebih jelas tentang nama-nama prasasti tersebut, simak dengan baik     penjelasannya berikut ini.

A. Sumber dari Prasasti

  1. Prasasti Ciaruteun, Ciampea, Bogor
  2. Prasasti  Pasir Muara Cianten, Ciampea, Bogor
  3. Prasasti  Kebon Kopi (tapak gajah)
  4. Prasasti Tugu, Bekasi
  5. Prasasti  Jambu, Nanggung, Bogor
  6. Prasasti  Cidanghian atau Lebak
  7. Prasasti Pasir Awi, Citeureup, Bogor

Untuk memperjelas pamahaman Anda tentang keberadaan prasasti tersebut amatilah  gambar-gambar berikut ini!

1.Prasasti Ciaruteun

            Gambar 1 Prasasti Ciaruteun Setelah Anda mengamati gambar 6 tersebut tentu Anda ingin bertanya apa arti dari gambar telapak kaki pada prasasti tersebut!                 Gambar telapak kaki pada prasasti Ciarunteun mempunyai 2 arti yaitu:                                            Cap telapak kaki melambangkan kekuasaan raja atas daerah tersebut (tempat ditemukannya prasasti tersebut).                             Di India, cap telapak kaki melambangkan kekuasaan sekaligus penghormatan sebagai dewa. Hal ini berarti menegaskan kedudukan Purnawarman yang diibaratkan dewa Wisnu maka dianggap sebagai penguasa sekaligus pelindung  rakyat

 

 
 Gambar 2 Prasasti Pasir Muara
  1. 2. Prasasti Pasir Muara                                                 Di Bogor, prasasti ditemukan di Pasir Muara.. Dalam prasasti itu dituliskan :           ini sabdakalanda rakryan juru panga-mbat i kawihaji panyca pasagi marsa-n desa barpulihkan haji su-nda Terjemahannya menurut Bosch:Ini tanda ucapan Rakryan Juru Pengambat dalam tahun (Saka) kawihaji (8) panca (5) pasagi (4), pemerintahan begara dikembalikan kepada raja Sunda.

 

 
  1.  Prasasti  Kebon Kopi

Prasasti Telapak Gajah bergambar sepasang telapak kaki gajah yang diberi keterangan satu baris berbentuk puisi berbunyi:
jayavi s halasya tarumendrsaya hastinah airavatabhasya vibhatidam padadavayam
Terjemahannya:
.Prasati Kaki Gajah ,, Sepasang kaki Gajah tercetak pada batu ini, konon merupakan Gajah perang tunggangan Raja Purnawarman yang bernama Airawata

4. Prasasti Jambu                                                             Prasasti Jambu atau prasasti Pasir Koleangkak, ditemukan di bukit Koleangkak di perkebunan jambu, sekitar 30 km sebelah barat Bogor, prasasti ini juga menggunakan bahwa Sansekerta dan huruf Pallawa serta terdapat gambar telapak kaki yang isinya memuji pemerintahan raja Purnawarman.

     Gambar 3 Prasasti Kebon Kopi

Gambar  4 Prasasti Jambu

5.  Prasasti  Tugu


Gambar
5 Prasasti Tugu  

Setelah Anda menyimak gambar 4 tentu Anda ingin bertanya hal-hal apa yang dapat diketahui dari prasasti Tugu tersebut.

Hal-hal yang dapat diketahui dari prasasti Tugu adalah:  Prasasti Tugu menyebutkan nama dua buah sungai yang terkenal di Punjab yaitu sungai Chandrabaga dan Gomati.  Sungai Chandrabaga diartikan sebagai kali Bekasi  Prasasti Tugu yang menyebutkan dilaksanakannya upacara selamatan oleh Brahmana disertai dengan seribu ekor sapi yang dihadiahkan raja.

 

Prasastig Cidanghian atau prasasti Lebak, ditemukan di kampung lebak di tepi sungai Cidanghiang, kecamatan Munjul kabupaten Pandeglang Banten. Prasasti ini baru ditemukan tahun 1947 dan berisi 2 baris kalimat berbentuk puisi dengan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta. Isi prasasti tersebut mengagungkan keberanian raja Purnawarman.

Prasasti Pasir Awi ditemukan di daerah Leuwiliang, juga tertulis dalam aksara ikal yang belum dapat dibaca.

 

B. Sumber dari Luar Negeri
 Sedangkan sumber-sumber dari luar negeri yang berasal dari berita Cina antara lain:

  1. Berita Fa-Hien, tahun 414 M dalam bukunya yang berjudul Fa-Kao-Chi menceritakan   bahwa di Ye-po-ti hanya sedikit dijumpai orang-orang yang beragama Budha, yang banyak adalah orang-orang yang beragama Hindu dan sebagian masih animisme.
  2. Berita Dinasti Sui, menceritakan bahwa tahun 528 dan 535 telah datang utusan dari To- lo-mo yang terletak di sebelah selatan.
  3. Berita Dinasti Tang, juga menceritakan bahwa tahun 666 dan 669 telah datang utusaan dari To-lo-mo.

Dari tiga berita di atas para ahli menyimpulkan bahwa istilah To-lo-mo secara fonetis penyesuaian kata-katanya sama dengan Tarumanegara.

Maka berdasarkan sumber-sumber yang telah dijelaskan sebelumnya maka dapat diketahui beberapa aspek kehidupan tentang kerajaan Tarumanegara.

Kerajaan Tarumanegara diperkirakan berkembang antara tahun 400-600 M. Berdasarkan prasast-prasati tersebut diketahui raja yang memerintah pada waktu itu adalah Purnawarman. Wilayah kekuasaan Purnawarman menurut prasasti Tugu, meliputi hapir seluruh Jawa Barat yang membentang dari Banten, Jakarta, Bogor dan Cirebon. Untuk lebih jelasnya silahkanAnda simak Gambar 6. peta berikut.


Gambar 6. Peta Penemuan Prasasti Purnawarman

Menurut berita dari Cina, berupa catatan perjalanan Fa Hien awal abad ke-5 M di ketahui bahwa aspek kehidupan ekonomi penduduk yaitu pertanian, peternakan, perburuan binatang, dan perdagangan. Barang-barang yang diperdagangkan antara lain cula badak, perak dan kulit penyu.

Dan melalui prasasti Tugu diketahui raja Purnawarman sangat memperhatikan aspek pertanian dan perdagangan.

Berdasarkan tujuh prasasti, diketahui kehidupan sosial berpusat pada kegiatan pertanian di desa. Usaha untuk membuka hutan dan dijadikan areal pemukiman dilakukan dengan cara gotong royong. Sebelumnya dilakukan upacara sesuai adat istiadat setempat yang dilakukan sejak zaman prasejarah.

Berdasarkan prasasti dan berita dari Cina diperkirakan pengaruh Hindu kuat di kalangan bangsawan, contohnya raja Purnawarman sangat memegang kebudayaan Hindu India, mereka merupakan golongan terdidik yang menguasai bahasa Sansekerta dan tulisan Pallawa sedangkan di kalangan rakyat pengaruh Hindu belum kuat.

Raja-raja Tarumanagara menurut Naskah Wangsakerta

  1. Jayasingawarman 358-382                 7. Suryawarman 535-561
  2. Dharmayawarman 382-395                 8. Kertawarman 561-628
  3. Purnawarman 395-434                         9. Sudhawarman 628-639
  4. Wisnuwarman 434-455          10. Hariwangsawarman 639-640
  5. Indrawarman 455-515                         11. Nagajayawarman 640-666
  6. Candrawarman 515-535        12. Linggawarman 666-6…

Untuk mengetahui pemahaman Anda terhadap uraian materi tersebut, silakan kerjakan latihan soal berikut ini dengan menggunakan kertas kosong, atau buku tulis Anda agar  Anda lebih bersih/rapih.

Latihan  1 

  1. 1.       Sebutkan tempat penemuan arca Budha dan langgam/coraknya yang menjadi bukti masuknya agama Budha ke Indonesia abad 2 M! lengkapilah kolom di bawah ini

 

  1. 2.       Berikan Penjelasan teori / hipotesis masuknya agama Hindu ke Indonesia!

    

  1.  Prasasti Yupa ditemukan di daerah ….
  2.  Prasasti Yupa dibuat pada masa pemerintahan ..
  3.  Dari prasasti Yupa dijelaskan tentang raja-raja yang memerintah di Kutai ……
  4.  Agama yang dianut oleh raja Mulawarman adalah …
  5.  Upacara penghinduan disebut dengan ….
  6.  Apa yang dimaksud dengan Waprakeswara ….
  7. Yang mendapat julukan sebagai Wangsakerta adalah ….
  8.  Prasasti Yupa menggunakan bahasa … dan huruf ….
  9. Pemimpin upacara penghinduan pada masa Aswawarman adalah ….
  10. Prasasti Yupa peninggalan kerajaan Kutai diperkirakan berasal dari abad ….

 

 

Kunci Jawaban

1) 1. Sempaga/Sulsel. Langgam Amarawati/India Selatan

    2. Jember/Jatim. Langgam Amarawati/India Selatan

    3. Bukit Siguntang/Sumsel. Langgam Amarawati/India Selatan

    4. Kota Bangun/Kaltim. Langgam Gandhara/India Utara

 2) a.Teori waisya, Dr.N.J.Krom, agama Hindu dan Budha dibawa oleh pedagang.       

       Kelemahannya: Kaum pedagang tidak menguasai bahasa Sansekerta/kitab Weda.

    b.Teori Ksatria, Prof.Dr.Ir.J.L.Moens, agama Hindu dan Budha oleh Kaum Ksatria, 

       karena kekacauan politik di India.

       Kelemahannya: Kaum Ksatria tidak menguasai bahasa Sansekerta.

    c.Teori Brahmana, J.C.Van Leur, agama Hindu dibawa oleh kaum Brahmana yang 

       diundang oleh penguasa/kepala suku Indonesia.

       Kelemahannya: Kaum Brahmana tidak boleh menyebrangi laut menurut penganut  

       Hindu yang kolot.                      

3.   Muarakaman, Kutai, Kaltim               8.   Pembentuk keluarga raja agama Hindu                                                                                                      4.   Mulawarman                                                               9.   Aswawarman
5    Kudungga, Aswawarman dan Mulawarman     .   10    Sansekerta dan Pallawa
6.   Hindu Syiwa                                                             11.   Brahmana dari India                                                                                                                                                                                                                                                       7.   Vratyastoma                                                             12.   5 M (400M)

Bagaimana dengan jawaban Anda ? Bila Anda dapat menjawab semuanya berarti pemahaman Anda bagus, selanjutnya simak kembali uraian materi kerajaan Hindu tertua berikutnya.

 

 

 

 

3.  KERAJAAN HOLING

Kerajaan ini ibukotanya bernama Chopo ( nama China ), menurut bukti- bukti China pada abad 5 M. Mengenai letak Kerajaan Holing secara pastinya belum dapat ditentukan. Tetapi letak yang paling mungkin ada di daerah antara pekalongan dan Plawanagn di Jawa tengah. Hal ini berdasarkan catatan perjalanan dari Cina. Menurut buku “Sejarah Baru Dinasti Tang (618-906 M)” mencatat bahwa pada tahun 674 M seorang musafir Tionghoa bernama I-Tsing pernah mengunjungi negeri Holing atau Kalingga yang juga disebut Jawa atau Japa dan diyakini berlokasi di Keling, kawasan timur Jepara sekarang ini, serta dipimpin oleh seorang raja wanita bernama Ratu Shima yang dikenal sangat tegas.

Kerajaan Holing adalah kerajaan yang terpengaruh oleh ajaran agama Budha. Sehingga Holing menjadi pusat pendidikan agama Budha. Holing sendiri memiliki seorang pendeta yang terkenal bernama Janabadra. Sebagai pusat pendidikan Budha, menyebabkan seorang pendeta Budha dari Cina, menuntut ilmu di Holing. Pendeta itu bernama Hou ei- Ning ke Holing, ia ke Holing untuk menerjemahkan kitab Hinayana dari bahasa sansekerta ke bahasa cina pada 664-665.

 Ratu Shima, yang memerintah berdasarkan kejujuran mutlak, sangat keras dan  masing-masing orang mempunyai hak dan kewajiban yang tidak berani dilanggar. Sekali waktu, Ratu Shima menguji kesetiaan lingkaran elitnya dengan memutasikan, dan me-Non Job-kan pejabat penting di lingkunganb Istana. Namun puluhan pejabat yang mendapat mutasi ditempat yang tak diharap, maupun yang di-Non Job-kan, tak ada yang mengeluh barang sepatah kata. Semua bersyukur, kebijakan Ratu Shima sebetapapun memojokkannya, dianggap memberi barokah, titah titisan Sang Hyang Maha Wenang.

Tak puas dengan sikap ‘setia’ lingkaran dalamnya, Ratu Shima, sekali lagi menguji kesetiaan wong cilik, pemilik sah Kerajaan Kalingga dengan menghamparkan emas permata, perhiasan yang tak ternilai harganya di perempatan alun-alun dekat Istana tanpa penjagaan sama sekali. Kata Ratu Shima,“Segala macam perhiasan persembahan bagi Dewata agung ini jangan ada yang berani mencuri, siapa berani mencuri akan memanggil bala kutuk bagi Nagari Kalingga, karenanya, siapapun pencuri itu akan dipotong tangannya tanpa ampun!”. Sontak Wong cilik dan lingkungan elit istana, bergetar hatinya, mereka benar-benar takut. Tak ada yang berani menjamah, hingga hari ke 40. Ratu Shima sempat bahagia.

Namun malang tak dapat ditolak. Esok harinya semua perhiasan itu lenyap tanpa bekas. Amarah menggejolak di hati sang penguasa Kalingga. Segera dititahkan para telik sandi mengusut wong cilik yang mungkin saja jadi maling di sekitar lokasi persembahan, sementara di Istana dibentuk Pansus,Panitia Khusus yang menguji para pejabat istana yang mendapat mutasi apes, atau yang Non Job diperiksa tuntas. Namun setelah diperiksa dengan seksama. Saat itu, Tukang istal kuda, takut-takut menghadap, badannya gemetar, matanya jelalatan melihat kiri kanan, amat ketakutan.”Maaf Tuanku Yang Mulia Ratu Agung Shima, perkenankan hamba memberi kesaksian, hamba bersedia mati untuk menyampaikan kebenaran ini. Hamba adalah saksi mata tunggal. Malam itu hamba menyaksikan Putra Mahkota mengambil diam-diam seluruh perhiasan persembahan itu. Maaf…,” sujud sang tukang istal muda belia,mukanya seperti terbenam di lantai istana. “Apa, Putra Mahkota mencuri?!,”Ratu Shima terperanjat bukan kepalang.Mukanya merah padam..”Putraku, jawab dengan jujur, pakai nuranimu, benar apa yang dikatakan wong cilik dari kandang kuda ini?”, tanya sang ibu menahan getar. Sang Putra Mahkota tiada menjawab, ia hanya mengangguk., lalu menunduk teramat malu. Ia mengharap belas kasih sang ibu yang membesarkannya dari kecil.

Sejenak istana teramat sunyi, hanya bunyi nafas yang terdengar, dan daun-daun jati emas yang jatuh luruh ke tanah.”Prajurit, Demi tegaknya hukum, dan menjauhkan nagari Kalingga dari kutukan dewata, potong tangan Putra Mahkotaku, sekaramg juga…,”perintah Sang Ratu Shima dengan muka keras. Seluruh penghuni istana dan rakyat jelata yang berlutut hingga alun-alun merintih memohon ampun, namun Sang Ratu tiada bergeming dari keputusannya. Hukuman tetap dilaksankana. Hal itu dituliskan dengan jelas di Prasasti Kalingga, yang masih bisa dilihat hingga kini.

  1. 4.   KERAJAAN  MELAYU JAMBI                                                                                                  Kerajaan Melayu Jambi adalah kerajaan Melayu yang berpusat di Jambi.                                     Bukti kuat menyebarnya agama Buddha ke kerajaan Melayu Kuno dan Sriwijaya adalah kisah perjalanan pendeta Buddha I-Tsing. Pendeta asal China tersebut dalam pelayarannya dari Kanton, China, menuju Nagapattam, India, tahun 671/672 Masehi, menjadikan Melayu sebagai tempat persinggahan yang sangat penting.

I-Tsing menyinggahi Mo-Lo-Yeu (Kini Melayu) selama dua bulan, sebelum menuju India. Ia bahkan khusus belajar bahasa Sanskerta selama enam bulan demi kegiatan misionarisnya. I-Tsing kembali menyinggahi Mo-Lo-Yeu, dalam perjalanan pulangnya ke China.

Dari sejumlah kabar yang dibawa pendatang asal China, Persia, dan Arab, diketahui pula kerajaan Sriwijaya yang mengalahkan Melayu Kuno pada abad ke-7 Masehi, juga merupakan pusat pembelajaran Agama Buddha. Kerajaan ini sebuah negara maju, berhubungan dagang dengan China, India, dan pulau pulau di Asia Tenggara.

Melayu sendiri sempat tenggelam setelah dikalahkan Sriwijaya, kemudian bangkit kembali dengan diawali serangan Rajendra Cola dari India kepada Sriwijaya tahun 1025. Berita China menyebutkan pada tahun 1079 dan 1082, ibu kota Sriwijaya pindah dari Palembang ke Jambi, dan utusan asal Jambi dikirim ke China di tahun 1079 dan 1088 (Kozok 2006;17).

Menurut Ninie Susanti, arkeolog dari Universitas Indonesia, ada sejumlah prasasti ditemukan dengan pahatan di batu, logam, dan di belakang arca. Bentuknya dapat berupa angka tahun, kata-kata mantra Buddha, dan prasasti pendek. Prasasti-prasasti yang panjang dan memuat data yang lebih jelas, dikeluarkan setelah abad 13-14 Masehi. Ini merupakan masa puncak kejayaan kerajaan Melayu Kuno.

Menelusuri kanal menuju Situs Muaro Jambi, Kecamatan Marosebo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, kita akan dapat kembali mengenang masa berkembangnya Buddha di sana. Sayang, kanal tersebut telah kering dan dipenuhi tanaman liar, yang diselingi permukiman penduduk.

  1. 5.        KERAJAAN DHAMASRAYA

Kerajaan Malayu adalah nama sebuah kerajaan yang pernah ada di Pulau Sumatra. Pada umumnya, kerajaan ini dibedakan atas dua periode, yaitu Kerajaan Malayu Tua pada abad ke-7 yang berpusat di Minanga Tamwa, dan Kerajaan Malayu Muda pada abad ke-13 yang berpusat di Dharmasraya.

Berdasarkan letak ibu kotanya, Kerajaan Malayu Tua atau Malayu Kuno sering pula disebut dengan nama Kerajaan Malayu Jambi, sedangkan Kerajaan Malayu Muda sering pula disebut dengan nama Kerajaan Dharmasraya.

Kerajaan ini berdiri setelah Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang mengalami kemunduran. Maka pada kesempatan ini wilayah Jambi yang tadinya merupakan daerah kekuasan Sriwijaya, melepaskan diri dan membentuk suatu kerajaan baru.

Setelah Kerajaan Sriwijaya musnah di tahun 1025 karena serangan Kerajaan Chola dari India, banyak bangsawan Sriwijaya yang melarikan diri ke pedalaman, terutama ke hulu sungai Batang Hari. Mereka kemudian bergabung dengan Kerajaan Melayu yang sudah lebih dulu ada di daerah tersebut, dan sebelumnya merupakan daerah taklukan Kerajaan Sriwijaya.

Pada tahun 1088, Kerajaan Melayu Muda, menaklukan Sriwijaya. Situasi jadi berbalik dimana daerah taklukannya adalah Kerajaan Sriwijaya. Pada masa itu Kerajaan Melayu Muda, dikenal sebagai Kerajaan Dharmasraya. Lokasinya terletak di selatan Kabupaten Sawah Lunto, Sumatera Barat, dan di utara Jambi.

Pada tahun 1275 raja Kerajaan Singhasari di Pulau Jawa yang bernama Kertanagara memutuskan untuk menguasai lalu lintas perdagangan Selat Malaka. Tujuan utamanya ialah untuk membendung pengaruh kekuasaan Khubilai Khan penguasa Dinasti Yuan atau bangsa Mongol.

Menurut Nagarakretagama, rencana tersebut semula hendak dijalankan secara damai. Akan tetapi, raja Malayu menolak hal itu, sehingga Kertanagara terpaksa mengirim pasukan untuk menyerang Sumatra. Serangan tersebut terkenal dengan sebutan Ekspedisi Pamalayu yang dipimpin oleh Kebo Anabrang sebagai komandan.

Pasukan Kebo Anabrang mendarat dan merebut pelabuhan Malayu di Jambi. Mereka kemudian merebut daerah penghasil lada di Kuntu–Kampar. Dengan demikian, kehidupan ekonomi Kerajaan Malayu berhasil dilumpuhkan. Yang terakhir, Kebo Anabrang berhasil mengalahkan ibu kota Malayu, yaitu Dharmasraya.

 

Tidak diketahui dengan pasti kapan istana Dharmasraya jatuh ke tangan pasukan Singhasari. Prasasti Padangroco tahun 1286 hanya menyebutkan tentang pengiriman arca Amoghapasa sebagai hadiah Singhasari untuk ditempatkan di Dharmasraya. Dalam prasasti itu, Tribhuwanaraja bergelar maharaja, sedangkan Kertanagara bergelar maharajadhiraja, sehingga terbukti kalau saat itu Sumatra telah menjadi bawahan Jawa.

Hanya ada sedikit catatan sejarah mengenai Dharmasraya ini. Diantaranya yang cukup terkenal adalah rajanya yang bernama Shri Tribhuana Raja Mauliwarmadhewa (1270-1297) yang menikah dengan Puti Reno Mandi. Sang raja dan permaisuri memiliki dua putri yang cantik jelita, yaitu Dara Jingga dan Dara Petak

a.    Dara Jingga

Di tahun 1288, Kerajaan Dharmasraya, termasuk Kerajaan Sriwijaya, menjadi taklukan Kerajaan Singhasari di era Raja Kertanegara, dengan mengirimkan Senopati Mahisa/Kebo/Lembu Anabrang, dalam ekspedisi PAMALAYU 1 dan 2. Sebagai tanda persahabatan, Dara Jingga menikah dengan Senopati dari Kerajaan Singasari tersebut. Mereka memiliki putra yang bernama Adityawarman, yang di kemudian hari mendirikan Kerajaan Pagar Ruyung, dan sekaligus menjadi penerus kakeknya, Mauliwarmadhewa sebagai penguasa Kerajaan Dharmasraya berikut jajahannya, termasuk eks Kerajaan Sriwijaya di Palembang.

b.   Dara Petak

Di tahun 1293, Mahisa/Kebo/Lembu Anabrang beserta Dara Jingga dan anaknya, Adityawarman, kembali ke Pulau Jawa. Dara Petak ikut dalam rombongan tersebut. Setelah tiba di Pulau Jawa ternyata Kerajaan Singasari telah musnah, dan sebagai penerusnya adalah Kerajaan Majapahit. Oleh karena itu Dara Petak dipersembahkan kepada Raden Wijaya, yang kemudian memberikan keturunan: Raden Kalagemet yang bergelar Sri Jayanegara setelah menjadi Raja Majapahit kedua.

  1. 6.   KERAJAAN  PAGARUYUNG

 

  1. Berdirinya

Adityawarman ialah seorang putera dari kerajaan Majapahit semasa abad ke-14, telah menakluki kawasan Jambi di Sumatera, dan kemudiannya kawasan Tanah Datar di Sumatera tengah bagi mengawali perdagangan emas di sana. Adityawarman juga telah mendirikan dinasti kerajaan Minangkabau di Pagar Ruyung dan telah menguasai rantau Sumatera tengah antara tahun 1347 dan 1374.

Kerajaan Pagaruyung didirikan oleh seorang peranakan MinangkabauMajapahit yang bernama Adityawarman, pada tahun 1347. Adityawarman adalah putra dari Adwayawarman dan Dara Jingga, putri dari kerajaan Dharmasraya. Ia sebelumnya pernah bersama-sama Mahapatih Gajah Mada berperang menaklukkan Bali dan Palembang.

Sebelum kerajaan ini berdiri, sebenarnya masyarakat di wilayah Minangkabau sudah memiliki sistem politik semacam konfederasi, yang merupakan lembaga musyawarah dari berbagai Nagari dan Luhak. Dilihat dari kontinuitas sejarah, Kerajaan Pagaruyung merupakan semacam perubahan sistem administrasi semata bagi masyarakat setempat (Suku Minang).

Adityawarman pada awalnya bertahta sebagai raja bawahan (uparaja) dari Majapahit dan menundukkan daerah-daerah penting di Sumatera, seperti Kuntu dan Kampar yang merupakan penghasil lada. Namun dari berita Tiongkok diketahui Pagaruyung mengirim utusan ke Tiongkok seperempat abad kemudian. Agaknya Adityawarman berusaha melepaskan diri dari Majapahit.

Kemungkinan Majapahit mengirimkan kembali ekspedisi untuk menumpas Adityawarman. Legenda-legenda Minangkabau mencatat pertempuran dahsyat dengan tentara Majapahit di daerah Padang Sibusuk. Konon daerah tersebut dinamakan demikian karena banyaknya mayat yang bergelimpangan di sana. Menurut legenda tersebut tentara Jawa berhasil dikalahkan.

  1. B.   Pengaruh Hindu                                                                                                                                  Pengaruh Hindu di Pagaruyung berkembang kira-kira pada abad ke-13 dan ke-14, yaitu pada masa pengiriman Ekspedisi Pamalayu oleh Kertanagara, dan pada masa pemerintahan Adityawarman dan putranya Ananggawarman. Kekuasaan mereka diperkirakan cukup kuat mendominasi Pagaruyung dan wilayah Sumatera bagian tengah lainnya. Pada prasasti di arca Amoghapasa bertarikh tahun 1347 Masehi (Sastri 1949) yang ditemukan di Padang Roco, hulu sungai Batang Hari, terdapat puji-pujian kepada raja Sri Udayadityavarma, yang sangat mungkin adalah Adityawarman.

Walaupun demikian, keturunan Adityawarman dan Ananggawarman selanjutnya agaknya bukanlah raja-raja yang kuat. Pemerintahan kemudian digantikan oleh orang Minangkabau sendiri yaitu Rajo Tigo Selo, yang dibantu oleh Basa Ampat Balai. Daerah-daerah Siak, Kampar dan Indragiri kemudian lepas dan ditaklukkan oleh Kesultanan Malaka dan Kesultanan Aceh , dan kemudian menjadi negara-negara merdeka.

           

Patung Adityawarman di Museum Nasional                                Prasasti Adityawarman

C.Pengaruh Islam

    Pengaruh Islam di Pagaruyung berkembang kira-kira pada abad ke-16, yaitu melalui para musafir dan guru agama yang singgah atau datang dari Aceh dan Malaka. Salah satu murid ulama Aceh yang terkenal Syaikh Abdurrauf Singkil (Tengku Syiah Kuala), yaitu Syaikh Burhanuddin Ulakan, adalah ulama yang dianggap pertama-tama menyebarkan agama Islam di Pagaruyung. Pada abad ke-17, Kerajaan Pagaruyung akhirnya berubah menjadi kesultanan Islam. Raja Islam yang pertama dalam tambo adat Minangkabau disebutkan bernama Sultan Alif.

 Dengan masuknya agama Islam, maka aturan adat yang bertentangan dengan ajaran agama Islam mulai dihilangkan dan hal-hal yang pokok dalam adat diganti dengan aturan agama Islam. Papatah adat Minangkabau yang terkenal: “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”, yang artinya adat Minangkabau bersendikan pada agama Islam, sedangkan agama Islam bersendikan pada AI-Quran.

 

            Istana Pagaruyung di Sumatera Barat                     Cap Sultan Alam Bagagarsyah

D.Runtuhnya Pagaruyung

Kekuasaan raja Pagaruyung sudah sangat lemah pada saat-saat menjelang perang Padri, meskipun raja masih tetap dihormati. Daerah-daerah di pesisir barat jatuh ke dalam pengaruh Aceh, sedangkan Inderapura di pesisir selatan praktis menjadi kerajaan merdeka meskipun resminya masih tunduk pada raja Pagaruyung.

Pada awal abad ke-19 pecah konflik antara kaum Padri dan golongan bangsawan (kaum adat). Dalam satu pertemuan antara keluarga kerajaan Pagaruyung dan kaum Padri pecah pertengkaran yang menyebabkan banyak keluarga raja terbunuh. Namun Sultan Muning Alamsyah selamat dan melarikan diri ke Lubukjambi.

Karena terdesak kaum Padri, keluarga kerajaan Pagaruyung meminta bantuan kepada Belanda. Pada tanggal 10 Februari 1821 Sultan Alam Bagagarsyah, yaitu kemenakan dari Sultan Muning Alamsyah, beserta 19 orang pemuka adat lainnya menandatangani perjanjian penyerahan kerajaan Pagaruyung kepada Belanda. Sebagai imbalannya, Belanda akan membantu berperang melawan kaum Padri dan Sultan diangkat menjadi Regent Tanah Datar mewakili pemerintah pusat.

Setelah menyelesaikan Perang Diponegoro di Jawa, Belanda kemudian berusaha menaklukkan kaum Padri dengan kiriman tentara dari Jawa dan Maluku. Namun ambisi kolonial Belanda tampaknya membuat kaum adat dan kaum Padri berusaha melupakan perbedaan mereka dan bersekutu secara rahasia untuk mengusir Belanda. Pada tanggal 2 Mei 1833 Yang Dipertuan Minangkabau Sultan Alam Bagagarsyah, raja terakhir Kerajaan Pagaruyung, ditangkap oleh Letnan Kolonel Elout di Batusangkar atas tuduhan pengkhianatan. Sultan dibuang ke Betawi, dan akhirnya dimakamkan di pekuburan Mangga Dua.

E.Wilayah Pagaruyung

Wilayah pengaruh politik Kerajaan Pagaruyung adalah wilayah tempat hidup, tumbuh, dan berkembangnya kebudayaan Minangkabau. Wilayah ini dapat dilacak dari pernyataan tambo (legenda adat) berbahasa Minang ini:

Dari Sikilang Aia Bangih                                                                                                                       Hingga Taratak Aia Hitam                                                                                                                             Dari Durian Ditakuak Rajo                                                                                                                Hingga Sialang Balantak Basi

Sikilang Aia Bangih adalah batas utara, sekarang di daerah Pasaman Barat, berbatasan dengan Natal, Sumatera Utara. Taratak Aia Hitam adalah daerah Bengkulu. Durian Ditakuak Rajo adalah wilayah di Kabupaten Bungo, Jambi. Yang terakhir, Sialang Balantak Basi adalah wilayah di Rantau Barangin, Kabupaten Kampar, Riau sekarang.

F.  Sistem Perintahan                                                                                                                                                   a. Aparat Pemerintahan                                                                                                                             

          Raja Pagaruyung, yang disebut juga sebagai Raja Alam, melaksanakan tugas-tugas  pemerintahannya dengan bantuan dua orang pembantu utamanya (wakil raja), yaitu Raja Adat yang berkedudukan di Buo, dan Raja Ibadat yang berkedudukan di Sumpur Kudus. Bersama, mereka bertiga disebut Rajo Tigo Selo, yang artinya tiga orang raja yang “bersila” atau bertahta. Raja Adat memutuskan masalah-masalah adat, sedangkan Raja Ibadat mengurus masalah-masalah agama. Bila ada masalah yang tidak selesai barulah dibawa ke Raja Pagaruyung.

Selain kedua raja tadi, Raja Alam dibantu pula oleh Basa Ampek Balai, artinya “orang besar” (menteri-menteri utama) yang berempat. Mereka adalah:

1.  Bandaro (bendahara) atau Tuanku Titah yang berkedudukan di Sungai Tarab.   Kedudukannya hampir sama seperti Perdana Menteri. Bendahara ini dapat dibandingkan dengan jabatan bernama sama di Kesultanan Melaka

2.  Makhudum yang berkedudukan di Sumanik. Ia bertugas memelihara hubungan dengan rantau dan kerajaan lain.

3.  Indomo yang berkedudukan di Saruaso. Ia bertugas memelihara adat-istiadat

     4.  Tuan Gadang yang berkedudukan di Batipuh. Ia bertugas sebagai panglima perang

5.  Namun belakangan pengaruh Islam menempatkan Tuan Kadi yang berkedudukan di Padang Ganting. Ia bertugas menjaga syariah agama masuk menjadi Basa Ampek Balai mengeser kedudukan Tuan Gadang di Batipuh.

 

Sebagai aparat pemerintahan, masing-masing Basa Ampek Balai punya daerah-daerah tertentu di mana mereka berhak menagih upeti sekedarnya. Daerah-daerah ini disebut rantau masing-masing. Bandaro memiliki rantau di Bandar X, rantau Tuan Kadi adalah di VII Koto dekat Sijunjung, Indomo punya rantau di bagian utara Padang sedangkan Makhudum punya rantau di Semenanjung Melayu, di daerah pemukiman orang Minangkabau di sana

b. Pemerintahan Darek dan Rantau                                                                                                                

     Kerajaan Pagaruyung membawahi lebih dari 500 Nagari, yang merupakan satuan wilayah otonom pemerintahan. Nagari-nagari ini merupakan dasar kerajaan, dan mempunyai kewenangan yang luas dalam memerintah. Suatu nagari mempunyai kekayaannya sendiri dan memiliki pengadilan adatnya sendiri. Beberapa buah nagari terkadang membentuk persekutuan. Misalnya Bandar X adalah persekutuan sepuluh nagari di selatan Padang. Kepala persekutuan ini diambil dari kaum penghulu, dan sering diberi gelar raja. Raja kecil ini bertindak sebagai wakil Raja Pagaruyung.

 c. Darek

Di daerah Darek atau daerah inti Kerajaan Pagaruyung (Luhak Nan Tigo, yaitu Luhak Tak nan Data, belakangan menjadi Tanah Data, Luhak Agam dan Luhak Limopuluah), umumnya nagari-nagari ini diperintah oleh para penghulu, yang mengepalai masing-masing suku yang berdiam dalam nagari tersebut. Penghulu dipilih oleh anggota suku, dan warga nagari mengendalikan pemerintahan melalui para penghulu mereka. Keputusan pemerintahan diambil melalui kesepakatan para penghulu, setelah dimusyawarahkan terlebih dahulu. Di daerah inti Kerajaan Pagaruyung ini, Raja Pagaruyung hanya bertindak sebagai penengah meskipun ia tetap dihormati.

d. Rantau

Raja Pagaruyung mengendalikan secara langsung daerah Rantau. Ia boleh membuat peraturan dan memungut pajak di sana. Daerah-daerah rantau ini meliputi Pasaman, Kampar, Rokan, Indragiri dan Batanghari. Wilayah rantau pada awalnya merupakan tempat mencari kehidupan bagi suku Minangkabau.

Masing-masing luhak memiliki wilayah rantaunya sendiri. Penduduk Tanah Datar merantau ke arah barat dan tenggara, penduduk Agam merantau ke arah utara dan barat, sedangkan penduduk Limopuluah Koto merantau ke daerah Riau daratan sekarang, yaitu Rantau Kampar Kiri dan Rantau Kampar Kanan. Selain itu, terdapat daerah perbatasan wilayah luhak dan rantau yang disebut sebagai Ujuang Darek Kapalo Rantau. Di daerah rantau seperti di Pasaman, kekuasaan penghulu ini sering berpindah kepada raja-raja kecil, yang memerintah turun temurun. Di Inderapura, raja mengambil gelar sultan.

Untuk mengetahui tingkat pemahaman Anda terhadap uraian materi tersebut, jawablah latihan-latihan soal berikut ini.

 

 

Latihan  2  

    Lengkapilah kolom di bawah ini yang berhubungan dengan Kerajaan Tarumanegara

 

  1.  Keraja Tarumanegara diperkirakan berlangsung abad … …….yang dibuktikan

dengan  adanya…………..

        2.  Prasasti-prasasti peninggalan Tarumanegara yang ditemukan di daerah Bogor adalah…..

       3.   Prasasti terpenting peninggalan Tarumanegara adalah ……………….
4.   Pendeta Cina yang pernah singgah ke Tarumanegara adalah ……………….
5.   Kerajaan Tarumanegara menganut agama ………………….. 

  1. Kerajaan Holing adalah kerajaan yang terpengaruh ajaran agama ………… ?

7.   Kerajaan Holing sendiri memiliki seorang pendeta yang terkenal bernama ……?

 8.  Kerajaan Holing mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan …………?

 9   I-Tsing pernah mengunjungi kerajaan Holing  yang juga disebut Japa dan diyakini    berlokasi di ……………………… ?

  1. 10.      Jelaskan pendapat anda tetang penegakan hukum di kerajaan Holing ?

 

Untuk memantapkan pemahaman Anda,  mencocokkan.dengan jawaban  berikut ini.

  1.  5 M dibuktikan dengan penggunaan bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa dalam

       prasasti
2.    Prasasti Ciarunteun, prasasti Jambu, prasasti Kebun kopi, prasasti Pasir Awi,

       prasasti  Muara Cianteun.
3.    Prasasti Tugu
4.    Fa-Hien
5.    Hindu Wisnu

 

 

7. KERAJAAN SRIWIJAYA

Sriwijaya adalah nama kerajaan yang tentu sudah tidak asing bagi Anda, karena  Sriwijaya adalah salah satu kerajaan maritim terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara pada abad 7 – 15 M.

Jika Anda ingin mengetahui perkembangan Sriwijaya hingga mencapai puncak kebesarannya sebagai kerajaan Maritim, maka Anda harus mengetahui terlebih dahulu sumber-sumber sejarah yang membuktikan keberadaan kerajaan tersebut.

Sumber-sumber sejarah kerajaan Sriwijaya selain berasal dari dalam juga berasal dari luar seperti dari Cina, India, Arab, Persia. 

  1. Sumber-sumber dari dalam negeri
    Sumber dari dalam negeri berupa prasasti yang berjumlah 6 buah yang menggunakan bahasa Melayu Kuno dan huruf Pallawa, serta telah menggunakan angka tahun Saka.     Untuk mengetahui keberadaan prasasti tersebut, simaklah uraian materi berikut ini!

 

 

  1. Prasasti Kedukan Bukit ditemukan di Kedukan Bukit, di tepi sungai Talang dekat Palembang, berangka tahun 605 Saka atau 683 M. Isi prasasti tersebut menceritakan perjalanan suci/Sidayatra yang dilakukan Dapunta Hyang, berangkat dari Minangatamwan dengan membawa tentara     sebanyak 20.000 orang. Dari perjalanan tersebut berhasil menaklukkan beberapa daerah.

 

 

 

 

 

 

 

  1. Prasasti Talang Tuo ditemukan di sebelah barat kota Palembang berangka tahun 606 Saka / 684 M. Prasasti ini menceritakan pembuatan Taman Sriksetra untuk kemakmuran semua makhluk dan terdapat doa-doa yang bersifat Budha Mahayana

 

  1. Prasati Nalanda abad ke-9 Masehi menyebutkan, Raja
    Balaputradewa dari Swarnadipa (Sriwijaya) membuat sebuah biara Cudamaniwarna di kota Nagipattana. India tahun 1046
  2. Prasasti Kota Kapur ditemukan di Kota Kapur Pulau Bangka berangka tahun 686 M

5    Prasasti Telaga Batu ditemukan di Telaga Batu dekat Palembang berangka tahun 683 M

  1. Prasasti Palas Pasemah ditemukan di Lampung Selatan tidak berangka tahun.
  2. Prasasti Karang Berahi ditemukan di Jambi tidak berangka tahun
    1. Prasasti Ligor ditemukan di Semenanjung Melayu berangka tahun 775 M yang menjelaskan tentang pendirian sebuah pangkalan di Semenanjung Melayu, daerah Ligor Malaysia.

 

Prasasti Telaga Batu, Kota Kapur, Karang bukit, dan Palas Pasemah menjelaskan  isi yang sama yaitu berupa kutukan terhadap siapa saja yang tidak tunduk kepada raja Sriwijaya.

Dari penjelasan tentang prasasti-prasasti tersebut, apakah Anda dapat memahami keberadaan kerajaan Sriwijaya? Untuk menambah lagi pemahaman Anda simaklah uraian materi tentang sumber-sumber sejarah Sriwijaya yang berasal dari luar negeri baik yang berupa prasasti maupun berita Cina dan Arab.

   B. Sumber Berita Asing
Di samping prasasti-prasasti, keberadaan Sriwijaya juga diperkuat dengan adanya   beritaberita Cina maupun berita Arab.

     1.  Berita Cina, diperoleh dari I-Tshing seorang pendeta Cina yang sering datang  ke Sriwijaya sejak tahun 672 M, yang menceritakan bahwa di Sriwijaya terdapat 1000 orang pendeta yang menguasai agama seperti di India dan di samping itu juga, berita dari dinasti Sung yang menceritakan tentang pengiriman utusan dari Sriwijaya tahun 971 – 992 M.Nama kerajaan Sriwijaya dalam berita Cina tersebut, disebut dengan Shih-lo-fo-shih atau Fo-shih.

  1. Berita Arab Sriwijaya disebut dengan Zabag/Zabay atau dengan sebutan  Sribuza. Dari berita-berita Arab dijelaskan tentang kekuasaan dan kebesaran serta kekayaan Sriwijaya.

 

Demikianlah bukti-bukti tentang sumber dari luar negeri yang menjelaskan keberadaan Sriwijaya, sehingga melalui sumber-sumber tersebut dapat diketahui perkembangan Sriwijaya dalam berbagai aspek kehidupan.

Untuk mengetahui lebih jelas perkembangan Sriwijaya dalam aspek-aspek kehidupan tersebut, maka simak uraian materi berikut ini.

 

C. Kehidupan Politik
Dalam kehidupan politik. Dapat diketahui bahwa raja pertama Sriwijaya adalah Dapunta Hyang Sri Jayanaga, dengan pusat kerajaannya ada 2 pendapat yaitu pendapat pertama yang menyebutkan pusat Sriwijaya di Palembang karena daerah tersebut banyak ditemukan prasasti Sriwijaya dan adanya sungai Musi yang strategis untuk perdagangan.

Sedangkan pendapat kedua letak Sriwijaya di Minangatamwan yaitu daerah pertemuan sungai Kampar Kiri dan Kampar Kanan yang diperkirakan daerah Binaga yaitu terletak di Jambi yang juga strategis untuk perdagangan.

Dari dua pendapat tersebut, maka oleh ahli menyimpulkan bahwa pada mulanya Sriwijaya berpusat di Palembang. Kemudian dipindahkan ke Minangatamwan.

Untuk selanjutnya Sriwijaya mampu mengembangkan kerajaannya melalui keberhasilan politik ekspansi/perluasan wilayah ke daerah-daerah yang sangat penting artinya untuk perdagangan. Hal ini sesuai dengan prasasti yang ditemukan Lampung, Bangka, dan Ligor. Bahkan melalui benteng I-tshing bahwa Kedah di pulau Penang juga dikuasai Sriwijaya.

Dengan demikian Sriwijaya bukan lagi sebagai negara senusa atau satu pulau, tetapi sudah merupakan negara antar nusa karena penguasaannya atas beberapa pulau. Bahkan ada yang berpendapat Sriwijaya adalah negara kesatuan pertama. Karena kekuasaannya luas dan berperan sebagai negara besar di Asia Tenggara (M.Yamin).

Untuk memperjelas pemahaman Anda tentang daerah kekuasaan Sriwijaya, silahkan Anda simak gambar peta kekuasaan Sriwijaya pada gamabar 9 berikut ini.

 

 

                    

                                            Gambar  Peta Kekuasaan Sriwijaya

Setelah Anda menyimak gambar peta kekuasaan Sriwijaya tersebut maka timbul pertanyaan yaitu faktor apa yang menjadikan Sriwijaya dapat berkembang sebagai kerajaan yang besar? Tuliskan jawaban Anda berikut ini!

Faktor-faktornya adalah ………………………………………………………………….

Anda menjawab, maka lanjutkan Anda menyimak uraian materi selanjutnya, sehingga Anda sekaligus dapat mencocokan kebenaran jawaban Anda.

 D. Kehidupan Ekonomi
Kerajaan Sriwijaya memiliki letak yang strategis di jalur pelayaran dan perdagangan Internasional Asia Tenggara. Dengan letak yang strategis tersebut maka Sriwijaya berkembang menjadi pusat perdagangan dan menjadi pelabuhan Transito sehingga dapat menimbun barang dari dalam maupun luar.

Dengan demikian kedudukan Sriwijaya dalam perdagangan internasional sangat baik. Hal ini juga didukung oleh pemerintahan raja yang cakap dan bijaksana seperti Balaputradewa. Pada masanya Sriwijaya memiliki armada laut yang kuat yang mampu menjamin keamanan di jalurjalur pelayaran yang menuju Sriwijaya, sehingga banyak pedagang dari luar yang singgah dan berdagang di wilayah kekuasaan Sriwijaya tersebut.

Dengan adanya pedagang-pedagang dari luar yang singgah maka penghasilan Sriwijaya meningkat dengan pesat. Peningkatan diperoleh dari pembayaran upeti, pajak maupun keuntungan dari hasil perdagangan dengan demikian Sriwijaya berkembang menjadi kerajaan yang besar dan makmur.

Faktor lain yang menjadikan Sriwijaya menjadi kerajaan besar adalah kehidupan sosial masyarakatnya meningkat dengan pesat terutama dalam bidang pendidikan dan hasilnya Sriwijaya terbukti menjadi pusat pendidikan dan penyebaran agama Budha di Asia Tenggara. Hal ini sesuai dengan berita I-Tshing pada abad ke 8 bahwa di Sriwijaya terdapat 1000 orang pendeta yang belajar agama Budha di bawah bimbingan pendeta Budha terkenal yaitu Sakyakirti.

Di samping itu juga pemuda-pemuda Sriwijaya juga mempelajari agama Budha dan ilmu lainnya di India, hal ini tertera dalam prasasti Nalanda. Dari prasasti ini diketahui pula raja Sriwijaya yaitu Balaputra Dewa mempunyai hubungan erat dengan raja Dewa Paladewa (India). Raja ini memberi sebidang tanah untuk asrama pelajar dari Sriwijaya. Sebagai penganut agama yang taat maka raja Sriwijaya juga memperhatikan kelestarian lingkungannya (seperti yang tertera dalam Prasasti Talang Tuo) dengan tujuan untuk meningkatkan kemakmuran rakyatnya. Dengan demikian kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat Sriwijaya sangat baik dan makmur, dalam hal ini tentunya juga diikuti oleh kemajuan dalam bidang kebudayaan. Kemajuan dalam bidang budaya sampai sekarang dapat diketahui melalui peninggalanpeninggalan suci seperti stupa, candi atau patung/arca Budha seperti ditemukan di Jambi, Muaratakus, dan Gunung Tua (Padang Lawas) serta di Bukit Siguntang (Palembang).

      Untuk lebih menambah pemahaman Anda, silahkan Anda simak peninggalan Sriwijaya  tersebut pada gambar-gambar berikut

 

                                                Candi Gumpung, Muaro Jambi.

Candi Muaro Jambi merupakan bukti bahwa kerajaan Melayu pernah beribukota di Muaro Jambi. Namun sayang, kondisinya memprihatinkan. Padahal Candi Muaro Jambi adalah situs purbakala terluas di Indonesia, dengan nilai teramat penting bagi ilmu pengetahuan, sejarah dan budaya. Kilaunya justru tersembunyi dari peradaban

Apakah Anda pernah melihat situs peninggalan Sriwijaya tersebut? Gambar-gambar tersebut membuktikan Sriwijaya merupakan kerajaan Budha.

Situs Percandian Muaro Jambi terletak di Desa Muaro Jambi, Kecamatan Muaro Sebo, Kabupaten Muara Jambi. Jaraknya dari ibukota provinsi Jambi sekitar 40 kilometer. Kompleks ini tak jauh dari daerah aliran sungai Batanghari. Untuk sampai ke sana, bisa menempuh jalur darat atau pakai kapal cepat lewat sungai.

Ini adalah kawasan ibadat Budha dengan luas sampai 12 kilometer persegi, terluas di Nusantara. Pertama kali ditemukan oleh tentara Inggris bernama SC Crooke pada 1820, ketika ditugasi memetakan Sungai Batanghari. Menurut Bujang Dasril, Petugas Museum Candi Muaro Jambi sebagai situs purbakala paling luas, Muaro Jambi memilih 80-an candi, sembilan candi besar.

 Candi Muara Takus
Candi ini merupakan salah-satu peninggalan sejarah yang sangat penting di bumi Lancang Kuning. Candi yang terletak di Kecamatan XIII Koto Kampar yang berjarak sekitar 118 km dari Pekanbaru ini terbuat dari batu sungai, pasir dan batu bata. Candi ini dibangun antara abad ke 4, ke 7, ke 9. Sampai saat ini, belum ada satu orang pun pakar sejarah yang memastikan kapan sesungguhnya candi ini dibangun.

Candi ini berukuran 7 x 7 meter. Komplek candi ini dikelilingi oleh tembok yang berukuran 74 x 74 meter, dan di luarnya terdapat tembok tanah yang berukuran 1,5 x 1,5 km. Di dalam komplek, ditemui pula bangunan Candi Tua, Candi Bungsu, Mahligai Setupa, dan Palangka. Candi yang mirip dengan Candi Acoka di India ini, merupakan peninggalan sejarah silam yang membuktikan bahwa di daerah ini dulunya pernah berkembang agama Budha yang datangnya dari India. Selain itu, walaupun para pakar sejarah belum sepakat, akan tetapi sebagian mereka mengatakan bahwa Candi ini merupakan sebuah bukti nyata kalau Kerajaan Sriwijaya pernah bertapak di sini.

 “Menurut sejarah disini (Muara Takus) dulunya adalah pusat kerajaan Sriwijaya yang sangat terkenal kebesarannnya. Disini dahulu terdapat seorang guru besar agama Budha dan banyak para Biksu dari seluruh dunia datang belajar kesini. Guru besar tersebut bernama Lama Salempa Suvarna Dvipa. Salah seorang muridnya yang terkenal dari India dan mengajarkan agama Budha di Tibet dan Tiongkok namanya Arnkara Shrijnan.t’ (Penyebar agama Budha terkenal di Tibet). Shrijnana pernah belajar agama disini selama 12 tahun (Muara Takus, 7-1-2004).

Selanjutnya menurut para tokoh Budha tersebut disinilah dulunya hidup seorang guru besar yang berjasa mengembangkan Budha ke seluruh dunia dan arahnya berpengaruh sekarang ke seluruh dunia seperti India, Birma, Tibet, Tiongkok, Thailand, Asia Tenggara, Autralia dan lain-lainnya. Setelah terjadi kekacauan di negara masing—masing tentang ajaran agama Budha, maka seorang guru dari Sriwijaya berhasil menyatukan sehingga ajarannya dianut dan berkembang keseluruh dunia. Sampai sekarang nama Larna Salempa Survana Dvipa terkenal kalangan umat Budha di dunia. Kebesaran nama beliau juga dijelaskan dalam buku umat Budha seperti: Advice to Spiritual frund. Blue Annals, dll.

                                                 Kompleks Candi Muaro Takus

Kebesaran dan kejayaan Sriwijaya akhirnya mengalami kemunduran dan keruntuhan akibat serangan dari kerajaan lain.

Serangan pertama dari Raja Dharmawangsa dari Medang, Jatim tahun 990 M. pada waktu itu raja Sriwijaya adalah Sri Sudarmaniwarmadewa. Walaupun serangan tersebut gagal tetapi dapat melemahkan Sriwijaya.

Serangan berikutnya datang dari kerajaan Colamandala (India Selatan) yang terjadi pada masa pemerintahan Sri Sangramawijayatunggawarman pada tahun 1023 dan diulang lagi tahun 1030 dan raja Sriwijaya ditawan.

Tahun 1068 Raja Wirarajendra dari Colamandala kembali menyerang Sriwijaya tetapi Sriwijaya tidak runtuh bahkan pada abad 13 Sriwijaya diberitakan muncul kembali dan cukup kuat sesuai dengan berita Cina.

Keruntuhan Sriwijaya terjadi pada tahun 1477 ketika Majapahit mengirimkan tentaranya untuk menaklukan Sumatra termasuk Sriwijaya.

Demikianlah uraian materi tentang kerajaan Sriwijaya, untuk menguji tingkat pemahaman Anda, jawablah latihan soal berikut ini di buku tulis atau di kertas lain

 

 

Latihan  3

1. Sebutkan sumber-sumber sejarah kerajaan Sriwijaya!

  2. Berilah penjelasan terhadap tikoh-tokoh berikut ini!

 

  1. Setelah Anda menyimak gambar peta kekuasaan Sriwijaya tersebut maka timbul pertanyaan yaitu faktor apa yang menjadikan Sriwijaya dapat berkembang sebagai kerajaan yang besar?

 

 

Tuliskan jawaban Anda pada kolom berikut ini!

 Faktor-faktornya adalah …………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

4. Perhatkan gambar berikut ini dan beri penjelasan

No Gambar Penjelasan
a Candi Muara Takus

…………………………………………………………….……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

b Candi Muaro Jambi

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

 

 5. Sebutkan Faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran dan keruntuhan Sriwijaya!    

Bagaimana dengan jawaban Anda? Untuk memantapkan penguasaan Anda sesuaikan jawaban Anda dengan jawaban berikut ini

 

 

 

 

 

 

Kunci Jawaban

No 1   

2   a.     Dapunta Hyang adalah raja pertama atau pendiri Sriwijaya.

     b.    I-Tshing adalah pendeta Budha Cina yang sering datang ke Sriwijaya untuk  

            menterjemahkan kitab suci agama Budha.

     c.    Sakyakirti adalah pendeta Budha sriwijaya yang membimbing pendeta Cina.

     d.    Balaputradewa adalah raja Sriwijaya yang terbesar. 

 

3. a.      Serangan dari kerajaan Medang, Jatim.

    b.     Serangan dari Colamandala 1023.

    c.     Serangan dari Colamandala 1030.

    d.     Serangan dari Colamandala 1068.

    e.     Serangan dari Majapahit 1477.

 

Bagaimana dengan hasil jawaban Anda? cukup memuaskan bukan? selanjutnya Anda dapat melanjutkan menyimak uraian materi berikutnya.

 

 

 

 

8. KERAJAAN MATARAM KUNO

Kerajaan Mataram Kuno (abad ke-8) adalah kerajaan Hindu di Jawa (Jawa Tengah dan Jawa Timur). Berdasarkan catatan yang terdapat pada prasassti yang ditemukan, Kerajaan Mataram Kuno bermula sejak pemerintahan Raja Sanjaya yang bergelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Ia memerintah Kerajaan Mataram Kuno hingga 732M

Kerajaan Mataram Kuno diperkirakan berdiri sejak awal abad ke-8. Pada awal berdirinya, kerjaan ini berpusat di Jawa Tengah. Akan tetapi, pada abad ke-10 pusat Kerajaan Mataram Kuno pindah ke Jawa Timur. Kerajaan Mataram Kuno mempunyai dua latar belakang keagaman yang berbedaa, yakni agama Hindu dan Buddha.

A. Kerajaan Mataram di Jawa Tengah

Kerajaan Mataram Kuno yang berpusat di Jawa Tengah terdiri dari dua wangsa (keluarga), yaitu wangsa Sanjaya dan Sailendraa. Pendiri wangsa Sanjaya adalah Raja Sanjaya. Ia menggantikan raja sebelumnya, yakni Raja Sanna. Konon, Raja Sanjaya telah menyelamatkan Kerajaan Mataram Kuno dari kehancuran setelah Raja Sanna wafat.

Setelah Raha Sanjaya wafat, kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno dipegang oleh Dapunta Sailendra, pendiri wangsa Sailendra. Para raja keturunan wangsa Sanjaya seperti Sri Maharaja Rakai Panangkaran, Sri Maharaja Rakai Panunggalan, Sri Maharaja Rakai Warak, dan Sri Maharaja Rakai Garung merupakan raja bawahan dari wangsa Sailendra. Oleh Karena adanya perlawanan yang dilakukan oleh keturunan Raja Sanjaya, Samaratungga (raja wangsa Sailendra) menyerahkan anak perempuannya, Pramodawarddhani, untuk dikawinkan dengan anak Rakai Patapan, yaitu Rakai Pikatan (wangsa Sanjaya).

Rakai Pikatan kemudian menduduki takhta Kerajaan Mataram Kuno. Melihat keadaan ini, adik Pramodawarddhani, yaitu Balaputeradewa, mengadakan perlawanan namun kalah dalam peperangan. Balaputeradewa kemudian melarikan diri ke P. SUmatra dan menjadi raja Sriwijaya.

Pada masa Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Dharmodaya Mahasambu berkuasa, terjadi perebutan kekuasaan di antara para pangeran Kerajaan Mataram Kuno. Ketika Sri Maharaja Rakai Sumba Dyah Wawa berkuasa, kerajaan ini berakhir dengan tiba-tiba. Diduga kehancuran kerajaan ini akibat bencana alam karena letusan G. Merapi, Magelang, Jawa Tengah.

  1. Kerajaan Mataram di Jawa Timur

Setelah terjadinya bencana alam yang dianggap sebagai peristiwa pralaya, maka sesuai dengan landasan kosmologis harus dibangun kerajaan baru dengan wangsa yang baru pula. Pada abad ke-10, cucu Sri Maharaja Daksa, Mpu Sindok, membangun kembali kerajaan ini di Watugaluh (wilayah antara G. Semeru dan G. Wilis), Jawa Timur. Mpu Sindok naik takhta kerajaan pada 929 dan berkuasa hingga 948. Kerajaan yang didirikan Mpu SIndok ini tetap bernama Mataram. Dengan demikian Mpu Sindok dianggap sebagai cikal bakal wangsa baru, yaitu wangsa Isana. Perpindahan kerajaan ke Jawa Timur tidak disertai dengan penaklukan karena sejak masa Dyah Balitung, kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno telah meluass hingga ke Jawa Timur. Setelah masa pemerintahan Mpu Sindok terdapat masa gelap sampai masa pemerintahan Dharmawangsa Airlangga (1020). Sampai pada masa ini Kerajaan Mataram Kuno masih menjadi saatu kerajaan yang utuh. Akan tetapi, untuk menghindari perang saudara, Airlangga membagi kerajaan menjadi dua, yaitu Kerajaan Pangjalu dan Janggala

1. Dinasti Sanjaya
Bukti-bukti berdirinya Dinasti Sanjaya diketahui melalui Prasasti :        

  1. Prasasti Canggal (732 M)
    Prasasti ini dibuat pada masa pemerintahan Raja Sanjaya yang berhubungan dengan pendirian sebuah Lingga. Lingga tersebut adalah Lambang dari Dewa Siwa. Sehingga agama yang dianutnya adalah agama Hindu beraliran Siwa
  2. Prasasti Balitung (907 M)
    Prasasti ini adalah prasasti tembaga yang dikeluarkan oleh Raja Diah Balitung. Dalam prasasti itu disebutkan raja yang pernah memerintah pada Kerajaan Dinasti Sanjaya.
  3. Kitab Carita Parahyangan
    Dalam hal ini diceritakan tentang hal ikhwal raja-raja Sanjaya


Kerajaan Mataram diperintah oleh raja-raja keturunan dari Dinasti Sanjaya. 

    Raja-raja yang pernah berkuasa di kerajaan Mataram diantaranya:

  1. Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya
    Menurut Prasasti Canggal (732 M), Raja Sanjaya adalah pendiri Kerajaan Mataram dari Dinasti Sanjaya. Raja Sanjaya memerintah dengan sangat adil dan bijaksana sehingga kehidupan rakyatnya terjamin aman dan tentram.
    Raja Sanjaya meninggal kira-kira pertengahan abad ke-8 M. Ia digantikan oleh Rakai Panangkaran. Berturut-turut penggantian Rakai Panangkaran adalah Rakai Warak dan Rakai Garung

 

  1. Sri Maharaja Rakai Pikatan
    Setelah Rakai Garung meninggal, Rakai Pikatan naik tahta. Untuk melaksanakan cita-citanya menguasai seluruh wilayah Jawa Tengah, Rakai Pikatan harus berhadapan dengan Kerajaan Syailendra yang pada masa itu diperintah oleh Raja Balaputra Dewa. Karena kekuatan Kerajaan Syailendra melebihi kekuatan Kerajaan Mataram, maka jalan yang ditempuh Rakai Pikatan adalah meminang Putri dari Kerajaan Syailendra yang bernama Pramodhawardani. Seharusnya Pramodhawardani berkuasa atas Kerajaan Syailendra, tetapi ia menyerahkan tahtanya kepada Balaputra Dewa.
    Rakai Pikatan mendesak Pramodhawardani agar mau menarik tahtanya kembali dari Balaputra Dewa, sehingga meletuslah perang saudara. Dalam perang itu, Raja Balaputra Dewa dapat dikalahkan dan lari ke Kerajaan Sriwijaya. Dengan demikian, cita-cita Rakai Pikatan untuk menguasai wilayah Jawa Tengah tercapai.

 

2.   Dinasti Syailendra

 Pada pertengahan abad ke-8 M di Jawa Tengah bagian selatan, yaitu di Bagelan dan Yogyakarta, memerintah seorang raja dari Dinasti Syailendra. Pada  masa pemerintahan Raja Balaputra Dewa, diketahui bahwa pusat kedudukan  Kerajaan Syailendra terletak di daerah pegunungan di sebelah selatan    berdasarkan bukti ditemukannya peninggalan istana Ratu Boko.

Kehidupan sosial Dinasti Syailendra, ditafsirkan sudah teratur. Hal ini dilihat melalui cara pembuatan candi yang menggunakan tenaga rakyat secara bergotong-royong. Di samping itu, pembuatan candi ini menunjukkan betapa rakyat taat dan mengkultuskan rajanya.
Dinasti Syailendra banyak meninggalkan bangunan-bangunan candi yang sangat megah dan besar nilainya, baik dari segi kebudayaan, kehidupan masyarakat dan perkembangan kerajaan. Candi-candi yang terkenal seperti telah disebutkan di atas adalah Candi Mendut, Pawon, Borobudur, Kalasan, Sari, dan Sewu.
Nama Borobudur diperkirakan berasal dari nama Bhumi Sambharabudhara. Bhumi Sambhara berarti bukit atau gunung dan Budhara berarti raja. Jadi arti dari nama tersebut adalah Raja Gunung, yang sama artinya dengan Syailendra. Candi Borobudur memiliki suatu sistem yang terbagi dalam tiga bagian yaitu Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu.

  Prasasti-prasasti yang berhasil ditemukan diantaranya sebagai berikut:

  1. Prasasti Kalasan (778 M)
    Prasasti ini menyebutkan tentang seorang raja dari Dinasti Syailendra yang berhasil menunjuk Rakai Panangkaran untuk mendirikan sebuah bangunan suci bagi Dewi Tara dan sebuah Bihara untuk para pendeta. Rakai Panangkaran akhirnya menghadiahkan desa Kalasan kepada Sanggha Budha.
  2.   Prasasti Kelurak (782 M) di daerah Prambanan
    Prasasti ini menyebutkan tentang pembuatan arca Manjusri yang merupakan perwujudan Sang Budha, Wisnu, dan Sanggha, yang dapat disamakan dengan Brahma, Wisnu, Siwa. Prasasti itu juga menyebutkan nama raja yang memerintah saat itu yang bernama Raja Indra
  3. Prasasti Ratu Boko (856 M)
    Prasasti ini menyebutkan tentang kekalahan Raja Balaputra Dewa dalam perang saudara melawan kakaknya Pramodhawardani dan selanjutnya melarikan diri ke Sriwijaya.
  4. Prasasti Nalanda (860 M)
    Prasasti ini menyebutkan tentang asal-usul Raja Balaputra Dewa. Disebutkan bahwa Balaputra Dewa adalah putra dari Raja Samarottungga dan cucu dari Raja Indra (Kerajaan Syailendra di Jawa Tengah).
    Di samping prasasti-prasasti tersebut di atas, juga terdapat peninggalan-peninggalan berupa candi-candi Budha seperti Candi Borobudur, Mendut, Pawon, Kalasan, Sari, Sewu, dan candi-candi lainnya yang lebih kecil.

    Pada akhir abad ke-8 M Dinasti Sanjaya terdesak oleh dinasti lain, yaitu Dinasti Syailendra. Peristiwa ini terjadi ketika Dinasti Sanjaya diperintah oleh Rakai Panangkaran. Hal itu dibuktikan melalui Prasasti Kalasan yang meneybutkan bahwa Rakai Panangkaran mendapat perintah dari Raja Wisnu untuk mendirikan Candi Kalasan (Candi Budha).

    Kedudukan raja-raja dari Dinasti Sanjaya telah terdesak oleh Dinasti Syailendra, raja-raja dari Dinasti sanjaya tetap diakui kedudukannya sebagai raja yang terhormat. Berdasarkan prasasti yang telah ditemukan dapat diketahui raja-raja yang pernah memerintah Dinasti Syailendra, di antaranya:

    1. Raja Indra
      Dinasti Syailendra menjalankan politik ekspansi pada masa pemerintahan Raja Indra. Perluasan wilayah ini dtujukan untuk menguasai daerah-daerah di sekitar Selat Malaka. Selanjutnya, yang memperkokoh pengaruh kekuasaan Syailendra terhadap Sriwijaya adalah karena Raja Indra menjalankan perkawinan politik. Raja Indra mengawinkan putranya yang bernama Samarottungga dengan putri Raja Sriwijaya.
    2. Raja Samarottungga
      Pengganti Raja Indra bernama Samarottungga. Pada zaman kekuasaannya dibangun Candi Borobudur. Namun sebelum pembangunan Candi Borobudur selesai, Raja Samarottungga meninggal dan digantikan oleh putranya yang bernama Balaputra Dewa yang merupakan anak dari selir.

 

  1. Peninggalan Candi

    Peninggalan bangunan suci dari Dinasti Sanjaya antara lain ialah Candi Geding Songo, kompleks Candi Dieng, dan kompleks Candi Prambanan yang berlatar belakang Hindu. Sedangakan dari Dinasti Syailendra  antara lain ialah Candi Kalasan, Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Sewu, dan Candi Plaosan yang berlatar belakang agama Buddha.

 

 

Candi-Candi

   

Candi Prambanan

Candi Prambanan bercorak Hindu yang tingginya 47 meter ini dibangun oleh Dinasti Sanjaya di abad 9. Candi ini terdiri atas 3 kompleks. Candi utama terletak di bagian dalam kompleks dan dikelilingi oleh candi-candi kecil yang disebut candi PERWARA. Beberapa dari candi-candi ini merupakan kontribusi dari pemimpin daerah sebagai upeti kepada Raja.

 

Candi Gedong Songo

Candi Gedong Sago adalah nama sebuah komplek      bangunan candi peninggalan budaya Hindu yang terletak di Desa Candi, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Indonesia tepatnya di lereng Gunung Ungaran. Di kompleks candi ini terdapat lima buah candi.

 

 

 

 

 

 

 

 

Candi Dieng,

Di tengah-tengah dataran tinggi Dieng dahulu terdapat tempat pemujaan dan asrama pendidikan Hindu tertua di Indonesia. Sebagai bangunan suci tersebut sampai sekarang dapat kita saksikan dengan adanya candi beserta puing-puing bekas Vihara terdapat 8 buah candi yaitu : Banowati, Arjun. Sembodro, Sri Kandi.Gatot Kaca dan Bima

Candi Sari

Merupakan bangunan peninggalan agama Hindu, berasal dari periode yang agak muda dari jaman kebudayaan Jawa Tengah. Terletak di Kelurahan Sambirejo, Prambanan.

Candi Kalasan

Candi ini dibangun sabagai penghargaan atas perkawinan antara Raja Pancapana dari Dinasti Sanjaya dan permaisuri dari Dinasti Sailendra, Dyah Pramudya Wardhani.

Candi Sambisari

Candi Sambisari merupakan candi Hindu dari abad 10 dan diperkirakan dibangun oleh seorang raja dari wanca Sanjaya, dengan patung Shiva sebagai Mahaguru, menempati bilik utamanya.

Candi Gebang

Merupakan peninggalan agama Hindu dari abad ke–7 dan diperkirakan dibangun juga oleh raja dari wanca Sanjaya.

 

 

Candi Borobudur

Candi Borobudur terkenal sebagai satu dari tujuh keajaiban dunia dan merupakan stupa terbesar di dunia. Borobudur dibangun pada masa kejayaan Dinasti Sailendra. Borobudur berada sekitar 42 km dari Yogyakarta.

 

 

 

 

Candi Sewu

Candi Sewu adalah candi Buddha yang berada di dalam kompleks candi Prambanan (hanya beberapa ratus meter). Candi Sewu (seribu) dibangun pada saat kerajaan Mataram Kuno oleh raja Rakai Panangkaran (746 – 784).

 

 

 

 

 

 

Candi Mendut

Candi Mendut candi yang terletak kurang lebih 3 km sebelum candi borobudur dari arah jogyakarta, candi ini memiliki atap yang berbentuk limas dan didalamnya terdapat patung budha yag diapit oleh dua arca.

 

 

 

Candi Plaosan

Candi Plaosan terletak kira-kira 1 km ke arah timur dari candi Sewu. Candi Budha ini terdiri atas dua candi utama yang terletak berdampingan, masing-masing mempunyai landasan dasar sendiri. Relief ukiran yang terletak di bagian selatan candi menggambarkan tentang laki-laki dan candi yang lain menggambarkan tentang wanita. Keistimewaan lain dari candi ini adalah candi Perwata yang meniru bentuk stupa.

 

 

9. KERAJAAN  KEDIRI

Kerajaan Kediri adalah sebuah kerajaan besar di Jawa Timur yang berdiri pada abad ke-  12. Kerajaan ini merupakan bagian dari Kerajaan Mataram Kuno. Pusat kerajaanya terletak di tepi S. Brantas yang pada masa itu telah menjadi jalur pelayaran yang ramai.

Kerajaan Kediri lahir dari pembagian Kerajaan Mataram oleh Raja Airlangga (1000-1049). Pemecahan ini dilakukan agar tidak terjadi perselisihan di antara anak-anak selirnya. Tidak ada bukti yang jelas bagaimana kerajaan tersebut dipecah dan menjadi beberapa bagian. Dalam babad disebutkan bahwa kerajaan dibagi empat atau lima bagian. Tetapi dalam perkembangannya hanya dua kerajaan yang sering disebut, yaitu Kediri (Pangjalu) dan Jenggala. Samarawijaya sebagai pewaris sah kerajaan mendapat ibukota lama, yaitu Dahanaputra, dan nama kerajaannya diubah menjadi Pangjalu atau dikenal juga sebagai Kerajaan Kediri.

Perkembangan Kerajaan Kediri

Dalam perkembangannya Kerajaan Kediri yang beribukota Daha tumbuh menjadi besar, sedangkan Kerajaan Jenggala semakin tenggelam. Diduga Kerajaan Jenggala ditaklukkan oleh Kediri. Akan tetapi hilangnya jejak Jenggala mungkin juga disebabkan oleh tidak adanya prasasti yang ditinggalkan atau belum ditemukannya prasasti yang ditinggalkan Kerajaan Jenggala. Kejayaan Kediri sempat jatuh ketika Raja Kertajaya (1185-1222) berselisih dengan golongan pendeta. Keadaan ini dimanfaatkan oleh Akuwu Tumapel Tunggul Ametung.

                              Peta Kekuasaan Kediri

Namun kemudian kedudukannya direbut oleh Ken Arok. Diatas bekas Kerajaan Kediri inilah Ken Arok kemudian mendirikan Kerajaan Singasari, dan Kediri berada di bawah kekuasaan Singasari. Ketika Singasari berada di bawah pemerintahan Kertanegara (1268-1292), terjadilah pergolakan di dalam kerajaan. Jayakatwang, raja Kediri yang selama ini tunduk kepada Singasari bergabung dengan Bupati Sumenep (Madura) untuk menjatuhkan Kertanegara. Akhirnya pada tahun 1292 Jayakatwang berhasil mengalahkan Kertanegara dan membangun kembali kejayaan Kerajaan Kediri.

Raja Jayawarsa
Masa pemerintahan Jayawarsa (1104) hanya dapat diketahui melalui Prasasti Sirah Keting. Dari prasasti itu diketahui bahwa Raja Jayawarsa sangat besar perhatiannya kepada rakyatnya dan berupaya meningkatkan kesejahteraan hidup rakyatnya.

Raja Bameswara
Pada masa pemerintahannya, Raja Bameswara (1117-1130) banyak meninggalkan prasasti-prasasti yang ditemukan di daerah Tulungagung dan Kertosono.

Raja Jayabaya
Raja Jayabaya (1135-1157) merupakan raja terkemuka dari Kerjaan Kediri, karena di bawah pemerintahannya Kerajaan Kediri mencapai masa kejayaannya. Kemenangan Kerajaan Kediri dalam perluasan wilayahnya mengilhami pujangga Empu Sedah dan Empu Panuluh untuk menulis Kitab Bharatayuda.

Raja Gandra
Masa pemerintahan Raja Gandra 1181 berhasil diketahui dari Prasasti Jaring, yaitu penggunaan nama hewan dalam kepangkatan seperti nama Gajah, Kebo atau Tikus.

Raja Kameswara
Pada masa pemerintahan Raja Kameswara (1182-1185), seni sastra mengalami perkembangannya yang sangat pesat. Diantaranya Empu Dharmaja mengarang Kitab Smaradhana. Bahkan pada masa pemerintahannya juga dikenal cerita-cerita panji seperti Panji Semirang

Raja Kertajaya
Raja Kertajaya (1190-1222) merupakan raja terakhir dari Kerajaan Kediri. Raja Kertajaya juga lebih dikenal dengan sebutan Dandang Gendis.
Selama pemerintahannya, keadaan Kediri menjadi tidak aman. Kestabilannya kerajaan menurun. Hal ini disebabkan Raja Kertajaya mempunyai maksud mengurangi hak-hak kaum Brahmana. Hal ini ditentang oleh kaum Brahmana.
Kaum Brahmana banyak yang lari dan minta bantuan ke Tumapel yang saat itu diperintah oleh Ken Arok. Raja Kertajaya yang mengetahui bahwa kaum Brahmana banyak yang lari dan minta bantuan ke Tumapel, mempersiapkan pasukkannya untuk menyerang Tumapel. Sementara itu, Ken Arok dengan dukungan kaum Brahmana melakukan serang ke Kerajaan Kediri. Kedua pasukan itu bertemu di dekat Genter (1222 M). Dalam pertempuran itu pasukan Kediri berhasil dihancurkan. Raja Kertajaya berhasil meloloskan diri.

Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan kerajaan Kediri. Akhirnya kerajaan Kediri menjadi daerah bawahan Kerajaan Tumapel. Selanjutnya berdirilah Kerajaan Singasari dengan Ken Arok sebagai raja pertama.

Demikianlah uraian materi tentang kerajaan Kediri, maka untuk mengukur pemahaman Anda, silahkan Anda kerjakan latihan soal berikut ini!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Latihan  4

  1. 1.     Pendiri kerajaan Mataram berdasarkan prasasti Canggal adalah ….
    2. Candi Kalasan dibangun pada masa pemerintahan raja ….
    3. Kerajaan Mataram diperintah oleh dua dinasti yaitu … dan ….
    4. Isi dari prasasti Mantyasih adalah ….
    5. Arca Mantyasih yang dibuat oleh Rya Indra di duga adalah bangunan  candi ….
    6. Penyatuan kerajaan Mataram terjadi pada masa pemerintahan ….
    7. Kerajaan Mataram dipindahkan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur  oleh ….
    8. Silsilah raja Medang Mataram diketahui melalui prasasti ….
    9. Kerajaan Medang Mataram mengalami kehancuran/pralaya pada masa pemerintahan  ……
    10. Raja terakhir dari kerajaan Medang Mataram adalah …. 
  1. Kerajaan Mataram dibagi dua oleh ….
  2.  Isi dari prasasti Banjaran adalah ….
  3.  Berita Cina yang menjelaskan tentang kerajaan Kediri adalah ….
  4.  Kerajaan Kediri mencapai puncak kebesarannya pada masa pemerintahan ….
  5.  Kitab Bharatayudha adalah hasil karya dari ….
  6.  Sebutkan kita .b sastra yang dihasilkan pada masa Kameswara ….
  7. Lancana kerajaan Kediri pada masa Jayabaya adalah ….
  8. Lancana kerajaan Kediri pada masa Kameswara adalah ….
  9. Kitab yang dibuat oleh Jayabaya berjudul ….
  10. Sebab runtuhnya kerajaan Kadiri adalah ….

 

 

 

 

 

 

 

Kunci Jawaban Latihan 4

 Bagaimana dengan jawaban Anda? Untuk mengetahui kebenarannya dapat Anda cocokkan dengan jawaban berikut ini.

1. Raja Sanjaya                                                      11. Mpu Bharada
2. Raja Panangkaran                                               12. Kemenangan Panalu atas Jenggala
3. Dinasti Sanjaya dan Syaelendra                          13. Ling-wai-tai-ta dan Chu-fan-chi
4. Silsilah raja-raja Mataram sebelum Balitung   14. Jayabaya
5. Candi Sewu                                                       15. Mpu Sadah dan Mpu Panaluh
6. Rakai Pikatan                                                     17. Narasingha
7. Mpu Sendok                                                      18. Candrakapala
8. Prasasti Calcuta                                                 19. Kitab Jongko Yoyoboyo
9. Raja Dharmawangsa                                          20. Diserang Ken Arok tahun 1222
10. Raja Airlangga

 16. Kitab Simaradahana karya Mpu Dharmaja.
Kitab Lubdaka dan Wertasancaya karya Mpu Tan Akung.
Kitab Kresnayana karya Mpu Triguna.
Kitab Sumansantaka karya Mpu Monaguna. 

Bagaimana jawaban Anda setelah dicocokkan? Jika Anda sudah menyimak dengan sungguhsungguh uraian materinya, tentu Anda akan menjawab dengan mudah latihan soal tersebut. Untuk itu selamat atas kesuksesan Anda!

Dan selanjutnya simak uraian materi kerajaan berikutnya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

10.  KERAJAAN SINGASARI

Kerajaan Tumapel (Singhasari)

 Lokasi pusat Kerajaan Singhasari

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Masa Berdirinya          ;  Tahun   12221292                          

Didahului oleh              :  Kadiri

Ibu kota                         : Kotaraja Singosari

Agama                           : Hindu dan Budha

Pemerintahan               : Monarki/ Kerajaan
-Raja pertama              : Kedn Arok  dari tahun 1222 – 1227
-Raja terakhir              : Kertanagara dari tahun 1268 – 1292

Singasari, adalah sebuah kerajaan di Jawa Timur yang didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222. Lokasi kerajaan ini sekarang diperkirakan berada di daerah Singosari, Malang

  1. Awal Berdirinya

Menurut Pararaton, Tumapel semula hanya sebuah daerah bawahan Kerajaan Kadiri. Yang menjabat sebagai akuwu (setara camat) Tumapel saat itu adalah Tunggul Ametung.  Ia mati dibunuh secara licik oleh pengawalnya sendiri yang bernama Ken Arok, yang kemudian menjadi raja. Tidak hanya itu, Ken Arok bahkan berniat melepaskan Tumapel dari kekuasaan Kadiri.

Pada tahun 1222 terjadi perseteruan antara Kertajaya raja Kadiri melawan kaum brahmana. Para brahmana lalu menggabungkan diri dengan Ken Arok yang mengangkat dirinya menjadi raja pertama Tumapel bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi

 

 

Raja-raja Kerajaan Singosari

1.   Ken Arok alias Rajasa Sang Amurwabhumi (1222 – 1247)

2.   Anusapati (1247 – 1249)

3.   Tohjaya (1249 – 1250)

4.   Ranggawuni alias Wisnuwardhana (1250 – 1272)

5.   Kertanagara (1272 – 1292)

 

 

                                      Peta Kekuasaan Singosari

Kertanagara adalah raja terakhir dan raja terbesar dalam sejarah Singhasari (1268 – 1292). Ia adalah raja pertama yang mengalihkan wawasannya ke luar Jawa. Pada tahun 1275 ia mengirim pasukan Ekspedisi Pamalayu untuk menjadikan pulau Sumatra sebagai benteng pertahanan dalam menghadapi ekspansi bangsaMongol. Saat itu penguasa pulau Sumatra adalah Kerajaan Dharmasraya (kelanjutan dari Kerajaan Malayu). Kerajaan ini akhirnya tunduk dengan ditemukannya bukti arca Amoghapasa yang dikirim Kertanagara sebagai tanda persahabatan kedua negara.

Pada tahun 1284, Kertanagara juga mengadakan ekspedisi menaklukkan Bali. Pada tahun 1289 Kaisar Kubilai Khan mengirim utusan ke Singhasari meminta agar Jawa mengakui kedaulatan Mongol. Namun permintaan itu ditolak tegas oleh Kertanagara.

Nagarakretagama menyebutkan daerah-daerah bawahan Singhasari di luar Jawa pada masa Kertanagara antara lain, Melayu, Bali, Pahang, Gurun, dan Bakulapura.

Peristiwa Keruntuhan

Kerajaan Singhasari yang sibuk mengirimkan angkatan perangnya ke luar Jawa akhirnya mengalami keropos di bagian dalam. Pada tahun 1292 terjadi pemberontakan Jayakatwang bupati Gelang-Gelang, yang merupakan sepupu, sekaligus ipar, sekaligus besan dari Kertanagara sendiri. Dalam serangan itu Kertanagara mati terbunuh.

Setelah runtuhnya Singhasari, Jayakatwang menjadi raja dan membangun ibu kota baru di Kadiri. Riwayat Kerajaan Tumapel-Singhasari pun berakhir.

  1.  Hubungan dengan Majapahit

Pararaton, Nagarakretagama, dan prasasti Kudadu mengisahkan Raden Wijaya cucu Narasingamurti yang menjadi menantu Kertanagara lolos dari maut. Berkat bantuan Aria Wiraraja (penentang politik Kertanagara), ia kemudian diampuni oleh Jayakatwang dan diberi hak mendirikan desa Majapahit.

Pada tahun 1293 datang pasukan Mongol dipimpin Ike Mese untuk menaklukkan Jawa. Mereka dimanfaatkan Raden Wijaya untuk mengalahkan Jayakatwang di Kadiri. Setelah Kadiri runtuh, Raden Wijaya dengan siasat cerdik ganti mengusir tentara Mongol keluar dari tanah Jawa.

Raden Wijaya kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit sebagai kelanjutan Singhasari, dan menyatakan dirinya sebagai anggota Wangsa Rajasa, yaitu dinasti yang didirikan oleh Ken Arok.

  1. 1.       Sumber Sejarah
    · Kitab Pararaton, menceritakan tentang raja-raja Singasari.
    · Kitab Negara Kertagama, berisi silsilah raja-raja Majapahit yang memiliki hubungan

  erat dengan raja-raja Singasari.
· Prasasti-prasasti sesudah tahun 1248 M.
· Berita-berita asing (berita Cina), menyatakan bahwa Kaisar Khubilai Khan 
mengirim

  pasukkannya untuk menyerang Kerajaan Singasari.
· Peninggalan purbakala berupa banguna-bangunan Candi yang  menjadi makam dariraja

  Singasari seperti Candi Kidal, Candi Jago, Candi   Singasari dan lain-lain.

  1. 2.       Kehidupan Politik
    Kerajaan Singasari yang pernah mengalami kejayaan dalam perkembangan sejarah Hindu di Indonesia dan bahkan menjadi cikal bakal Kerajaan Majapahit, pernah diperintah oleh raja-raja sebagai berikut:

    Ken Arok
    Ken Arok sebagai raja Singasari pertama bergelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi dan dinastinya bernama Dinasti Girindrawangsa (Dinasti Keturunan Siwa). Raja Ken Arok memerintah antara tahun 1222-1227 M. Masa pemerintahan Ken Arok diakhiri secara tragis pada tahun 1227. Ia mati terbunuh oleh kaki tangan Anusapati, yang merupakan anak tirinya (anak Ken Dedes dari suami pertamanya Tunggul Ametung).

    Raja Kertanegara
    Raja Kertanegara (1268-1292 M) merupakan raja terkemuka dan raja terakhir dari Kerajaan Singasasri. Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Singasari mencapai masa kejayaannya. Upaya yang ditempuh Raja Kertanegara dapat dilihat dari pelaksanaan politik dalam negeri dan luar negeri.

    a. Politik Dalam Negeri
    Dalam rangka mewujudkan stabilisasi politik dalam negeri, Raja Kertanegara 

    menempuh jalan sebagai berikut:
– Mengadakan pergeseran pembantu-pembantunya.
– Berbuat baik terhadap lawan-lawan politiknya.
– Memperkuat angkatan perang.

b. Politik Luar Negeri

                Untuk mencapai cita-cita politiknya itu, Raja Kertanegara menempuh cara-cara 

                sebagai berikut.
– Melaksanakan Ekspedisi Pamalayu (1275 dan 1286 M) untuk menguasai

                  Kerajaan Melayu serta melemahkan posisi Kerajaan Sriwijaya di Selat Malaka.
– Menguasai Bali (1284 M).
– Menguasai Jawa Barat (1289 M).
– Menguasai Pahang (Malaya) dan Tanjung Pura (Kalimantan).

                – Kertanegara membendung ekspansi Khu Bilai Khan dengan cara :
1) Menjalin kerja sama dengan negeri Champa
2) Memberantas setiap usaha pemberontakan
3) Mengganti pejabat yang tidak mendukung gagasannya
4) Berusaha menyatukan Nusantara di bawah Singosari.

 

             Demikianlah uraian materi tentang kerajaan Singasari

 

11.  KERAJAAN  MAJAPAHIT

Kerajaan Majapahit merupakan suatu kerajaan besar yang disegani oleh banyak negara asing dan membawa keharuman nama Indonesia sampai jauh ke luar wilayah Indonesia


A. Sumber Sejarah
Sumber informasi mengenai berdiri dan berkembangnya Kerajaan Majapahit berasal dari 

       berbagai sumber yakni:
a. Prasasti Butak (1294 M). Prasasti ini dikeluarkan oleh Raden Wijaya setelah ia 

        berhasil naik tahta kerajaan. Prasasti ini memuat peristiwa keruntuhan Kerajaan

        Singasari dan perjuangan Raden Wijaya untuk mendirikan Kerajaan.
b. Kidung Harsawijaya dan Kidung Panji Wijayakrama. Kedua kidung ini menceritakan

        Raden Wijaya ketika menghadapi musuh dari Kediri dan tahun-tahun awal

        perkembangan Majapahit.
c. Kitab Pararaton, menceritakan pemerintahan raja-raja Singasari dan Majapahit.
d. Kitab Negarakertagama, menceritakan perjalanan Raja Hayam Wuruk ke Jawa Timur.

B. Aspek Kehidupan Politik
Raja Kertanegara wafat pada tahun 1291 M, ketika Keraton Singasari saat itu diserbu   

     secara mendadak oleh Jayakatwang (keturunan Raja Kediri). Dalam serangan itu Raden 

     Wijaya, menantu Kertanegara, berhasil meloloskan diri dan lari ke Madura untuk

     meminta perlindungan dari Bupati Arya Wiraraja. Atas bantuan dari Arya Wiraraja ini,

     Raden Wijaya diterima dan diampuni oleh Jayakatwang dan diberikan sebidang tanah di 

     Tarik. Daerah itu kemudian dibangun kembali menjadi sebuah perkampungan dan

     digunakan oleh Raden Wijaya untuk mempersiapkan diri dan menyusun kekuatan untuk

     sewaktu-waktu mengadakan serangan balasan terhadap Kediri


Kedatangan serangan Cina-Mongol yang ingin menaklukan Kertanegara, tidak disia-siakan oleh Raden Wijaya untuk menyerang Raja Jayakatwang (Raja Kediri).

Raden Wijaya berhasil menipu pasukan-pasukan Cina, sehingga tentara Cina rela bergabung dengan pasukan Raden Wijaya dan menyerang Raja Jayakatwang. Raja Jayakatwang dapat dikalahkan dan Kerajaan Kediri dapat dihancurkan.

Kemenangan dari serangan ini membuat tentara Cina-Mongol bergembira dan merayakan pesta kemenangannya. Namun, bagi Raden Wijaya kemenangan ini harus berada di pihaknya. Raden Wijaya kemudian memutuskan untuk menyerang balik tentara-tentara Cina-Mongol yang sedang pesta pora. Serangan yang tiba-tiba dan tak diduga yang dilakukan oleh pasukan Raden Wijaya ini membuat tentara Cina-Mongol menjadi kalang kabut. Banyak yang terbunuh. Yang selamat melarikan diri dan kembali ke daratan Cina. Akhirnya, di Jawa hanya tinggal satu kekuatan, yaitu kekuatan dari pasukan Raden Wijaya.

Dengan lenyapnya pasukan Cina-Mongol, pada tahun 1292 M Kerajaan Majapahit sudah dapat dianggap berdiri, walaupun secara resmi sistem pemerintahan Kerajaan majapahit baru berjalan setahun kemudian, yaitu ketika Raden Wijaya menjadi Raja Majapahit yang pertama dengan gelar Sri Kertajasa Jayawardhana.
Raden Wijaya memerintah Kerajaan Majapahit dari tahun 1293-1309 M. raden Wijaya sempat memperistri keempat putri Kertanegara, yaitu Tribhuwana, Narendraduhita, Prajnaparamita, dan Gayatri. Pada awal pemerintahannya pernah terjadi pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan oleh teman-teman seperjuangan Raden Wijaya seperti Sora, Ranggalawe, dan Nambi. Pemberontakan-pemberontakan itu diakibatkan karena rasa tidak puas atas jabatan-jabatan yang diberikan oleh raja. Akan tetapi, pemberontakan-pemberontakan itu akhirnya dapat dipadamkan.

Raden Wijaya wafat tahun 1309  dan dimakamkan dalam dua tempat, yaitu dalam bentuk Jina (Budha) di Antapura dan dalam bentuk Wisnu dan Siwa di Candi Simping (dekat Blitar).

 

a). Raja Jayanegara
Raja Raden Wijaya wafat meninggalkan seorang putra yang  diangkat menjadi Raja Majapahit dengan gelar Sri Jayanegara pada tahun 1309 .

Jayanegara memerintah Majapahit dari tahun 1309-1328 . Masa pemerintahan Jayanegara penuh dengan pemberontakan dan juga dikenal sebagai suatu masa yang suram di dalam sejarah Kerajaan Majapahit. Pemberontakan-pemberontakan itu datang dari Juru Demung (1313 ), Gajah Biru (1314 ), Nambi (1316 ), dan Kuti (1319 ).

Pemberontakan Kuti merupakan pemberontakan yang paling berbahaya dan hampir meruntuhkan Kerajaan Majapahit. Raja Jayanegara terpaksa mengungsi ke desa Bedander yang diikuti oleh sejumlah pasukan bayangkara (pengawal pribadi raja) di bawah pimpinan Gajah Mada. Setelah beberapa hari menetap di desa Bedander maka Gajah Mada kembali ke Majapahit untuk meninjau suasana.

Setelah diketahui keadaan rakyat dan para bangsawan istana tidak setuju dan bahkan sangat benci kepada Kuti, Gajah Mada akhirnya merencanakan suatu siasat untuk melakukan serangan terhadap Kuti. Berkat ketangkasan dan siasat yang jitu dari Gajah Mada, Kuti dan kawan-kawannya dapat dilenyapkan.

Raja Jayanegara dapat kembali lagi ke Istana dan menduduki tahta Kerajaan Majapahit. Sebagai penghargaan atas jasa Gajah Mada, maka ia langsung diangkat menjadi patih di kahuripan (1319-1321), tidak lama kemudian diangkat menjadi patih di Kediri (1322-1330).

  b). Ratu Tribhuwanatunggadewi
Raja Jayanegara meninggal dengan tidak meninggalkan seorang putra mahkota. Tahta Kerajaan Majapahit jatuh ke tangan Gayatri, putri Raja Kertanegara yang masih hidup. Namun, karena ia sudah menjadi seorang pertapa, tahta kerajaan diserahkan kepada putrinya yang bernama Tribhuwanatunggadewi. ia menjadi ratu atas nama atau mewakili ibunya, Gayatri.
Tribhuwanatunggadewi memerintah Kerajaan Majapahit dari tahun 1328-1350 M. pada masa pemerintahannya, meletus pemberontakan Sadeng (1331 M). pimpinan pemberontak tidak diketahui. Nama Sadeng sendiri adalah nama sebuah daerah yang terletak di Jawa Timur. Pemberontakan Sadeng dapat dipadamkan oleh Gajah Mada dan Adityawarman.
Karena jasa dan kecakapannya, Gajah Mada diangkat menjadi Patih Mangkubhumi Majapahit menggantikan Arya Tadah. Sejak saat itu, Gajah Mada menjadi pejabat pemerintahan tertinggi sesudah raja. Ia mempunyai wewenang untuk menetapkan politik pemerintahan Majapahit.

 

c). Raja Hayam Wuruk
Raja Hayam Wuruk yang terlahir dari perkawinan Tribhuwanatunggadewi dengan Cakradara (Kertawardhana) adalah seorang raja yang mempunyai pandangan luas. Kebijakan politik Hayam Wuruk banyak mengalami kesamaan dengan politik Gajah Mada, yaitu mencita-citakan persatuan Nusantara berada di bawah panji Kerajaan Majapahit.

Hayam Wuruk memerintah Kerajaan Majapahit dari tahun 1350-1389 M. Pada masa pemerintahannya, Gajah Mada tetap merupakan salah satu tiang utama Kerajaan majapahit dalam mencapai kejayaannya. Bahkan Kerajaan Majapahit dapat disebut sebagai kerajaan nasional setelah Kerajaan Sriwijaya.

Selama hidupnya, patih Gajah Mada menjalankan Politik Persatuan Nusantara. Cita-citanya dijalankan dengan begitu tegas, sehingga menimbulkan peristiwa pahit yang dikenal dengan Peristiwa Sunda (Peristiwa Bubat). Peristiwa Sunda terjadi tahun 1351 M, berawal dari usaha Raja Hayam Wuruk untuk meminang putri dari Pajajaran, Dyah Pitaloka. Lamaran itu diterima oleh Sri Baduga. Raja Sri Baduga beserta putri dan pengikutnya pergi ke Majapahit, dan beristirahat di lapangan Bubat dekat pintu gerbang Majapahit.

Selanjutnya timbul perselisihan paham antara Gajah Mada dan pimpinan Laskar Pajajaran, karena Gajah Mada ingin menggunakan kesempatan ini agar Pajajaran mau mengakui kedaulatan Majapahit, yakni dengan menjadikan putri Dyah Pitaloka sebagai selir Raja Hayam Wuruk dan bukan sebagai permaisuri. Hal ini tidak dapat diterima oleh Pajajaran karena dianggap merendahkan derajat. Akhirnya pecah pertempuran yang mengakibatkan terbunuhnya Sri baduga dengan putrinya dan seluruh pengikutnya di Lapangan Bubat.

Akibat peristiwa itu, politik Gajah Mada mengalami kegagalan, karena dengan adanya peristiwa Bubat belum berarti Pajajaran sudah menjadi wilayah Kerajaan Majapahit. Bahkan Kerajaan Pajajaran terus berkembang secara terpisah dari Kerajaan Majapahit.

Ketika Gajah Mada wafat tahun 1364 M, Raja Hayam Wuruk kehilangan pegangan dan orang yang sangat diandalkan di dalam memerintah kerajaan. Wafatnya Gajah Mada dapat dikatakan sebagai detik-detik awal dari keruntuhan Kerajaan Majapahit. Setelah Gajah Mada wafat, Raja Hayam Wuruk mengadakan sidang Dewan Sapta Prabu untuk memutuskan pengganti Patih Gajah Mada. Namun, tidak satu orang pun yang sanggup menggantikan Patih Gajah Mada. Kemudian diangkatlah empat orang menteri di bawah pimpinan Punala Tanding. Hal itu tidak berlangsung lama. Keempat orang menteri tersebut digantikan oleh dua orang menteri, yaitu Gajah Enggon dan Gajah Manguri. Akhirnya Hayam Wuruk memutuskan untuk mengangkat Gajah Enggon sebagai patih mangkubumi menggantikan posisi Gajah Mada.

Keadaan Kerajaan Majapahit seakan-akan semakin bertambah suram, sehubungan dengan wafatnya Tribhuwanatunggadewi (ibunda Raja Hayam Wuruk) tahun 1379 M. Kerajaan Majapahit semakin kehilangan pembantu-pembantu yang cakap. Kemunduran Kerajaan Majapahit semakin jelas setelah wafatnya Raja Hayam Wuruk tahun 1389 M. Berakhirlah masa kejayaan Majapahit

 

 

 

  d). Sumpah Palapa
Pada masa pemerintahan Ratu Tribhuwanatunggadewi terjadi pemberontakan yang dikenal dengan nama pemberontakan Sadeng. Pada waktu itu yang menjadi perdana menteri adalah Arya Tadah. Karena terganggu kesehatannya, Arya Tadah mengusulkan agar Gajah Mada diangkat menjadi Panglima Majapahit.

Usul Arya Tadah itu diterima oleh Ratu Tribhuwanatunggadewi dan selanjutnya Gajah Mada diangkat menjadi pemimpin pasukan Kerajaan Majapahit untuk memadamkan pemberontakan Sadeng. Namun ketika Gajah Mada sedang membicarakan siasat perang ia mendapat rintangan dari seorang menteri kerajaan yang bernama Ra Kembar (pihak golongan Dharmaputra). Gajah Mada tidak menghiraukan rintangan itu dan atas bantuan dari pasukan Melayu yang dipimpin oleh Adityawarman, pemberontakan sadeng dapat dipadamkan.

Sebagai penghargaan atas jasanya itu, pada tahun 1331 M Gajah Mada diangkat menjadi Mangkubumi Majapahit. Ia menggantikan kedudukan Arya Tadah.

Saat upacara pelantikan, Gajah Mada mengucapkan sumpahnya dengan nama Sumpah Palapa (lengkapnya Tan Amukti Palapa) yang menyatakan Gajah Mada tidak akan hidup mewah sebelum Nusantara berhasil dipersatukan di bawah panji Kerajaan Majapahit.

Untuk mencapai Persatuan Nusantara, berbagai macam cara dilakukan Gajah Mada. Bahkan selama hidupnya, Gajah Mada selalu mencurahkan segala kemampuan yang dimilikinya untuk mencapai tujuannya itu. Cita-cita yang dijalankannya begitu tegas itu menimbulkan peristiwa yang sangat pahit, yaitu Peristiwa Bubat atau Peristiwa Sunda.

Gajah Mada wafat tahun 1364 M. Dengan wafatnya Gajah Mada, Kerajaan Majapahit kehilangan seorang yang sangat diandalkan dan sulit dicarikan gantinya.

C. Kemunduran Kerajaan Majapahit
Setelah pemerintahan Raja Hayam Wuruk, keadaan Kerajaan Majapahit mengalami masa kemunduran. Pengganti Hayam Wuruk adalah menantunya yang bernama Wikrama Wardhana (1389-1429 M) suami dari Kusumawardhani (putri yang terlahir dari permaisuri). Namun, Hayam Wuruk juga mempunyai seorang anak laki-laki yang dilahirkan dari selir, bernama Wirabhumi. Ia diberi daerah kekuasaan di ujung timur Pulau Jawa yang bernama daerah Blambangan. Pada mulanya hubungan antara Wikrama Wardhana dan Wirabhumi berjalan dengan baik. Wirabhumi tetap mengakui kekuasaan pemerintahan pusat. Sekitar tahun 1400 M hubungan itu mulai retak sehingga mengakibatkan Perang Paregreg (1401-1406 M).
Meletusnya Perang Paregreg disebabkan Wirabhumi tidak puas dengan pengangkatan Suhita menjadi raja menggantikan Wikrama Wardhana. Dalam perang Paregreg itu, Wirabhumi berhasil dikalahkan (peristiwa ini menjadi dasar cerita Damarwulan-Minakjinggo).

 

D. Kehidupan Ekonomi
Majapahit selalu menjalankan politik bertetangga yang baik dengan kerajaan asing, seperti Kerajaan Cina, Ayodya (Siam), Champa, dan Kamboja. Hal itu terbukti sekitar tahun 1370-1381 Majapahit telah beberapa kali mengirim utusan persahabatan ke Cina. Hal itu diketahui dari berita kronik Cina dari Dinasti Ming.

Hubungan persahabatan yang dijalin dengan negara tetangga itu sangat penting artinya bagi Kerajaan Majapahit. Khususnya dalam bidang perekonomian (pelayaran dan perdagangan) karena wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit terdiri atas pulau dan daerah kepulauan serta sebagai sumber barang dagangan yang sangat laku di pasaran pada saat itu. Barang dagangan yang dipasarkan antara lain beras, lada, gading, timah, besi, intan, ikan, cengkeh, pala, kapas dan kayu cendana.
Dalam dunia perdagangan Kerajaan Majapahit memegang dua peranan yang sangat penting, yaitu sebagai kerajaan produsen dan sebagai kerajaan perantara.

 

E. Kehidupan Budaya
Bukti-bukti perkembangan kebudayaan di Kerajaan Majapahit dapat diketahui melalui  peninggalan-peninggalan berikut.

  1. a.      Candi
    Antara lain Candi Panataran (Blitar), Candi Tegalwangi dan Surawana (Pare, Kediri), Candi Sawentar (Blitar), Candi Sumberjati (blitar), Candi Tikus (Trowulan), dan bangunan-bangunan purba lainnya yang terdapat di daerah Trowulan.
  2. b.     Hasil sastra zaman Majapahit awal di antaranya:
    · Kitab Negarakertagama, karangan Mpu Prapanca (tahun 1365).
    · Kitab Sutasoma, karangan Mpu Tantular.                                                                       · Kitab Arjunawiwaha, karangan Mpu Tantular

.
DemikianlahDemikian uraian materi tentang kehidupan kerajaan Majapahit. Maka untuk mengu untuk mengukur tingkat pemahaman Anda terhadap uraian materi tersebut, kerjakanlah latihan soal bllatihan berrikut ini

 

Latihan  5

  1. 1.       Sebutkan 2 tindakan Ken Arok sebelun menjadi raja Singasari!
    2. Asal usul Ken Arok dapat diketahui melalui ….
    3. Raja Singasari terbesar adalah ….
    4. Agama yang berkembang pada masa Kertanegara adalah ….
    5. Tindakan Kertanegara dalam rangka memperluas kedudukan sebagai raja Singasari 

          adalah ….
6. Tujuan dan ekspedisi pamelayu adalah ….
7. Kerajaan Kertanegara mengalami kehancurannya karena ….
8. Setelah Kertanegara wafat maka dimuliakan di candi Singasari sebagai ….
9. Bukti adanya kerajaan Singasari diketahui melalui ….
10. Ken Arok menjadi raja Singosari melahirkan dinasti ….

 

Majapahit.

 

  1. Sebutkan sumber-sumber dari dalam maupun luar negeri yang membuktikan kerajaan Majapahit!

 

 

  1. Berikan penjelasan pada tokoh-tokoh berikut ini!

 

 

  1. Sebutkan dua tindakan Raden Wijaya dalam rangka memperkuat pemerintahannya!

 

 

  1.  Sebutkan pemberontakan di Majapahit yang dapat diatasi oleh Gajah mada pada  masa Jayanegara dan Tribhuwana!

 

  1. Berikan penjelasan terhadap istilah-istilah berikut ini!

 

 

Untuk menyakinkan pemahanan Anda, cocokkan jawaban Anda dengan uraian berikut ini.

 

Singosari

Setelah Anda mengerjakan latihan soal tersebut, untuk memantapkan hasilnya cocokkan jawaban Anda dengan jawaban berikut ini.

1. a. Membunuh Tunggul Ametung dan memperistri Ken Dedes.
b. Menyerang kerajaan Kediri/Kertajaya.
2. Kitab Pararaton
3. Kertanegara
4. Tantayana
5. a. menyingkirkan lawan-lawan politiknya.
b. melaksanakan politik perkawinan.
6. Menjalin persahabatan dengan kerajaan-kerajaan Melayu.
7. Diserang oleh Jayakatwang tahun 1292.
8. Bhairawa
9. Kitab Pararaton dan Negarakertagama. Candi Singosari, Kidal, Jago dan sebagainya.
10. Rajasa

 

Majapahit

1. Sumber dalam negeri

–  kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca.

–  kitab Pararaton, kitab Usanajawa, kitab Sundayana.

–  bekas ibukota Trowulan.

2. Sumber luar negeri

–  berita Ma-Huan 1413.

–  Berita Portugis 1518.

  1. Raden Wijaya adalah pendiri atau raja pertama Majapahit.
  2. Gajah Mada adalah Patih Hamengkubhumi Majapahit yang berjasa mempersatukan daerah kekuasaan Majapahit.
  3. Mpu prapanca adalah pujangga Majapahit yang menulis kitab Negarakertagama.
    1. Hayam Wuruk adalah raja Majapahit yang terbesar  Majapahit mencapai puncak
    2. Wikramawardhana adalah raja Majapahit pengganti Hayam Wuruk yang

mengalami perang paregreg

 

a. Memperistri keempat putri Kertanegara.
b. Memberikan kedudukan dan jabatan serta daerah kekuasaan kepada para sahabat

dan pengikutnya.

 

a. Pemberontak Kuti (Masa Jayanegara).
b. Pemberontak Sadeng dan Keta (Masa Tribhuwanatunggadewi

 

  1. Perang Bubat adalah perang antara pasukan Gajah Mada dengan raja Pajajaran Sri Baduga Maharaja di desa Bubat.
  2. Perang Paregreg adalah perang saudara yang terjadi sejak pemerintahan Wikramawardhana.
  3. Dharmadyaksa ring kasogatan adalah pejabat agama Majapahit yang mengurus agama Budha.

Bagaimana dengan jawaban Anda? apakah sudah sesuai? Bagus, jika Anda menjawab dengan tepat, tetapi jika belum baca kembali dengan baik, agar Anda benar-benar memahami dan selanjutnya untuk mengukur pemahaman Anda terhadap seluruh materi kegiatan belajar 2, silahkan kerjakan latihan soalnya dengan teliti, seyogyanya Anda tidak melihat kunci jawabannya selamat mengerjakan

 

 

 

F. Gambar Candi-candi

  1. Candi Singosari

   Candi Singosari letaknya dekat Malang, disebut juga  

   Candi Kertanagara

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2. Candi Panataran

    Candi Panataran adalah candi Hindu (Siwaitis) yang 

    terletak di Jawa Timur, tepatnya di lereng barat daya 

    Gunung Kelud, di sebelah utara Blitar. Kompleks candi

    ini merupakan yang terbesar di Jawa Timur. Candi ini

    mulai dibangun dari kerajaan Kadiri dibangun pada

    tahun 1194 oleh Raja Crnga (Grenggra)

 

3. Gapura Bajangratu,

Gapura Bajangratu diduga kuat menjadi gerbang masuk

keraton Majapahit. Bangunan ini masih tegak berdiri di

kompleks Trowulan

 4. Candi Cungkup

    Candi Cungkup adalah candi pemujaan Hindu, letak di  

    Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten

    Tulungagung, Jawa Timur. Candi berbentuk

    bujursangkar dan terdiri dari bangunan kaki, tubuh dan

    atap. Candi ini peninggalan Kerajaan Majapahit,

    dibangun sekitar tahun 1350.

 

 

 
5. Candi Kidal

     Raja Singosari ke-2, Anusapati, beserta tempat     pendharmaannya di candi Kidal. dibangun pada 1248 M, bertepatan dengan berakhirnya rangkaian upacara pemakaman yang disebut Cradha (tahun ke-12) untuk menghormat raja Anusapati

 

 
6. Candi Borobudur

Candi Borobudur terkenal sebagai satu dari tujuh keajaiban dunia dan merupakan stupa terbesar di dunia. Borobudur dibangun pada masa kejayaan Dinasti Sailendra. Borobudur berada sekitar 42 km dari Yogyakarta, yang hanya memerlukan satu jam jika ditempuh dengan mengendarai mobil atau satu setengah jam dengan kendaraan umum.

 
7. Candi Sari

Merupakan bangunan peninggalan agama Hindu, berasal dari periode yang agak muda dari jaman kebudayaan Jawa Tengah. Terletak di Kelurahan Sambirejo, Prambanan.

 
8. Candi Kalasan

Candi ini dibangun sabagai penghargaan atas perkawinan antara Raja Pancapana dari Dinasti Sanjaya dan permaisuri dari Dinasti Sailendra, Dyah Pramudya Wardhani.

 
9. Candi Sambisari

Candi Sambisari merupakan candi Hindu dari abad 10 dan diperkirakan dibangun oleh seorang raja dari wanca Sanjaya, dengan patung Shiva sebagai Mahaguru, menempati bilik utamanya.

 
10. Candi Gebang

Merupakan peninggalan agama Hindu dari abad ke–7 dan diperkirakan dibangun juga oleh raja dari wanca Sanjaya.

 

 
 

G. Arca dan Patung                                                                                 Patung adalah bentuk tiruan orang, hewan, dan sebagainya. Seperti telah kita ketahui dari penjelasan candi, (dalam agama Hindu) bahwa raja yang sudah wafat dianggap telah menyatu dengan dewanya dan dibuatkan sebuah patung. Hal ini bertujuan untuk menghormati sang raja. Patung ini menjadi arca induk di dalam candi. Biasanya sebuah candi itu memuat berbagai buah patung dewa-dewa lainnya.

Arca Harihara, dewa gabungan Siwa dan Wisnu sebagai penggambaran Kertarajasa. Berlokasi semula di Candi Simping, Blitar, kini menjadi koleksi Museum Nasional Republik IndonesiaMandala Amoghapāśa dari masa Singhasari (abad ke-13), perunggu, 22.5 x 14 cm. Koleksi Museum für Indische Kunst, Berlin-Dahlem, Jerman.                  

Arca Harihara                                      Arca Amoghapasa

 

Patung Budha                                    Patung Gajah Mada

 

Arca yang ditemukan di desa Gayam, Kediri itu tergolong langka karena untuk pertama kalinya ditemukan patung Dewa Syiwa Catur Muka atau bermuka empat.

 

Arca pertapa Hindu dari masa Majapahit akhir. Koleksi Museum für Indische Kunst, Berlin-Dahlem, Jerman.

 

Patung Dewa Syiwa                                     Arca Petapa Hindu

 

 

Patung Wisnu sebagai dewa yang selalu digambarkan sebagai kanak-kanak naik merak dan yang mempunyai kedudukan sebagai dewa perang

Patung Wisnu                                       Arca Buddha Vajrasattva

 

Arca Syiwa ini dibangun pada masa Kerajaan Kediri yang bercorak Hindu sebagai persembahan

Patung Airlangga dalam perwujudan Dewa Wisnu, salah satu

 

Arca Syiwa                                                  Patung Airlangga    

 

Arca Tribuanatunggadewi                                Arca Dewi Shinta

                     

Patung Wisnu Kencana                                              Patung  Garuda Wisnu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kegiatan  1

PROSES MASUK DAN BERKEMBANG AGAMA ISLAM  DI IDONESIA

Selamat atas usaha dan kerja keras Anda mempelajari materi ajar di atas, mudah-mudahan semangat Anda tetap menggelora untuk mempelajari materi yang terakhir ini, dalam bahanajar di semester ganjil.

Pada materi sebelumnya, Anda telah memahami pertumbuhan, perkembangan agama dan kebudayaan Hindu – Budha di Indonesia, untuk itu Anda dapat membandingkannya dengan mataeri berikut ini.
Materi ajar ini mengantarkan Anda untuk memahami pertumbuhan perkembangan dan penyebaran agama Islam serta proses integrasi masyarakat di Indonesia abad 16 – 19.

Dengan memahami pertumbuhan, perkembangan dan penyebaran agama Islam serta proses integrasi masyarakat di Indonesia maka diharapkan tumbuh kesadaran dalam diri Anda untuk menghargai dinamika masyarakat Indonesia sehingga dapat memperkokoh rasa persatuan dan kesatuan bangsa.

Semoga dalam materi ajar yang terakhir, Anda memperoleh keberhasilan yang lebih memuaskan, sehingga semangat belajar Anda akan terus menggelora. Selamat berusaha dan sukses selalu

 

Proses Msuknya Agama Islam

Setelah mempelajari modul ini Anda dapat :

  • Ø Menjelaskan proses masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan Islam di Indonesia.
  • Ø Mendeskripsikan pendapat para ahli tentang proses awal penyebaran Islam di kepulauan Indonesia
  • Ø Mengidentifikasi pada peta mengenai tempat-tempat dan bukti-bukti penyebaran Islam di Indonesia
  • Ø Mendeskripsikan muncul dan berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam di berbagai daerah

 

Islam merupakan salah satu agama yang masuk dan berkembang di Indonesia. Hal ini tentu bukanlah sesuatu yang asing bagi Anda, karena di mass media mungkin Anda sudah sering mendengar atau membaca bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki penganut agama Islam terbesar di dunia.

 

Proses Masuk dan Berkembangnya Agama dan Kebudayaan Islam di Indonesia
Proses masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia menurut Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya yang berjudul Menemukan Sejarah, terdapat 3 teori yaitu teori Gujarat, teori Makkah dan teori Persia.

Ketiga teori tersebut di atas memberikan jawaban tentang permasalah waktu masuknya Islam ke Indonesia, asal negara dan tentang pelaku penyebar atau pembawa agama Islam ke Nusantara.

Untuk mengetahui lebih jauh dari teori-teori tersebut, silahkan Anda simak uraian materi berikut ini.

 

 

A. Teori masuknya Islam ke Indonesia

 

1. Teori Gujarat
Teori berpendapat bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada abad 13 dan pembawanya berasal dari Gujarat (Cambay), India. Dasar dari teori ini adalah:

  1. Kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebaran Islam di Indonesia.
  2. Hubungan dagang Indonesia dengan India telah lama melalui jalur Indonesia – Cambay – Timur Tengah – Eropa.
  3. Adanya batu nisan Sultan Samudra Pasai yaitu Malik Al Saleh tahun 1297 yang bercorak khas Gujarat.

Pendukung teori Gujarat adalah Snouck Hurgronye, WF Stutterheim dan Bernard H.M. Vlekke. Para ahli yang mendukung teori Gujarat, lebih memusatkan perhatiannya pada saat timbulnya kekuasaan politik Islam yaitu adanya kerajaan Samudra Pasai. Hal ini juga bersumber dari keterangan Marcopolo dari Venesia (Italia) yang pernah singgah di Perlak ( Perureula) tahun 1292. Ia menceritakan bahwa di Perlak sudah banyak penduduk yang memeluk Islam dan banyak pedagang Islam dari India yang menyebarkan ajaran Islam.

Demikianlah penjelasan tentang teori Gujarat. Silahkan Anda simak teori berikutnya.

 

2. Teori Makkah  merupakan teori baru yang muncul sebagai sanggahan terhadap teori lama yaitu teori Gujarat.

Teori Makkah berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 7 dan pembawanya berasal dari Arab (Mesir).
Dasar teori ini adalah:

  1. Pada abad ke 7 yaitu tahun 674 di pantai barat Sumatera sudah terdapat perkampungan Islam (Arab); dengan pertimbangan bahwa pedagang Arab sudah mendirikan perkampungan di Kanton sejak abad ke-4. Hal ini juga sesuai dengan berita Cina.
  2. Kerajaan Samudra Pasai menganut aliran mazhab Syafi’i, dimana pengaruh mazhab Syafi’i terbesar pada waktu itu adalah Mesir dan Mekkah. Sedangkan Gujarat/India adalah penganut mazhab Hanafi.
  3. Raja-raja Samudra Pasai menggunakan gelar Al malik, yaitu gelar tersebut berasal dari Mesir.

Pendukung teori Makkah ini adalah Hamka, Van Leur dan T.W. Arnold. Para ahli yang mendukung teori ini menyatakan bahwa abad 13 sudah berdiri kekuasaan politik Islam, jadi masuknya ke Indonesia terjadi jauh sebelumnya yaitu abad ke 7 dan yang berperan besar terhadap proses penyebarannya adalah bangsa Arab sendiri.

Dari penjelasan di atas, apakah Anda sudah memahami? Kalau sudah paham simak teori berikutnya.

 

3. Teori Persia, berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia abad 13 dan pembawanya berasal dari Persia (Iran). Dasar teori ini adalah kesamaan budaya Persia dengan budaya masyarakat Islam Indonesia seperti:

  1. Peringatan 10 Muharram atau Asyura atas meninggalnya Hasan dan Husein cucu Nabi Muhammad, yang sangat di junjung oleh orang Syiah/Islam Iran.

Di Sumatra Barat peringatan tersebut disebut dengan upacara Tabuik/Tabut.      Sedangkan di pulau Jawa ditandai dengan pembuatan bubur Syuro.

  1. Kesamaan ajaran Sufi yang dianut Syaikh Siti Jennar dengan sufi dari Iran yaitu Al – Hallaj.
  2. Penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf Arab untuk tanda-tanda bunyi Harakat.
  3. Ditemukannya makam Maulana Malik Ibrahim tahun 1419 di Gresik.
  4. Adanya perkampungan Leren/Leran di Giri daerah Gresik. Leren adalah nama salah satu Pendukung teori ini yaitu Umar Amir Husen dan P.A. Hussein Jayadiningrat.

Ketiga teori tersebut, pada dasarnya masing-masing memiliki kebenaran dan kelemahannya. Maka itu berdasarkan teori tersebut dapatlah disimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia dengan jalan damai pada abad ke – 7 dan mengalami perkembangannya pada abad 13. Sebagai pemegang peranan dalam penyebaran Islam adalah bangsa Arab, bangsa Persia dan Gujarat (India).

Demikianlah uraian materi tentang proses masuknya Islam ke Indonesia. Untuk menguji pemahaman Anda , maka isilah tabel 1.1 berikut ini, Dan untuk mengetahui kebenaran jawaban Anda. Silahkan tanyakan kepada guru bina Anda.

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 1.1. Proses masuknya Islam ke Indonesia

Setelah Anda mengisi tabel 1.1. , silahkan Anda simak uraian materi selanjutnya.

Proses masuk dan berkembangnya Islam ke Indonesia pada dasarnya dilakukan dengan jalan damai melalui beberapa jalur/saluran yaitu melalui perdagangan seperti yang dilakukan oleh pedagang Arab, Persia dan Gujarat.

Pedagang tersebut berinteraksi/bergaul dengan masyarakat Indonesia. Pada kesempatan tersebut dipergunakan untuk menyebarkan ajaran Islam. Selanjutnya diantara pedagang tersebut ada yang terus menetap, atau mendirikan perkampungan, seperti pedagang Gujarat mendirikan perkampungan Pekojan.

Dengan adanya perkampungan pedagang, maka interaksi semakin sering bahkan ada yang sampai menikah dengan wanita Indonesia, sehingga proses penyebaran Islam semakin cepat berkembang.

Perkembangan Islam yang cepat menyebabkan muncul tokoh ulama atau mubaliqh yang menyebarkan Islam melalui pendidikan dengan mendirikan pondok-pondok pesantren.

Pondok pesantren adalah tempat para pemuda dari berbagai daerah dan kalangan masyarakat menimba ilmu agama Islam. Setelah tammat dari pondok tersebut, maka para pemuda menjadi juru dakwah untuk menyebarkan Islam di daerahnya masing-masing.

Di samping penyebaran Islam melalui saluran yang telah dijelaskan di atas, Islam juga disebarkan melalui kesenian, misalnya melalui pertunjukkan seni gamelan ataupun wayang kulit. Dengan demikian Islam semakin cepat berkembang dan mudah diterima oleh rakyat Indonesia.

Untuk menguji tingkat pemahaman Anda, silahkan Anda diskusikan dengan teman-teman Anda, mencari alasan mengapa Islam mudah diterima oleh masyarakat Indonesia. Selanjutnya dapat Anda simak uraian materi berikutnya.

 

Di pulau Jawa, peranan mubaligh dan ulama tergabung dalam kelompok para wali yang dikenal dengan sebutan walisongo yang merupakan suatu majelis yang berjumlah sembilan orang. Majelis ini berlangsung dalam beberapa periode secara bersambung, mengganti ulama yang wafat / hijrah ke luar Jawa. Dari penjelasan tersebut apakah Anda sudah paham, kalau sudah paham simak uraian materi berikutnya tentang periode penyebaran islam oleh para ulama/wali tersebut.

 

 

B.  Penyebaran Islam di Pulau Jawa

 

1. Periode I : Penyebaran Islam dilakukan oleh Maulana Malik Ibrahim*, Maulana Ishaq(-), Ahmad Jumadil Qubra, Muhammad Al-Magribi, Malik Israil*, Muhammad Al-Akbar*, Maulana Hasannudin, Aliyuddin*, dan Syeikh Subakir (-).
2. Periode II : Penyebaran Islam digantikan oleh Raden Rahmat (Sunan Ampel Denta), Ja’far Shiddiq (Sunan Kudus), Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).
3. Periode III : hijrahnya Maulana Ishaq dan Syeikh Subakir, dan wafatnya Maulana Hassanudin dan Aliyuddin maka penyebar Islam pada periode ini dilakukan oleh Raden Paku (Sunan Giri), Raden Said (Sunan Kalijaga), Raden Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang) dan Raden Qashim (Sunan Drajat).
4. Periode IV : Penyebar Islam selanjutnya adalah Jumadil Kubra dan Muhammad Al-Maghribi dan kemudian digantikan oleh Raden Hasan (Raden Patah) dan Fadhilah Khan (Falatehan).
5. Periode V : Untuk periode ini karena Raden Patah menjadi Sultan Demak maka yang menggantikan posisinya adalah Sunan Muria.

 

Demikianlah penyebaran tentang periode penyebaran Islam di Indonesia, mudah-mudahan Anda dapat memahami dengan mudah, selanjutnya Anda simak uraian materi berikutnya

 

 

 

C. Wali Songo

Para wali / ulama yang dikenal dengan sebutan walisongo di Pulau Jawa terdiri dari

  1. Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut sebagai Syekh Magribi.
Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw.Beliau membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.

 

 

 

  1. Sunan Ampel nama asli Raden Rahmat menyebarkan Islam di daerah Ampel Surabaya
Sunan Ampel datang ke pulau Jawa pada tahun 1443, dan menikah dengan Nyai Ageng Manila, mereka dikaruniai 4 orang anak, yaitu: Putri Nyai Ageng Maloka, Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), Syarifuddin (Sunan Drajat) dan seorang putri yang kemudian menjadi istri Sunan Kalijaga.  Pada tahun 1479, Sunan Ampel mendirikan Mesjid Agung Demak. Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.
  1. Sunan Bonang, dilahirkan  tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim
 Sunan Bonang banyak menggubah sastra berbentuk suluk atau tembang tamsil. Antara lain Suluk Wijil yang dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa’id Al Khayr. Sunan Bonang juga menggubah tembang Tombo Ati yang kini masih sering dinyanyikan orang.Sunan Bonang juga terkenal dalam hal ilmu kebathinannya. Beliau mengembangkan ilmu (dzikir) yang berasal dari Rasullah SAW, kemudian beliau kombinasi dengan kesimbangan pernafasan yang disebut dengan rahasia Alif Lam Mim ( ا ل م ) yang artinya hanya Allah SWT yang tah
  1. Sunan Drajat
 Sunan Drajat juga putra dari Sunan Ampel nama aslinya adalah Syarifuddin, menyebarkan Islam di daerah Gresik/Sedayu.

 

  1. Sunan Giri
 Sunan Giri nama aslinya Raden Paku menyebarkan Islam di daerah Bukit Giri (Gresik
  1. Sunan Kudus
 Sunan Kudus nama aslinya Syeikh Ja’far Shodik menyebarkan ajaran Islam di daerah Kudus.
  1. Sunan Kali Jaga
 Sunan Kalijaga nama aslinya Raden Mas Syahid atau R. Setya menyebarkan ajaran Islam di daerah Demak
  1. 8.       Sunan Muria
 

Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga nama aslinya Raden Umar Syaid menyebarkan islamnya di daerah Gunung Muria.

  1. Sunan Gunung Jati
 Sunan Gunung Jati nama aslinya Syarif Hidayatullah, menyebarkan Islam di Jawa Barat (Cirebon).

 

Sembilan wali yang sangat terkenal di pulau Jawa, Masyarakat Jawa sebagian memandang para wali memiliki kesempurnaan hidup dan selalu dekat dengan Allah, sehingga dikenal dengan sebutan Waliullah yang artinya orang yang dikasihi Allah.

Selanjutnya untuk menguji tingkat pemahaman Anda tentang proses masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan Islam di Indonesia, maka kerjakanlah latihan soal berikut ini.

 

Latihan 1

 

1. Tuliskan bukti Islam masuk Indonesia abad ke – 7

 

 

 

2. bukti Islam masuk ke Indonesia abad ke – 13

 

 

3. Berikan 3 teori yang memberi penjelasan tentang bangsa-bangsa yang menyebarkan Islam ke Indonesia.

 

 

4. Sebutkan 5 jalur/saluran proses Islamisasi di Indonesia dan berikan penjelasan.

 

 

 

 

 

5. Sebutkan nama-nama Walisongo dan nama aslinya serta daerah penyebaran

ajarannya.

 

 

I. Pilihlah salah satu jawaban yang dianggap benar.

1  Berdasarkan bukti sejarah yang berupa nisan kubur dan tata masyarakatnya maka golongan      pembawa Islam ke Indonesia adalah para pedagang dari …

a. Arab                                           d. Cina

b. Persia                                        e. Medir

c. Gujarat

 

2. Penduduk Indonesia yang mula-mula mengenal agama Islam adalah…

a. masyarakat Indonesia yang tinggal di pedalaman

b. masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah pantai.

c. para raja dan keluarga bangsawan

d. masyarakat Indonesia yang belum beragama

e. para wali atau mubaliq

 

3. Berita pertama adanya penyebaran Islam di Nusantara diperoleh pedagang pendeta yang   bernama

a. Ma Huan                                      d. Janabadra

b. Dante                                           e. Hwining

c. Marcopolo

4. Para pedagang Islam dari Arab datang pertama kali ke Indonesia pada jaman berkuasanya

kerajaan..

a. Samudra Pasai                               d. Mataram

b. Sriwijaya                                        e. Tarumanegara

c. Majapahit

 

5. Berdasarkan teori baru Islam masuk ke Indonesia pada abad ….

a. 6    M                                             d. 11  M

b. 7    M                                             e. 13  M

c. 8   M

 

Setelah Anda menjawab latihan soal tersebut, maka cocokkan jawaban Anda dengan kunci jawaban berikut ini

 

  1. Buktinya sesuai dengan berita Cina bahkan pada abad 7 di pantai barat Sumatera sudah terdapat perkampungan Arab.
  2. Buktinya:
    a. Berita Marcopolo (Venesia, Italia) tahun 1292 singgah ke Perlak.
    b. Batu nisan makam Sultan Malik Al Saleh tahun 1297 yang merupakan Sultan pertama Samudra Pasai.
 a. Bangsa Arab : Bangsa ini berperan dalam penyebaran Islam di Indonesia karena sejak abad 4, sesudah mendirikan perkampungan pedagang di Kanton (Cina Selatan) dan abad 7 mendirikan perkampungan pedagang di Pantai Timur Sumatera. Dan Mazhab yang banyak dianut orang Indonesia adalah Mazhab Syafi’i sama dengan di Masir dan Makkah.
 b. Bangsa Persia : Bangsa ini juga berperan terhadap penyebaran Islam karena kebudayaan Islam di Indonesia memiliki persamaan dengan kebudayaan Islam Persia.
c. Bangsa India
(Gujarat)
: Bangsa ini juga berperan karena Samudra Pasai (Gujarat) mempunyai hubungan yang erat dengan Gujarat, dan adanya perkampungan Pekojan (Koja = pedagang Gujarat).

 

 a.  Perdagangan  : melalui pedagang –pedagang Arab, Persia dan Gujarat, maka masyarakat Indonesia mengenal Islam.
 b.  Perkawinan  : adanya pedagang-pedagang yang menetap mendirikan perkampungan maka sebagian dari mereka menikah dengan wanita-wanita Indonesia.
 c. PendidikanSSSPendidkan : adanya/didirikannya pondok-pondok pesantren maka menampung pemuda dari berbagai daerah untuk menimba ilmu agama Islam.
 d.  Dakwah  : pemuda yang sudah tammat dari pesantren, mulai berdakwah menyebarkan ajaran Islam di daerahnya masing-masing.
 e.  Kesenian  : melalui pertunjukkan wayang dan seni gamelan maka Islam disebarkan oleh para wali atau mubaliqh.

5.

 

 

 

 

 

Kegiatan 2

  1. I.        KERAJAAN-KERAJAAN  INDONESIA  YANG  BERCORAK  ISLAM

 

Kegiatan belajar  ini membahas tentang kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam. Tentu Anda memahami bahwa dengan masuk dan berkembangnya Islam ke Indonesia, maka kerajaan-kerajaan Hindu ataupun Budha mengalami keruntuhannya dan perannya digantikan oleh kerajaan Islam.

Untuk menambah pemahaman Anda tentang kerajaan Islam yang berkembang di Indonesia dari awal berdirinya, letak geografis dan perkembangannya dalam kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya dapat Anda amati peta dan simak pada uraian materi berikut ini.

 

Gambar Peta Kerajaan-kerajaan bercorak Islam di Indonesia

 

 1. Kerajaan Samudra Pasai

Kerajaan Samudera Pasai, juga dikenal dengan  Samudera Darussalam, adalah kerajaan Islam yang terletak di pesisir pantai utara Sumatera, kurang lebih di sekitar Kota Lhokseumawe, Aceh Utara sekarang yang berbatasan dengan Selat Malaka. Kerajaan ini didirikan oleh Marah Silu, yang bergelar Malik al-Saleh, pada sekitar tahun 1267 dan berakhir dengan dikuasainya Pasai oleh Portugis pada tahun 1521. Raja pertama bernama Malik as-Saleh, kemudian dilanjutkan pemerintahannya oleh Malik at-Thahir. Setelah meninggal, ia digantikan oleh Sultan Mahmmud Malik az-Zahir Untuk mengetahui letak Samudra Pasai, simaklah  peta Sumatera berikut ini.

 
Gambar  Peta lokasi kerajaan Samudera Pasai

Berdasarkan lokasi kerajaan Samudra Pasai tersebut, maka dapatlah dikatakan posisi Samudra Pasai sangat strategis karena terletak di jalur perdagangan internasional, yang melewati Selat Malaka.

 

Kerajaan Samudra Pasai tercatat dalam sejarah sebagai kerajaan Islam yang pertama. Mengenai awal dan tahun berdirinya kerajaan ini tidak diketahui secara pasti. Akan tetapi menurut pendapat Prof. A. Hasymy, berdasarkan naskah tua yang berjudul Izhharul Haq yang ditulis oleh Al-Tashi dikatakan bahwa sebelum Samudra Pasai berkembang, sudah ada pusat pemerintahan Islam di Peureula (Perlak) pada pertengahan abad ke-9.

Perlak berkembang sebagai pusat perdagangan, tetapi setelah keamanannya tidak stabil maka banyak pedagang yang mengalihkan kegiatannya ke tempat lain yakni ke Pasai, akhirnya Perlak mengalami kemunduran.

 

Dengan posisi yang strategis tersebut, Samudra Pasai berkembang menjadi kerajaan Islam yang cukup kuat, dan di pihak lain Samudra Pasai berkembang sebagai bandar transito yang menghubungkan para pedagang Islam yang datang dari arah barat dan para pedagang Islam yang datang dari arah timur. Keadaan ini mengakibatkan Samudra Pasai mengalami perkembangan yang cukup pesat pada masa itu baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya.
Kehidupan Politik
Kerajaan Samudra Pasai yang didirikan oleh Marah Silu bergelar Sultan Malik al- Saleh, sebagai raja pertama yang memerintah tahun 1285 – 1297. Pada masa pemerintahannya, datang seorang musafir dari Venetia (Italia) tahun 1292 yang bernama Marcopolo, melalui catatan perjalanan Marcopololah maka dapat diketahui bahwa raja Samudra Pasai bergelar Sultan. Setelah Sultan Malik al-Saleh wafat, maka pemerintahannya digantikan oleh keturunannya yaitu Sultan Muhammad yang bergelar Sultan Malik al-Tahir I (1297 – 1326). Pengganti dari Sultan Muhammad adalah Sultan Ahmad yang juga bergelar Sultan Malik al-Tahir II (1326 – 1348). Pada masa ini pemerintahan Samudra Pasai berkembang pesat dan terus menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan Islam di India maupun Arab. Bahkan melalui catatan kunjungan Ibnu Batutah seorang utusan dari Sultan Delhi th 1345 dapat diketahui Samudra Pasai merupakan pelabuhan penting dan istananya disusun dan diatur secara India dan patihnya bergelar Amir.

 

Hubungan  antara Aceh dengan Arab (Khilafah Utsmaniyah) menurut Bernard Lewis bahwa pada tahun 1563 M, penguasa Muslim di Aceh mengirim seorang utusan ke Istambul untuk meminta bantuan melawan Portugis sambil meyakinkan bahwa sejumlah raja di kawasan tersebut telah bersedia masuk agama Islam jika kekhalifahan Utsmaniyah mau menolong mereka. Saat itu kekhalifahan Utsmaniyah sedang disibukkan dengan berbagai masalah yang mendesak, yaitu pengepungan Malta dan Szigetvar di Hungaria, dan kematian Sultan Sulaiman Agung. Setelah tertunda selama dua bulan, mereka akhirnya membentuk sebuah armada yang terdiri dari 19 kapal perang dan sejumlah kapal lainnya yang mengangkut persenjataan dan persediaan untuk membantu masyarakat Aceh yang terkepung. Namun, sebagian besar kapal tersebut tidak pernah tiba di Aceh. Banyak dari kapal-kapal tersebut dialihkan untuk tugas yang lebih mendesak yaitu memulihkan dan memperluas kekuasaan Utsmaniyah di Yaman. Ada satu atau dua kapal yang tiba di Aceh. Kapal-kapal tersebut selain membawa pembuat senjata, penembak, dan teknisi juga membawa senjata dan peralatan perang lainnya, yang langsung digunakan oleh penguasa setempat untuk mengusir Portugis. Peristiwa ini dapat diketahui dalam berbagai arsip dokumen negara Turki.

 

Pada masa selanjutnya pemerintahan Samudra Pasai tidak banyak diketahui karena pemerintahan Sultan Zaenal Abidin yang juga bergelar Sultan Malik al-Tahir III kurang begitu jelas. Menurut sejarah Melayu, kerajaan Samudra Pasai diserang oleh kerajaan Siam. Dengan demikian karena tidak adanya data sejarah yang lengkap, maka runtuhnya Samudra Pasai tidak diketahui secara jelas. Dari penjelasan di atas, apakah Anda sudah paham? Kalau sudah paham simak uraian materi berikutnya.

Kehidupan Ekonomi
Dengan letaknya yang strategis, maka Samudra Pasai berkembang sebagai kerajaan Maritim, dan bandar transito.  Samudra Pasai menggantikan peranan Sriwijaya di Selat Malaka.

 

Kerajaan Samudra Pasai memiliki hegemoni (pengaruh) atas pelabuhan-pelabuhan penting di Pidie, Perlak, dan lain-lain. Samudra Pasai berkembang pesat pada masa pemerintahan Sultan Malik al-Tahir II. Hal ini juga sesuai dengan keterangan Ibnu Batulah.

 

Menurut cerita Ibnu Batutah, perdagangan di Samudra Pasai semakin ramai dan bertambah maju karena didukung oleh armada laut yang kuat, sehingga para pedagang merasa aman dan nyaman berdagang di Samudra Pasai.

Komoditi perdagangan dari Samudra yang penting adalah lada, kapurbarus dan emas. Dan untuk kepentingan perdagangan sudah dikenal uang sebagai alat tukar yaitu uang emas yang dinamakan Deureuham (dirham).

Demikianlah uraian materi tentang kehidupan ekonomi Samudra Pasai, sekarang Anda bandingkan dengan uraian materi berikutnya.

 

Kehidupan Sosial Budaya
Kemajuan dalam bidang ekonomi membawa dampak pada kehidupan sosial, masyarakat Samudra Pasai menjadi makmur. Dan di samping itu juga kehidupan masyarakatnya diwarnai dengan semangat kebersamaan dan hidup saling menghormati sesuai dengan syariat Islam.

Hubungan antara Sultan dengan rakyat terjalin baik. Sultan biasa melakukan musyawarah dan bertukar pikiran dengan para ulama, dan Sultan juga sangat hormat pada para tamu yang datang, bahkan tidak jarang memberikan tanda mata kepada para tamu.

 

Samudra Pasai mengembangkan sikap keterbukaan dan kebersamaan. Salah satu bukti dari hasil peninggalan budayanya, berupa batu nisan Sultan Malik al-Saleh dan jirat Putri Pasai. Untuk menambah pemahaman Anda tentang batu nisan tersebut, simaklah gambar 7 berikut ini.
Dari gambar  tersebut, yang perlu Anda ketahui bahwa batu nisan tersebut berasal dari Gujarat   (India). Hal ini berarti kerajaan Samudra Pasai bersifat terbuka dalam menerima budaya lain yaitu dengan memadukan budaya Islam dengan budaya India.

Demikianlah uraian materi tentang keberadaan kerajaan Samudra Pasai. Untuk mengukur tingkat pemahaman Anda, kerjakanlah latihan soal berikut ini dengan cermat.

2. KERAJAAN  MALAKA

 

a. Pendiri

Kerajaan Malaka didirikan oleh Parameswara antara tahun 1380-1403 M. Parameswara berasal dari Sriwijaya, dan merupakan putra Raja Sam Agi. Saat itu, ia masih menganut agama Hindu. Ia melarikan diri ke Malaka karena kerajaannya di Sumatera runtuh akibat diserang Majapahit. Pada saat Malaka didirikan, di situ terdapat penduduk asli dari Suku Laut yang hidup sebagai nelayan. Mereka berjumlah lebih kurang tiga puluh keluarga. Raja dan pengikutnya adalah rombongan pendatang yang memiliki tingkat kebudayaan yang jauh lebih tinggi, karena itu, mereka berhasil mempengaruhi masyarakat asli. Kemudian, bersama penduduk asli tersebut, rombongan pendatang mengubah Malaka menjadi sebuah kota yang ramai. Selain menjadikan kota tersebut sebagai pusat perdagangan, rombongan pendatang juga mengajak penduduk asli menanam tanaman yang belum pernah mereka kenal sebelumnya, seperti tebu, pisang, dan rempah-rempah.

 

Rombongan pendatang juga telah menemukan biji-biji timah di daratan. Dalam perkembangannya, kemudian terjalin hubungan perdagangan yang ramai dengan daratan Sumatera. Salah satu komoditas penting yang diimpor Malaka dari Sumatera saat itu adalah beras. Malaka amat bergantung pada Sumatera dalam memenuhi kebutuhan beras ini, karena persawahan dan perladangan tidak dapat dikembangkan di Malaka. Hal ini kemungkinan disebabkan teknik bersawah yang belum mereka pahami, atau mungkin karena perhatian mereka lebih tercurah pada sektor perdagangan, dengan posisi geografis strategis yang mereka miliki.

 

Berkaitan dengan asal usul nama Malaka, bisa dirunut dari kisah berikut. Menurut Sejarah Melayu (Malay Annals) yang ditulis Tun Sri Lanang pada tahun 1565, Parameswara melarikan diri dari Tumasik, karena diserang oleh Siam. Dalam pelarian tersebut, ia sampai ke Muar, tetapi ia diganggu biawak yang tidak terkira banyaknya. Kemudian ia pindah ke Burok dan mencoba untuk bertahan disitu, tapi gagal. Kemudian Parameswara berpindah ke Sening Ujong hingga kemudian sampai di Sungai Bertam, sebuah tempat yang terletak di pesisir pantai. Orang-orang Seletar yang mendiami kawasan tersebut kemudian meminta Parameswara menjadi raja. Suatu ketika, ia pergi berburu. Tak disangka, dalam perburuan tersebut, ia melihat salah satu anjing buruannya ditendang oleh seekor pelanduk. Ia sangat terkesan dengan keberanian pelanduk tersebut. Saat itu, ia sedang berteduh di bawah pohon Malaka. Maka, kawasan tersebut kemudian ia namakan Malaka.

 

Dalam versi lain, dikatakan bahwa sebenarnya nama Malaka berasal dari bahasa Arab Malqa, artinya tempat bertemu. Disebut demikian, karena di tempat inilah para pedagang dari  berbagai negeri bertemu dan melakukan transaksi niaga. Demikianlah, entah versi mana yang benar, atau boleh jadi, ada versi lain yang berkembang di masyarakat.

 

b. Politik Negara

Dalam menjalankan dan menyelenggarakan politik negara, ternyata para sultan menganut paham politik hidup berdampingan secara damai (co-existence policy) yang dijalankan secara efektif. Politik hidup berdampingan secara damai dilakukan melalui hubungan diplomatik dan ikatan perkawinan. Politik ini dilakukan untuk menjaga keamanan internal dan eksternal Malaka. Dua kerajaan besar pada waktu itu yang harus diwaspadai adalah Cina dan Majapahit. Maka, Malaka kemudian menjalin hubungan damai dengan kedua kerajaan besar ini. Sebagai tindak lanjut dari politik negara tersebut, Parameswara kemudian menikah dengan salah seorang putri Majapahit.

 

Sultan-sultan yang memerintah setelah Prameswara (Muhammad Iskandar Syah)) tetap menjalankan politik bertetangga baik tersebut. Sebagai bukti, Sultan Mansyur Syah (1459—1477) yang memerintah pada masa awal puncak kejayaan Kerajaan Malaka juga menikahi seorang putri Majapahit sebagai permaisurinya. Di samping itu, hubungan baik dengan Cina tetap dijaga dengan saling mengirim utusan. Pada tahun 1405 seorang duta Cina Ceng Ho datang ke Malaka untuk mempertegas kembali persahabatan Cina dengan Malaka. Dengan demikian, kerajaan-kerajaan lain tidak berani menyerang Malaka.

 

Pada tahun 1411, Raja Malaka balas berkunjung ke Cina beserta istri, putra, dan menterinya. Seluruh rombongan tersebut berjumlah 540 orang. Sesampainya di Cina, Raja Malaka beserta rombongannya disambut secara besar-besaran. Ini merupakan pertanda bahwa, hubungan antara kedua negeri tersebut terjalin dengan baik. Saat akan kembali ke Malaka, Raja Muhammad Iskandar Syah mendapat hadiah dari Kaisar Cina, antara lain ikat pinggang bertatahkan mutu manikam, kuda beserta sadel-sadelnya, seratus ons emas dan perak, 400.000 kwan uang kertas, 2600 untai uang tembaga, 300 helai kain khasa sutra, 1000 helai sutra tulen, dan 2 helai sutra berbunga emas. Dari hadiah-hadiah tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa, dalam pandangan Cina, Malaka adalah kerajaan besar dan diperhitungkan.

 

Di masa Sultan Mansur Syah, juga terjadi perkawinan antara Hang Li Po, putri Maharaja Yung Lo dari dinasti Ming, dengan Sultan Mansur Shah. Dalam prosesi perkawinan ini, Sultan Mansur Shah mengirim Tun Perpateh Puteh dengan serombongan pengiring ke negeri China untuk menjemput dan membawa Hang Li Po ke Malaka. Rombonga ini tiba di Malaka pada tahun 1458 dengan 500 orang pengiring.

 

Demikianlah, Malaka terus berusaha menjalankan politik damai dengan kerajaan-kerajaan besar. Dalam melaksanakan politik bertetangga yang baik ini, peran Laksamana Malaka  Hang Tuah sangat besar. Laksamana yang kebesaran namanya dapat disamakan dengan Gajah Mada atau Adityawarman ini adalah tangan kanan Sultan Malaka, dan sering dikirim ke luar negeri mengemban tugas kerajaan. Ia menguasai bahasa Keling, Siam dan Cina.

 

c. Hang Tuah

Hang Tuah lahir di Sungai Duyung Singkep. Ayahnya bernama Hang Machmud dan ibunya bernama Dang Merdu. Kedua orang tuanya adalah rakyat biasa yang hidup sebagai petani dan penangkap ikan.

Keluarga Hang Tuah kemudian pindah ke Pulau Bintan. Di sinilah ia dibesarkan. Dia berguru di Bukit Lengkuas, Bintan Timur. Pada usia yang masih muda, Hang Tuah sudah menunjukkan kepahlawanannya di lautan. Bersama empat orang kawan seperguruannya, yaitu Hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiyu, mereka berhasil menghancurkan perahu-perahu bajak laut di sekitar perairan dan selat-selat di Kepulauan Riau, sekalipun musuh mereka jauh lebih kuat.

Karena kepahlawanan Hang Tuah dan kawan-kawannya tersebut, maka Sultan Kerajaan Malaka mengangkat mereka sebagai prajurit kerajaan. Hang Tuah sendiri kemudian diangkat menjadi Laksamana Panglima Angkatan Laut Kerajaan Malaka. Sedangkan empat orang kawannya tersebut di atas, kelak menjadi prajurit Kerajaan Malaka yang tangguh.

 

Dalam pengabdiannya demi kebesaran Malaka, Laksamana Hang Tuah dikenal memiliki semboyan berikut.

 

1. Esa hilang dua terbilang

2. Tak Melayu hilang di bumi.

3. Tuah sakti hamba negeri.

 

Hingga saat ini, orang Melayu masih mengagungkan Hang Tuah, dan keberadaanya hampir menjadi mitos. Namun demikian, Hang Tuah bukanlah seorang tokoh gaib. Dia meninggal di Malaka dan dimakamkan di tempat asalnya, Sungai Duyung di Singkep.

 

d. Malaka Sebagai Pusat Penyebaran Agama Islam

Sebelum muncul dan tersebarnya Islam di Semenanjung Arabia, para pedagang Arab telah lama mengadakan hubungan dagang di sepanjang jalan perdagangan antara Laut Merah dengan Negeri Cina. Berkembangnya agama Islam semakin memberikan dorongan pada perkembangan perniagaan Arab, sehingga jumlah kapal maupun kegiatan perdagangan mereka di kawasan timur semakin besar.

 

Pada abad VIII, para pedagang Arab sudah banyak dijumpai di pelabuhan Negeri Cina. Diceritakan, pada tahun 758 M, Kanton merupakan salah satu tempat tinggal para pedagang Arab. Pada abad IX, di setiap pelabuhan yang terdapat di sepanjang rute perdagangan ke Cina, hampir dapat dipastikan ditemukan sekelompok kecil pedagang Islam. Pada abad XI, mereka juga telah tinggal di Campa dan menikah dengan penduduk asli, sehingga jumlah pemeluk Islam di tempat itu semakin banyak. Namun, rupanya mereka belum aktif berasimilasi dengan kaum pribumi sehingga penyiaran agama Islam tidak mengalami kemajuan.

 

Sebagai salah satu bandar ramai di kawasan timur, Malaka juga ramai dikunjungi oleh para pedagang Islam. Lambat laun, agama ini mulai menyebar di Malaka. Dalam perkembangannya, raja pertama Malaka, yaitu Prameswara akhirnya masuk Islam pada tahun 1414 M. Dengan masuknya raja ke dalam agama Islam, maka Islam kemudian menjadi agama resmi di Kerajaan Malaka, sehingga banyak rakyatnya yang ikut masuk Islam.

 

Selanjutnya, Malaka berkembang menjadi pusat perkembangan agama Islam di Asia Tenggara, hingga mencapai puncak kejayaan di masa pemeritahan Sultan Mansyur Syah (1459—1477). Kebesaran Malaka ini berjalan seiring dengan perkembangan agama Islam. Negeri-negeri yang berada di bawah taklukan Malaka banyak yang memeluk agama Islam. Untuk mempercepat proses penyebaran Islam, maka dilakukan perkawinan antarkeluarga.

 

Malaka juga banyak memiliki tentara bayaran yang berasal dari Jawa. Selama tinggal di Malaka, para tentara ini akhirnya memeluk Islam. Ketika mereka kembali ke Jawa, secara tidak langsung, mereka telah membantu proses penyeberan Islam di tanah Jawa. Dari Malaka, Islam kemudian tersebar hingga Jawa, Kalimantan Barat, Brunei, Sulu dan Mindanau (Filipina Selatan).

 

Malaka runtuh akibat serangan Portugis pada 24 Agustus 1511, yang dipimpin oleh Alfonso de Albuquerque. Sejak saat itu, para keluarga kerajaan menyingkir ke negeri lain.

 

2. Silsilah

Raja/Sultan yang memerintah di Malaka adalah sebagai berikut:

1. Permaisura yang bergelar Muhammad Iskandar Syah (1380—1424)

2. Sri Maharaja (1424—1444)

3. Sri Prameswara Dewa Syah (1444—1445)

4. Sultan Muzaffar Syah (1445—1459)

5. Sultan Mansur Syah (1459—1477)

6. Sultan Alauddin Riayat Syah (1477—1488)

7. Sultan Mahmud Syah (1488—1551)

3. Periode Pemerintahan

Setelah Parameswara masuk Islam, ia mengubah namanya menjadi Muhammad Iskandar Syah pada tahun 1406, dan menjadi Sultan Malaka I. Kemudian, ia kawin dengan putri Sultan Zainal Abidin dari Pasai. Posisi Malaka yang sangat strategis menyebabkannya cepat berkembang dan menjadi pelabuhan yang ramai. Akhir kesultanan Malaka terjadi ketika wilayah ini direbut oleh Portugis yang dipimpin oleh Alfonso d’albuquerque pada tahun 1511. Saat  itu, yang berkuasa di Malaka adalah Sultan Mahmud Syah.

 

Usia Malaka ternyata cukup pendek, hanya satu setengah abad. Sebenarnya, pada tahun 1512, Sultan Mahmud Syah yang dibantu Dipati Unus menyerang Malaka, namun gagal merebut kembali wilayah ini dari Portugis. Sejarah Melayu tidak berhenti sampai di sini. Sultan Melayu segera memindahkan pemerintahannya ke Muara, kemudian ke Pahang, Bintan Riau, Kampar, kemudian kembali ke Johor dan terakhir kembali ke Bintan. Begitulah, dari dahulu bangsa Melayu ini tidak dapat dipisahkan. Kolonialisme Baratlah yang memecah belah persatuan dan kesatuan Melayu.

 

4. Wilayah Kekuasaan.

Dalam masa kejayaannya, Malaka mempunyai kontrol atas daerah-daerah berikut:

 

1. Semenanjung Tanah Melayu (Patani, Ligor, Kelantan, Trenggano, dan sebagainya).

2. Daerah Kepulauan Riau.

3. Pesisir Timur Sumatra bagian tengah.

4. Brunai dan Serawak.

5. Tanjungpura (Kalimantan Barat).

 

3. Kerajaan Aceh

Aceh merupakan negeri yang amat kaya dan makmur pada masa kejayaannya. Menurut seorang penjelajah asal Perancis yang tiba pada masa kejayaan Aceh di zaman Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam, kekuasaan Aceh mencapai pesisir barat Minangkabau. Kekuasaan Aceh pula meliputi hingga Perak.

Aceh juga merupakan suku bangsa pertama di pulau Sumatra yang memiliki tradisi militer, dan pernah menjadi suku bangsa Adi Daya untuk wilayah regional Selat Malaka (Sumatra dan Semenanjung Melayu).

 

Sri Sultan Iskandar Muda kemudian menikah dengan seorang Putri dari Kesultanan Pahang. Putri ini dikenal dengan nama Putroe Phang. Konon, karena terlalu cintanya sang Sultan dengan istrinya, Sultan memerintahkan pembangunan Gunongan di tengah Medan Khayali (Taman Istana) sebagai tanda cintanya. Kabarnya, sang puteri selalu sedih karena memendam rindu yang amat sangat terhadap kampung halamannya yang berbukit-bukit. Oleh karena itu Sultan membangun Gunongan untuk mengubati rindu sang puteri. Hingga saat ini Gunongan masih dapat disaksikan dan dikunjungi.

 

Aceh lawan Portugis

Ketika kerajaan Islam Samudera-Pasai lemah setelah mendapat pukulan Majapahit dibawah Gajah Mada-nya, maka Kerajaan Islam Malaka yang muncul dibawah Paramisora (Paramesywara) yang berganti nama setelah masuk Islam dengan panggilan Iskandar Syah. Kerajaan Islam Malaka ini maju pesat sampai pada tahun 1511 ketika Portugis dibawah pimpinan Albuquerque dengan armadanya menaklukan Malaka.

 

Ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis, kembali Aceh bangkit dibawah pimpinan Sultan Ali Mukayat Syah (1514-1528). Yang diteruskan oleh Sultan Salahuddin (1528-1537). Sultan Alauddin Riayat Syahal Kahar (1537-1568). Sultan Ali Riyat Syah (1568-1573). Sultan Seri Alam (1576. Sultan Muda (1604-1607). Sultan Iskandar Muda, gelar marhum mahkota alam (1607-1636). Semua serangan yang dilancarkan pihak Portugis dapat ditangkisnya oleh SultAceh merupakan negeri yang amat kaya dan makmur pada masanya. Menurut seorang penjelajah asal Perancis yang tiba pada masa kejayaan Aceh di zaman Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam, kekuasaan Aceh mencapai pesisir barat Minangkabau. Kekuasaan Aceh pula meliputi hingga Perak.

 

Seri Sultan Iskandar Muda kemudian menikah dengan seorang Puteri dari Kesultanan Pahang. Puteri ini dikenal dengan nama Putroe Phang. Konon, karena terlalu cintanya sang Sultan dengan Isterinya, Sultan memerintahkan pembangunan Gunongan di tengah Medan Khayali (Taman Istana) sebagai muzeum cintanya. Kabarnya, sang puteri selalu sedih karena memendam rindu yang amat sangat terhadap kampong halamannya yang berbukit-bukit. Oleh kerananya Sultan membangun Gunongan untuk mengubati rindu sang puteri. Hingga saat ini Gunongan masih dapat disaksikan dan dikunjungi.

 

Pada abad ke-16, Ratu Inggeris yang paling berjaya Elizabeth I sang Perawan, mengirim utusannya bernama Sir James Lancester kepada Kerajaan Aceh dan pula mengirim surat bertujuan “Kepada Saudara Hamba, Raja Aceh Darussalam.” serta seperangkat perhiasan yang tinggi nilainya. Sultan Aceh kala itu menerima maksud baik “saudarinya” di Inggeris dan mengizinkan Inggeris untuk berlabuh dan berdagang di wilayah kekuasaan Aceh. Bahkan Sultan juga mengirim hadiah-hadiah yang amat berharga termasuk sepasang gelang dari batu rubi dan surat yang ditulis diatas kertas yang halus dengan tinta emas. Sir James pun dianugerahi gelar “Orang Kaya Putih”. Hubungan yang misra antara Aceh dan Inggeris dilanjutkan pada masa Raja James I dari Inggeris dan Scotlandia. Raja James mengirim sebuah meriam sebagai hadiah untuk Sultan Aceh. Meriam tersebut hingga kini masih terawat dan dikenal dengan nama Meriam Raja James.

 

Selain Kerajaan Inggeris, Pangeran Maurits -pendiri dinasti Oranje- juga pernah mengirim surat dengan maksud meminta bantuan Kesultanan Aceh Darussalam. Sultan menyambut maksud baik mereka dengan mengirimkan rombongan utusannya ke Belanda. Rombongan tersebut dipimpin oleh Tuanku Abdul Hamid. Rombongan inilah yang dikenal sebagai orang Indonesia pertama yang singgah di Belanda. Dalam kunjungannya Tuanku Abdul Hamid sakit dan akhirnya meninggal dunia. Beliau dimakamkan secara besar-besaran di Belanda dengan dihadiri ileh para pembesar-pembesar Belanda. Namun karena orang Belanda belum pernah memakamkan orang Islam, maka beliau dimakamkan dengan cara agama nasrani di pekarangan sebuah Gereja. Kini di makam beliau terdapat sebuah prasasti yang dirasmikan oleh Mendinag Yang Mulia Pangeran Bernard suami menidiang Ratu Juliana dan Ayahanda Yang Maha Mulia Ratu Beatrix.

 

Pada masa Iskandar muda, Kerajaan Aceh mengirim utusannya untuk menghadap sultan Empayar Turki Uthmaniyyah yang berkedudukan di Konstantinompel. Kerana saat itu, sultan Turki Uthmaniyyah sedang gering maka utusan kerajaan Aceh terluntang-lantung demikian lamanya sehingga mereka harus menjual sedikit demi sedikit hadiah persembahan untuk kelangsungan hidup mereka. Lalu pada akhirnya ketika mereka diterima oleh sang Sultan, persembahan mereka hanya tinggal Lada Sicupak atau Lada sekarung. Namun sang Sultan menyambut baik hadiah itu dan mengirimkan sebuah meriam dan beberapa orang yang cakap dalam ilmu perang untuk membantu kerajaan Aceh. Meriam tersbut pula masih ada hingga kini dikenal dengan nama Meriam Lada Sicupak. Pada masa selanjutnya sultan Turki Uthmaniyyah mengirimkan sebuha bintang jasa kepada Sultan Aceh.

 

Kerajaan Aceh pula menerima kunjungan utusan Diraja Perancis. Utusan Raja Perancis tersebut semula bermaksud menghadiahkan sebuah cermin yang amat berharga bagi Sultan Aceh. Namun dalam perjalanan cermin tersebut pecah. Akhirnya mereka mempersembahkan seripah cermin tersbut sebagai hadiah bagi sang Sultan. Dalam bukunya Danis Lombard mengatakan bahwa Sultan Iskanda Muda amat menggemari benda-benda berharga. Pada masa itu, Kerajaan Aceh merupakan satu-satunya kerajaan melayu yang memiliki Bale Ceureumin atau Hall of Mirror di dalam Istananya. Menurut Utusan Perancis tersebut, Istana Kesultanan Aceh luasnya tak kurang dari 2 kilometer. Istana tersbut bernama Istana Dalam Darud Dunya. Didalamnya meliputi Medan Khayali dan medan Khaerani yang mampu menampung 300 ekor pasukan gajah. Sultan Iskandar muda juga memerintahkan untuk memindahkan aliran sungai Krueng Aceh hingga mengaliri istananya. Disanalah sultan acap kali berenang sambil menjamu tetamu-tetamunya.

 

Makam Sultan Iskandar Muda dan sultan lainnya

 

Kerajaan Aceh sepeninggal Sultan Iskandar Thani mengalami kemunduran yang terus menerus. Hal ini disebabkan kerana naiknya 4 Sultanah berturut-turut sehingga membangkitkan amarah kaum Ulama Wujudiyah. Padahal, Seri Ratu Safiatudin Seri Ta’jul Alam Syah Berdaulat Zilullahil Filalam yang merupakan Sultanah yang pertama adalah seorang wanita yang amat cakap. Beliau merupakan puteri Sultan Iskandar Muda dan Isteri Sultan Iskandar Thani. Beliau pula menguasai 6 bahasa, Spanyol, Belanda, Aceh, Melayu, Arab, dan Parsi. Saat itu di dalam Parlemen Aceh yang beranggotakan 96an orang, 1/4 diantaranya adalah wanita. Perlawanan kaum ulama Wujudiyah berlanjut hingga datang fatwa dari Mufti Besar Mekkah yang menyatakan keberatannya akan seorang Wanita yang menjadi Sultanah. Akhirnya berakhirlah masa kejayaan wanita di Aceh.

 

Pada masa perang dengan Belanda, Kesultanan aceh sempat meminta bantuan kepada perwakilan Amerika Serikta di Singapura yang disinggahi Panglima Tibang Muhammad dalam perjalanannya menuju Pelantikan Kaisar Napoleon III di Perancis. Aceh juga mengirim Habib Abdurrahman untuk meminta bantuan kepada Empayar Turki Uthmaniyyah. Namun Empayar Turki Uthmaniyyah kala itu sudah mengalami masa kemunduran. Sedangkan Amerika menolak campur tangan dalam urusan Aceh dan Belanda.

Kesultanan Aceh terlibat perebutan kekuasaan yang berkepanjangan sejak awal abad ke-16, pertama dengan Portugal, lalu sejak abad ke-18 dengan Britania Raya (Inggris) dan Belanda. Pada akhir abad ke-18, Aceh terpaksa menyerahkan wilayahnya di Kedah dan Pulau Pinang di Semenanjung Melayu kepada Britania Raya.

Pada tahun 1824, Perjanjian Britania-Belanda ditandatangani, di mana Britania menyerahkan wilayahnya di Sumatra kepada Belanda. Pihak Britania mengklaim bahwa Aceh adalah koloni mereka, meskipun hal ini tidak benar. Pada tahun 1871, Britania membiarkan Belanda untuk menjajah Aceh, kemungkinan untuk mencegah Perancis dari mendapatkan kekuasaan di kawasan tersebut.

Tahun 1873 pecah perang Aceh melawan Belanda. Perang Aceh disebabkan karena:

  1. Belanda menduduki daerah Siak. Akibat dari perjanjian Siak 1858. Dimana Sultan Ismail menyerahkan daerah Deli, Langkat, Asahan dan Serdang kepada Belanda, padahal daerah-daerah itu sejak Sultan Iskandar Muda ada dibawah kekuasaan Aceh.
  2. Belanda melanggar Siak, maka berakhirlah perjanjian London (1824). Dimana isi perjanjian London adalah Belanda dan Inggris membuat ketentuan tentang batas-batas kekuasaan kedua daerah di Asia Tenggara yaitu dengan garis lintang Sinagpura. Keduanya mengakui kedaulatan Aceh.
  3. Aceh menuduh Belanda tidak menepati janjinya, sehingga kapal-kapal Belanda yang lewat perairan Aceh ditenggelamkan Aceh. Perbuatan Aceh ini disetujui Inggris, karena memang Belanda bersalah.
  4. Di bukanya terusan Suez oleh Ferdinand de Lessep. Menyebabkan perairan Aceh menjadi sangat penting untuk lalulintas perdagangan.
  5. Dibuatnya Perjanjian Sumatera 1871 antara Inggris dan Belanda, yang isinya, Inggris memberika keleluasaan kepada Belanda untuk mengambil tindakan di Aceh. Belanda harus menjaga keamanan lalulintas di Selat Sumatera. Belanda mengizinkan Inggris bebas berdagang di Siak dan menyerahkan daerahnya di Guinea Barat kepada Inggris.
  6. Akibat perjanjian Sumatera 1871, Aceh mengadakan hubungan diplomatik dengan Konsul Amerika, Italia, Turki di Singapura. Dan mengirimkan utusan ke Turki 1871.
  7. Akibat hubungan diplomatik Aceh dengan Konsul Amerika, Italia dan Turki di Singapura, Belanda menjadikan itu sebagai alasan untuk menyerang Aceh. Wakil Presiden Dewan Hindia Nieuwenhuyzen dengan 2 kapal perangnya datang ke Aceh dan meminta keterangan dari Sultan Machmud Syah tengtang apa yang sudah dibicarakan di Singapura itu, tetapi Sultan Machmud menolak untuk memberikan keterangan.

Belanda menyatakan perang terhadap Aceh pada 26 Maret 1873 setelah melakukan beberapa ancaman diplomatik. Sebuah ekspedisi dengan 3.000 serdadu yang dipimpin Mayor Jenderal Köhler dikirimkan pada tahun 1874, namun dikalahkan tentara Aceh, di bawah pimpinan Panglima Polem dan Sultan Machmud Syah, yang telah memodernisasikan senjatanya. Köhler sendiri berhasil dibunuh pada tanggal 10 April 1873.

Ekspedisi kedua di bawah pimpinan Jenderal van Swieten berhasil merebut istana sultan. Ketika Sultan Machmud Syah wafat 26 Januari 1874, digantikan oleh Tuanku Muhammad Dawot yang dinobatkan sebagai Sultan di masjid Indragiri. Pada 13 Oktober 1880, pemerintah kolonial menyatakan bahwa perang telah berakhir. Bagaimanapun, perang dilanjutkan secara gerilya dan perang fi’sabilillah dikobarkan, di mana sistem perang gerilya ini dilangsungkan sampai tahun 1904.

Pada masa perang dengan Belanda, Kesultanan Aceh sempat meminta bantuan kepada perwakilan Amerika Serikat di Singapura yang disinggahi Panglima Tibang Muhammad dalam perjalanannya menuju Pelantikan Kaisar Napoleon III di Perancis. Aceh juga mengirim Habib Abdurrahman untuk meminta bantuan kepada Kekaisaran Ottoman. Namun Kekaisaran Ottoman kala itu sudah mengalami masa kemunduran. Sedangkan Amerika menolak campur tangan dalam urusan Aceh dan Belanda.

Perang kembali berkobar pada tahun 1883. Pasukan Belanda berusaha membebaskan para pelaut Britania yang sedang ditawan di salah satu wilayah kekuasaan Kesultanan Aceh, dan menyerang kawasan tersebut. Sultan Aceh menyerahkan para tawanan dan menerima bayaran yang cukup besar sebagai gantinya. Sementara itu, Menteri Perang Belanda, Weitzel, kembali menyatakan perang terbuka melawan Aceh. Belanda kali ini meminta bantuan para pemimpin setempat, di antaranya Teuku Umar. Teuku Umar diberikan gelar panglima prang besar dan pada 1 Januari 1894 bahkan menerima dana bantuan Belanda untuk membangun pasukannya. Ternyata dua tahun kemudian Teuku Umar malah menyerang Belanda dengan pasukan baru tersebut. Dalam perang gerilya ini Teuku Umar bersama Panglima Polem dan Sultan terus tanpa pantang mundur. Tetapi pada tahun 1899 ketika terjadi serangan mendadak dari pihak Van Der Dussen di Meulaboh Teuku Umar gugur. Tetapi Cut Nya’ Dien istri Teuku Ummar siap tampil menjadi komandan perang gerilya.

Pada 1892 dan 1893, pihak Belanda menganggap bahwa mereka telah gagal merebut Aceh. Dr. Snoeck Hurgronje, seorang ahli Islam dari Universitas Leiden yang telah berhasil mendapatkan kepercayaan dari banyak pemimpin Aceh, kemudian memberikan saran kepada Belanda agar serangan mereka diarahkan kepada para ulama, bukan kepada sultan. Saran ini ternyata berhasil. Dr Snouck Hurgronye yang menyamar selama 2 tahun di pedalaman Aceh untuk meneliti kemasyarakatan dan ketatanegaraan Aceh. Hasil kerjanya itu dibukukan dengan judul Rakyat Aceh ( De Acehers). Dalam buku itu disebutkan rahasia bagaimana untuk menaklukkan Aceh.

Isi nasehat Snouck Hurgronye kepada Gubernur Militer Belanda yang bertugas di Aceh adalah

  1. Mengesampingkan golongan Keumala (yaitu Sultan yang berkedudukan di Keumala) beserta pengikutnya.
  2. Senantiasa menyerang dan menghantam kaum ulama.
  3. Jangan mau berunding dengan para pimpinan gerilya.
  4. Mendirikan pangkalan tetap di Aceh Raya.
  5. Menunjukkan niat baik Belanda kepada rakyat Aceh, dengan cara mendirikan langgar, masjid, memperbaiki jalan-jalan irigasi dan membantu pekerjaan sosial rakyat Aceh.

Pada tahun 1898, J.B. van Heutsz dinyatakan sebagai gubernur Aceh pada 1898-1904, kemudian Dr Snouck Hurgronye diangkat sebagai penasehatnya, dan bersama letnannya, Hendrikus Colijn (kelak menjadi Perdana Menteri Belanda), merebut sebagian besar Aceh.

Sultan M. Daud akhirnya meyerahkan diri kepada Belanda pada tahun 1903 setelah dua istrinya, anak serta ibundanya terlebih dahulu ditangkap oleh Belanda. Kesultanan Aceh akhirnya jatuh seluruhnya pada tahun 1904. Istana Kesultanan Aceh kemudian di luluhlantakkan dan diganti dengan bangunan baru yang sekarang dikenal dengan nama Pendopo Gubernur. Pada tahun tersebut, hampir seluruh Aceh telah direbut Belanda.

Taktik perang gerilya Aceh ditiru oleh Van Heutz, dimana dibentuk pasukan marsuse yang dipimpin oleh Christoffel dengan pasukan Colone Macannya yang telah mampu dan menguasai pegunungan-pegunungan, hutan-hutan rimba raya Aceh untuk mencari dan mengejar gerilyawan-gerilyawan Aceh.

Taktik berikutnya yang dilakukan Belanda adalah dengan cara penculikan anggota keluarga Gerilyawan Aceh. Misalnya Christoffel menculik permaisuri Sultan dan Tengku Putroe (1902). Van Der Maaten menawan putera Sultan Tuanku Ibrahim. Akibatnya, Sultan menyerah pada tanggal 5 Januari 1902 ke Sigli dan berdamai. Van Der Maaten dengan diam-diam menyergap Tangse kembali, Panglima Polem dapat meloloskan diri, tetapi sebagai gantinya ditangkap putera Panglima Polem, Cut Po Radeu saudara perempuannya dan beberapa keluarga terdekatnya. Akibatnya Panglima Polem meletakkan senjata dan menyerah ke Lo’ Seumawe (1903). Akibat Panglima Polem menyerah, banyak penghulu-penghulu rakyat yang menyerah mengikuti jejak Panglima Polem.

Taktik selanjutnya, pembersihan dengan cara membunuh rakyat Aceh yang dilakukan dibawah pimpinan Van Daalen yang menggantikan Van Heutz. Seperti pembunuhan di Kuta Reh (14 Juni 1904) dimana 2922 orang dibunuhnya, yang terdiri dari 1773 laki-laki dan 1149 perempuan.

Taktik terakhir menangkap Cut Nya’ Dien istri Teuku Umar yang masih melakukan perlawanan secara gerilya, dimana akhirnya Cut Nya’ Dien dapat ditangkap dan diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat.

Perjanjian Pendek Tanda Menyerah Ciptaan Van Heutz

Van Heutz telah menciptakan surat pendek penyerahan yang harus ditandatangani oleh para pemimpin Aceh yang telah tertangkap dan menyerah. Dimana isi dari plakat pendek berisikan, Raja (Sultan) mengakui daerahnya sebagai bagian dari daerah Hindia Belanda. Raja berjanji tidak akan mengadakan hubungan dengan kekuasaan di luar negeri. Berjanji akan mematuhi seluruh perintah-perintah yang ditetapkan Belanda. (RH Saragih, J Sirait, M Simamora, Sejarah Nasional, 1987)

  1. 4.          Kerajaan Demak

Demak sebelumnya merupakan daerah yang dikenal dengan nama Bintoro atau Gelagahwangi yang merupakan daerah kadipaten di bawah kekuasaan Majapahit.

Kadipaten Demak tersebut dikuasai oleh Raden Patah salah seorang keturunan Raja Brawijaya V (Bhre Kertabumi) raja Majapahit.
Dengan berkembangnya Islam di Demak, maka Demak dapat berkembang sebagai kota dagang dan pusat penyebaran Islam di pulau Jawa. Hal ini dijadikan kesempatan bagi Demak untuk melepaskan diri dengan melakukan penyerangan terhadap Majapahit.

Setelah Majapahit hancur maka Demak berdiri sebagai kerajaan Islam pertama di pulau Jawa dengan rajanya yaitu Raden Patah. Kerajaan Demak secara geografis terletak di Jawa Tengah dengan pusat pemerintahannya di daerah Bintoro di muara sungai, yang dikelilingi oleh daerah rawa yang luas di perairan Laut Muria. (sekarang Laut Muria sudah merupakan dataran rendah yang dialiri sungai Lusi). Bintoro sebagai pusat kerajaan Demak terletak antara Bergola dan Jepara, di mana Bergola adalah pelabuhan yang penting pada masa berlangsungnya kerajaan Mataram (Wangsa Syailendra), sedangkan Jepara akhirnya berkembang sebagai pelabuhan yang penting bagi kerajaan Demak.

Untuk menambah pemahaman Anda tentang lokasi kerajaan Demak, maka simaklah gambar 8 berikut ini!
Gambar. Peta Lokasi Kerajaan Demak.

Setelah Anda menyimak gambar 8 tersebut maka simaklah kembali uraian materi berikutnya tentang perkembangan kerajaan Demak dalam berbagai kehidupan.

Kehidupan Politik
Lokasi kerajaan Demak yang strategis untuk perdagangan nasional, karena menghubungkan perdagangan antara Indonesia bagian Barat dengan Indonesia bagian Timur, serta keadaan Majapahit yang sudah hancur, maka Demak berkembang sebagai kerajaan besar di pulau Jawa, dengan rajanya yang pertama Raden Patah. Ia bergelar Sultan Alam Akbar al-Fatah 1500 – 1518.

Pada masa pemerintahannya Demak memiliki peranan yang penting dalam rangka penyebaran agama Islam khususnya di pulau Jawa, karena Demak berhasil menggantikan peranan Malaka, setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis 1511.

Kehadiran Portugis di Malaka merupakan ancaman bagi Demak di pulau Jawa. Untuk mengatasi keadaan tersebut maka pada tahun 1513 Demak melakukan penyerangan terhadap Portugis di Malaka, yang dipimpin oleh Adipati Unus atau terkenal dengan sebutan Pangeran Sabrang Lor.

Serangan Demak terhadap Portugis walaupun mengalami kegagalan namun Demak tetap berusaha membendung masuknya Portugis ke pulau Jawa. Pada masa pemerintahan Adipati Unus (1518 – 1521), Demak melakukan blokade pengiriman beras ke Malaka sehingga Portugis kekurangan makanan.

Puncak kebesaran Demak terjadi pada masa pemerintahan Sultan Trenggono (1521 – 1546), karena pada masa pemerintahannya Demak memiliki daerah kekuasaan yang luas dari Jawa Barat sampai Jawa Timur.Untuk menambah pemahaman Anda tentang kekuasaan Demak tersebut, simaklah gambar 9 peta kekuasaan Demak berikut ini.
Gambar  Peta Kekuasaan Demak.                                                              Setelah Anda mengamati gambar peta kekuasaan Demak tersebut, yang perlu Anda ketahui bahwa daerah kekuasaan tersebut berhasil dikembangkan antara lain karena Sultan Trenggono melakukan penyerangan terhadap daerah-daerah kerajaan-kerajaan Hindu yang mengadakan hubungan dengan Portugis seperti Sunda Kelapa (Pajajaran) dan Blambangan.

Penyerangan terhadap Sunda Kelapa yang dikuasai oleh Pajajaran disebabkan karena adanya perjanjian antara raja Pakuan penguasa Pajajaran dengan Portugis yang diperkuat dengan pembuatan tugu peringatan yang disebut Padrao. Isi dari Padrao tersebut adalah Portugis diperbolehkan mendirikan Benteng di Sunda Kelapa dan Portugis juga akan mendapatkan rempah-rempah dari Pajajaran.                                                                                                    Sebelum Benteng tersebut dibangun oleh Portugis, tahun 1526 Demak mengirimkan pasukannya menyerang Sunda Kelapa, di bawah pimpinan Fatahillah. Dengan penyerangan tersebut maka tentara Portugis dapat dipukul mundur ke Teluk Jakarta.

Kemenangan gemilang Fatahillah merebut Sunda Kelapa tepat tanggal 22 Juni 1527 diperingati dengan pergantian nama menjadi Jayakarta yang berarti Kemenangan Abadi.

Sedangkan penyerangan terhadap Blambangan (Hindu) dilakukan pada tahun 1546, di mana pasukan Demak di bawah pimpinan Sultan Trenggono yang dibantu oleh Fatahillah, tetapi sebelum Blambangan berhasil direbut Sultan Trenggono meninggal di Pasuruan.

Dengan meninggalnya Sultan Trenggono, maka terjadilah perebutan kekuasaan antara Pangeran Sekar Sedolepen (saudara Trenggono) dengan Sunan Prawoto (putra Trenggono) dan Arya Penangsang (putra Sekar Sedolepen).

Perang saudara tersebut diakhiri oleh Pangeran Hadiwijaya (Jaka Tingkir) yang dibantu oleh Ki Ageng Pemanahan, sehingga pada tahun 1568 Pangeran Hadiwijaya memindahkan pusat pemerintahan Demak ke Pajang. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Demak dan hal ini juga berarti bergesernya pusat pemerintahan dari pesisir ke pedalaman.

Dari penjelasan tersebut, apakah Anda sudah memahami? Kalau sudah paham simak uraian materi selanjutnya.

Kehidupan Ekonomi
Seperti yang telah dijelaskan pada uraian materi sebelumnya, bahwa letak Demak sangat strategis di jalur perdagangan nusantara memungkinkan Demak berkembang sebagai kerajaan maritim.

Dalam kegiatan perdagangan, Demak berperan sebagai penghubung antara daerah penghasil rempah di Indonesia bagian Timur dan penghasil rempah-rempah Indonesia bagian barat. Dengan demikian perdagangan Demak semakin berkembang. Dan hal ini juga didukung oleh penguasaan Demak terhadap pelabuhan-pelabuhan di daerah pesisir pantai pulau Jawa.

Sebagai kerajaan Islam yang memiliki wilayah di pedalaman, maka Demak juga memperhatikan masalah pertanian, sehingga beras merupakan salah satu hasil pertanian yang menjadi komoditi dagang. Dengan demikian kegiatan perdagangannya ditunjang oleh hasil pertanian, mengakibatkan Demak memperoleh keuntungan di bidang ekonomi.

Kehidupan Sosial Budaya
Kehidupan sosial dan budaya masyarakat Demak lebih berdasarkan pada agama dan budaya Islam karena pada dasarnya Demak adalah pusat penyebaran Islam di pulau Jawa.

Sebagai pusat penyebaran Islam Demak menjadi tempat berkumpulnya para wali seperti Sunan Kalijaga, Sunan Muria, Sunan Kudus dan Sunan Bonar.
Para wali tersebut memiliki peranan yang penting pada masa perkembangan kerajaan Demak bahkan para wali tersebut menjadi penasehat bagi raja Demak. Dengan demikian terjalin hubungan yang erat antara raja/bangsawan – para wali/ulama dengan rakyat. Hubungan yang erat tersebut, tercipta melalui pembinaan masyarakat yang diselenggarakan di Masjid maupun Pondok Pesantren. Sehingga tercipta kebersamaan atau Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan di antara orang-orang Islam).

Demikian pula dalam bidang budaya banyak hal yang menarik yang merupakan peninggalan dari kerajaan Demak. Salah satunya adalah Masjid Demak, di mana salah satu tiang utamanya terbuat dari pecahan-pecahan kayu yang disebut Soko Tatal. Masjid Demak dibangun atas pimpinan Sunan Kalijaga. Di serambi depan Masjid (pendopo) itulah Sunan Kalijaga menciptakan dasar-dasar perayaan Sekaten (Maulud Nabi Muhammad saw) yang sampai sekarang masih berlangsung di Yogyakarta dan Cirebon.

Untuk menambah pemahaman Anda tentang Masjid Demak tersebut, silahkan Anda amati gambar 10 berikut ini!


Gambar  Masjid Agung Demak.

Dilihat dari arsitekturnya, Masjid Agung Demak seperti yang tampak pada gambar 10 tersebut memperlihatkan adanya wujud akulturasi kebudayaan Indonesia Hindu dengan kebudayaan Islam. Anda masih ingat ciri-cirinya? Kalau Anda lupa, silahkan baca kembali kegiatan belajar 1, tetapi kalau Anda masih ingat, selamat untuk Anda! Berarti Anda benar-benar memahami uraian materi tersebut. Untuk itu Anda dapat mengerjakan latihan soal berikut ini.   

 

 

 

Latihan 2

1. Kerajaan Samudra Pasai berkembang pada abad …yang terletak di daerah ….
2. Keberadaan kerajaan Samudra Pasai dibuktikan dengan adanya ….
3. Peranan Samudra Pasai dalam bidang perdagangan adalah ….
4. Nilai yang dapat diambil dari keberadaan kerajaan Samudra Pasai adalah….
5. Raja-raja yang memerintah di Samudra Pasai antara lain ….

6. Sebutkan 3 peranan wali pada masa berlangsungnya kerajaan Demak!
7. Sebutkan 2 tindakan Sultan Trenggono dalam rangka mengembangkan kerajaan

Demak!
8. Sebutkan sebab kehancuran dari kerajaan Demak!

Bagaimana dengan jawaban Anda? Apakah Anda sudah puas? Untuk memantapkan hasilnya maka cocokkan jawaban Anda dengan kunci jawaban berikut ini!

  1. 1.       Abad 13 terletak di Kabupaten Lhokseumauwe, Aceh Utara.
  2. 2.       a. Catatan Marcopolo dari Venetia.
    b. Catatan Ibnu Batulah dari Maroko.
    c. Batu nisan Sultan Malik al-Saleh.
    d. Jirat Putri Pasai.
  3. 3.       Dengan letak yang strategis, maka Samudra Pasai berkembang sebagai kerajaan maritim dan memiliki hegemoni atas pelabuhan-pelabuhan yang penting di Pesisir Pantai Barat Sumatera serta berkembang sebagai Bandar Transito.
  4. 4.       Nilai keterbukaan dan kebersamaan dan penghormatan kepada setiap golongan masyarakat serta prinsip kepemimpinan yang dekat dengan rakyat.
  5. 5.       Sultan Malik al-Saleh (1285 – 1297).
    Sultan Muhammad (Malik al-Tahir I).
    Sultan Ahmad (Malik al-Tahir II).
    Sultan Zaenal Abidin (Malik al-Tahir III).
  6. 6.       a. Menyebarkan ajaran Islam kepada rakyat Demak.
    b. Menjadi penasehat raja-raja Demak.
    c. Melakukan pembinaan terhadap rakyat dalam bidang sosial maupun agama.
  7. 7.       a. Menentang Portugis dan memperluas wilayah kekuasaan Demak.
    b. Mengislamkan daerah-daerah yang masih dikuasai oleh kerajaan Hindu.
  8. 8.       Adanya perang saudara antara keluarga Sultan Trenggono dengan Arya Penangsang.

 

  1. 5.       Kerajaan Banten

Banten awalnya merupakan salah satu dari pelabuhan kerajaan Sunda. Pelabuhan ini direbut 1525 oleh gabungan dari tentara Demak dan Cirebon. Setelah ditaklukan daerah ini diislamkan oleh Sunan Gunung Jati. Pelabuhan Sunda lainnya yang juga dikuasai Demak adalah Sunda Kelapa, dikuasai Demak 1527, dan diganti namanya menjadi Jayakarta.

Kehidupan Politik
Berkembangnya kerajaan Banten tidak terlepas dari peranan raja-raja yang memerintah di kerajaan tersebut. Untuk memantapkan pemahaman Anda tentang raja-raja yang memerintah di Banten, simaklah silsilah raja-raja Banten berikut ini.                                                                                     Silsilah Raja-raja Banten sampai dengan Sultan Agung Tirtayasa

 

Setelah Anda menyimak silsilah raja-raja Banten tersebut, yang perlu Anda ketahui bahwa dalam perkembangan politiknya, selain Banten berusaha melepaskan diri dari kekuasaan Demak, Banten juga berusaha memperluas daerah kekuasaannya antara lain Pajajaran. Dengan dikuasainya Pajajaran, maka seluruh daerah Jawa Barat berada di bawah kekuasaan Banten. Hal ini terjadi pada masa pemerintahan raja Panembahan Yusuf.

Pada masa pemerintahan Maulana Muhammad, perluasan wilayah Banten diteruskan ke Sumatera yaitu berusaha menguasai daerah-daerah yang banyak menghasilkan lada seperti Lampung, Bengkulu dan Palembang. Lampung dan Bengkulu da

Banten tetapi Palembang mengalami kegagalan, bahkan Maulana Muhammad meninggal ketika melakukan serangan ke Palembang.

Dengan dikuasainya pelabuhan-pelabuhan penting di Jawa Barat dan beberapa daerah di Sumatera, maka kerajaan Banten semakin ramai untuk perdagangan, bahkan berkembang sebagai kerajaan maritim. Hal ini terjadi pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Pemerintahan Sultan Ageng, Banten mencapai puncak keemasannya Banten menjadi pusat perdagangan yang didatangi oleh berbagai bangsa seperti Arab, Cina, India, Portugis dan bahkan Belanda.

Belanda pada awalnya datang ke Indonesia, mendarat di Banten tahun 1596 tetapi karena kesombongannya, maka para pedagang-pedagang Belanda tersebut dapat diusir dari Banten dan menetap di Jayakarta.

Di Jayakarta, Belanda mendirikan kongsi dagang tahun 1602. Tentu nama kongsi dagang tersebut, bukanlah sesuatu yang asing bagi Anda, untuk itu tuliskan nama kongsi dagang tersebut dalam bahasa Indonesianya pada titik-titik di bawah ini.

 

Anda tanyakan kepada guru bina Anda, selanjutnya dapat Anda simak uraian materi berikutnya.

Selain mendirikan benteng di Jayakarta VOC akhirnya menetap dan mengubah nama Jayakarta menjadi Batavia tahun 1619, sehingga kedudukan VOC di Batavia semakin kuat. Adanya kekuasaan Belanda di Batavia, menjadi saingan bagi Banten dalam perdagangan. Persaingan tersebut kemudian berubah menjadi pertentangan politik, sehingga Sultan Ageng Tirtayasa sangat anti kepada VOC. Dalam rangka menghadapi Belanda/VOC, Sultan Ageng Tirtayasa memerintahkan melakukan perang gerilya dan perampokan terhadap Belanda di Batavia. Akibat tindakan tersebut, maka Belanda menjadi kewalahan menghadapi Banten. Untuk menghadapi tindakan Sultan Ageng Tirtayasa tersebut, maka Belanda melakukan politik adu-domba (Devide et Impera) antara Sultan Ageng dengan putranya yaitu Sultan Haji. Akibat dari politik adu-domba tersebut, maka terjadi perang saudara di Banten, sehingga Belanda dapat ikut campur dalam perang saudara tersebut. Belanda memihak Sultan Haji, yang akhirnya perang saudara tersebut dimenangkan oleh Sultan Haji. Dengan kemenangan Sultan Haji, maka Sultan Ageng Tirtayasa ditawan dan dipenjarakan di Batavia sampai meninggalnya tahun 1692. Dampak dari bantuan VOC terhadap Sultan Haji maka Banten harus membayar mahal, di mana Sultan Haji harus menandatangani perjanjian dengan VOC tahun 1684. Perjanjian tersebut sangat memberatkan dan merugikan kerajaan Banten, sehingga Banten kehilangan atas kendali perdagangan bebasnya, karena Belanda sudah memonopoli perdagangan di Banten. Akibat terberatnya adalah kehancuran dari kerajaan Banten itu sendiri karena VOC/Belanda mengatur dan mengendalikan kekuasaan raja Banten. Raja-raja Banten sejak saat itu berfungsi sebagai boneka.

Demikianlah uraian materi tentang kehidupan politik kerajaan Banten. Dari uraian tersebut, apakah Anda memahami? Kalau Anda sudah paham, simaklah uraian materi selanjutnya.

Kehidupan Ekonomi
Kerajaan Banten yang letaknya di ujung barat Pulau Jawa dan di tepi Selat Sunda merupakan daerah yang strategis karena merupakan jalur lalu-lintas pelayaran dan perdagangan khususnya setelah Malaka jatuh tahun 1511, menjadikan Banten sebagai pelabuhan yang ramai dikunjungi oleh para pedagang dari berbagai bangsa.

Pelabuhan Banten juga cukup aman, sebab terletak di sebuah teluk yang terlindungi oleh Pulau Panjang, dan di samping itu Banten juga merupakan daerah penghasil bahan ekspor seperti lada.

Selain perdagangan kerajaan Banten juga meningkatkan kegiatan pertanian, dengan memperluas areal sawah dan ladang serta membangun bendungan dan irigasi. Kemudian membangun terusan untuk memperlancar arus pengiriman barang dari pedalaman ke pelabuhan. Dengan demikian kehidupan ekonomi kerajaan Banten terus berkembang baik yang berada di pesisir maupun di pedalaman.

Kehidupan Sosial Budaya
Kehidupan masyarakat Banten yang berkecimpung dalam dunia pelayaran, perdagangan dan pertanian mengakibatkan masyarakat Banten berjiwa bebas, bersifat terbuka karena bergaul dengan pedagang-pedagang lain dari berbagai bangsa. Pedagang tersebut banyak yang menetap dan mendirikan perkampungan di Banten, seperti perkampungan Keling, perkampungan Pekoyan (Arab), perkampungan Pecinan (Cina) dan sebagainya.

Di samping perkampungan seperti tersebut di atas, ada perkampungan yang dibentuk berdasarkan pekerjaan seperti Kampung Pande (para pandai besi), Kampung Panjunan (pembuat pecah belah) dan kampung Kauman (para ulama).

Dalam bidang kebudayaan : kerajaan Bnaten pernah inggal seorang Syeikh yang bernama Syeikh Yusuf Makassar (1627-1699), ia sahabat dari Sultan Agung Tirtayasa, juga Kadhi di Kerajaan Banten yang menulis 23 buku. Selain itu di Banten pada akhir masa kesultanan lahir seorang ulama besar yaitu Muhammad Nawawi Al-bantani pernah menjadi Imam besar di Masjidil Haram. Ia wafat dan dimakamkan di Makkah, sedikitnya ia telah menulis 99 kitab dalam bidang Tafsir, Hadits, Sejarah, Hukum, tauhid dan lain-lain. Melihat kajiannya yang beragam menunjukkan ia seorang yang luas wawasannya. Salah satu contoh wujud akulturasi tampak pada bangunan Masjid Agung Banten, yang memperlihatkan wujud akulturasi antara kebudayaan Indonesia, Hindu, Islam di Eropa. Untuk lebih jelasnya, silahkan Anda amati bentuk Masjid Agung Banten seperti yang tampak pada gambar berikut ini. Masjid Agung Banten merupakan situs bersejarah di Kota Serang, Propinsi Banten. Masjid ini dibangun oleh Sultan Maulana Hasanuddin, putera Sunan Gunung Jati, sekitar tahun 1552—1570 M. Masjid ini memiliki keunikan  arsitektur terlihat pada rancangan atap masjid yang beratap susun lima, yang mirip dengan pagoda Cina,  menara masjid serta bangunan tiyamah yang berfungsi untuk tempat musyawarah dan kajian-kajian keagamaan. Selain sebagai obyek wisata ziarah, Masjid Agung Banten juga merupakan obyek wisata pendidikan dan sejarah. Dengan mengunjungi masjid ini, wisatawan dapat menyaksikan peninggalan bersejarah kerajaan Islam di Banten pada abad ke-16 M, serta melihat keunikan arsitekturnya yang merupakan perpaduan gaya Hindu Jawa, Cina, dan Eropa
Gambar  Masjid Agung Banten.

Setelah Anda mengamati gambar tersebut, silahkan Anda tulis ciri-ciri dari wujud akulturasi yang tampak pada Masjid Agung Banten tersebut pada titik-titik di bawah ini!

 

Selanjutnya untuk mengetahui kebenarannya dapat Anda tanyakan kepada guru bina Anda.

Yang perlu Anda ketahui bahwa arsitek Masjid Agung Banten tersebut adalah Jan Lucas Cardeel, seorang pelarian Belanda yang beragama Islam. Kepandaiannya dalam bidang bangunan dimanfaatkan oleh Sultan Ageng Tirtayasa untuk mendirikan bangunan-bangunan gaya Belanda (Eropa) seperti benteng kota Inten, pesanggrahan Tirtayasa dan bangunan Madrasah.

Demikianlah uraian materi tentang keberadaan kerajaan Banten. Untuk mengukur tingkat pemahaman Anda, kerjakanlah soal berikut ini dengan teliti dan cermat!

  1. 6.       Kerajaan Mataram

Nama kerajaan Mataram tentu sudah pernah Anda dengar sebelumnya dan ingatan Anda pasti tertuju pada kerajaan Mataram wangsa Sanjaya dan Syailendra pada zaman Hindu-Budha.

Kerajaan Mataram yang akan dibahas dalam modul ini, tidak ada hubungannya dengan kerajaan Mataram zaman Hindu-Budha. Mungkin hanya kebetulan nama yang sama. Dan secara kebetulan keduanya berada pada lokasi yang tidak jauh berbeda yaitu Jawa Tengah Selatan.

Pada awal perkembangannya kerajaan Mataram adalah daerah kadipaten yang dikuasai oleh Ki Gede Pamanahan. Daerah tersebut diberikan oleh Pangeran Hadiwijaya (Jaka Tingkir) yaitu raja Pajang kepada Ki Gede Pamanahan atas jasanya membantu mengatasi perang saudara di Demak yang menjadi latar belakang munculnya kerajaan Pajang.

Ki Gede Pamanahan memiliki putra bernama Sutawijaya yang juga mengabdi kepada raja Pajang sebagai komando pasukan pengawal raja. Setelah Ki Gede Pamanahan meninggal tahun 1575, maka Sutawijaya menggantikannya sebagai adipati di Kota Gede tersebut.

Setelah pemerintahan Hadiwijaya di Pajang berakhir, maka kembali terjadi perang saudara antara Pangeran Benowo putra Hadiwijaya dengan Arya Pangiri, Bupati Demak yang merupakan keturunan dari Raden Trenggono.

Akibat dari perang saudara tersebut, maka banyak daerah yang dikuasai Pajang melepaskan diri, sehingga hal inilah yang mendorong Pangeran Benowo meminta bantuan kepada Sutawijaya.

Atas bantuan Sutawijaya tersebut, maka perang saudara dapat diatasi dan karena ketidakmampuannya maka secara sukarela Pangeran Benowo menyerahkan takhtanya kepada Sutawijaya. Dengan demikian berakhirlah kerajaan Pajang dan sebagai kelanjutannya muncullah kerajaan Mataram.Lokasi kerajaan Mataram tersebut di Jawa Tengah bagian Selatan dengan pusatnya di kota Gede yaitu di sekitar kota Yogyakarta sekarang.

Dari penjelasan tersebut, apakah Anda sudah memahami? Kalau sudah paham, untuk mengetahui lebih lanjut tentang perkembangan kerajaan Mataram, maka simaklah uraian materi berikut ini.

Kehidupan Politik
Pendiri kerajaan Mataram adalah Sutawijaya. Ia bergelar Panembahan Senopati, memerintah tahun (1586 – 1601). Pada awal pemerintahannya ia berusaha menundukkan daerah-daerah seperti Ponorogo, Madiun, Pasuruan, dan Cirebon serta Galuh. Sebelum usahanya untuk memperluas dan memperkuat kerajaan Mataram terwujud, Sutawijaya digantikan oleh putranya yaitu Mas Jolang yang bergelar Sultan Anyakrawati tahun 1601 – 1613.

Sebagai raja Mataram ia juga berusaha meneruskan apa yang telah dilakukan oleh Panembahan Senopati untuk memperoleh kekuasaan Mataram dengan menundukkan daerah-daerah yang melepaskan diri dari Mataram. Akan tetapi sebelum usahanya selesai, Mas Jolang meninggal tahun 1613 dan dikenal dengan sebutan Panembahan Sedo Krapyak. Untuk selanjutnya yang menjadi raja Mataram adalah Mas Rangsang yang bergelar Sultan Agung Senopati ing alogo Ngabdurrahman, yang memerintah tahun 1613 – 1645. Sultan Agung merupakan raja terbesar dari kerajaan ini. Pada masa pemerintahannya Mataram mencapai puncaknya, karena ia seorang raja yang gagah berani, cakap dan bijaksana.

Pada tahun 1625 hampir seluruh pulau Jawa dikuasainya kecuali Batavia dan Banten. Untuk menambah pemahaman Anda tentang kekuasaan Mataram pada masa Sultan Agung maka simaklah gambar 12 berikut ini.
Gambar Daerah Kekuasaan Mataram.

Setelah Anda menyimak gambar 12 tersebut, yang perlu Anda ketahui bahwa daerah-daerah tersebut dipersatukan oleh Mataram antara lain melalui ikatan perkawinan antara adipati-adipati dengan putri-putri Mataram, bahkan Sultan Agung sendiri menikah dengan putri Cirebon sehingga daerah Cirebon juga mengakui kekuasaan Mataram.

Di samping mempersatukan berbagai daerah di pulau Jawa, Sultan Agung juga berusaha mengusir VOC Belanda dari Batavia. Untuk itu Sultan Agung melakukan penyerangan terhadap VOC ke Batavia pada tahun 1628 dan 1629 akan tetapi serangan tersebut mengalami kegagalan. Penyebab kegagalan serangan terhadap VOC antara lain karena jarak tempuh dari pusat Mataram ke Batavia terlalu jauh kira-kira membutuhkan waktu 1 bulan untuk berjalan kaki, sehingga bantuan tentara sulit diharapkan dalam waktu singkat. Dan daerah-daerah yang dipersiapkan untuk mendukung pasukan sebagai lumbung padi yaitu Kerawang dan Bekasi dibakar oleh VOC, sebagai akibatnya pasukan Mataram kekurangan bahan makanan. Dampak pembakaran lumbung padi maka tersebar wabah penyakit yang menjangkiti pasukan Mataram, sedangkan pengobatan belum sempurna. Hal inilah yang banyak menimbulkan korban dari pasukan Mataram. Di samping itu juga sistem persenjataan Belanda lebih unggul dibanding pasukan Mataram.

Untuk selanjutnya silahkan Anda diskusikan dengan teman-teman Anda mencari penyebab kegagalan yang lain serangan ke batavia. Hasil diskusi Anda dapat dikumpulkan pada guru bina Anda dan kemudian lanjutkan menyimak uraian materi selanjutnya.

Walaupun penyerangan terhadap Batavia mengalami kegagalan, namun Sultan Agung tetap berusaha memperkuat penjagaan terhadap daerah-daerah yang berbatasan dengan Batavia, sehingga pada masa pemerintahannya VOC sulit menembus masuk ke pusat pemerintahan Mataram.

Setelah wafatnya Sultan Agung tahun 1645, Mataram tidak memiliki raja-raja yang cakap dan berani seperti Sultan Agung, bahkan putranya sendiri yaitu Amangkurat I dan cucunya Amangkurat II, Amangkurat III, Paku Buwono I, Amangkurat IV, Paku Buwono II, Paku Buwono III merupakan raja-raja yang lemah. Sehingga pemberontakan terjadi antara lain Trunojoyo 1674-1679, Untung Suropati 1683-1706, pemberontakan Cina 1740-1748.

Kelemahan raja-raja Mataram setelah Sultan Agung dimanfaatkan oleh penguasa daerah untuk melepaskan diri dari kekuasaan Mataram juga VOC. Akhirnya VOC berhasil juga menembus ke ibukota dengan cara mengadu-domba sehingga kerajaan Mataram berhasil dikendalikan VOC.

VOC berhasil menaklukan Mataram melalui politik devide et impera, kerajaan Mataram dibagi dua melalui perjanjian Gianti tahun 1755. Sehingga Mataram yang luas hampir meliputi seluruh pulau Jawa akhirnya terpecah belah :
1. Kesultanan Yogyakarta, dengan Mangkubumi sebagai raja yang bergelar Sultan Hamengkubuwono I.
2. Kasunanan Surakarta yang diperintah oleh Sunan Paku Buwono III.

Belanda ternyata belum puas memecah belah kerajaan Mataram. Akhirnya melalui politik adu-domba kembali tahun 1757 diadakan perjanjian Salatiga. Mataram terbagi 4 wilayah yaitu sebagian Surakarta diberikan kepada Mangkunegaran selaku Adipati tahun 1757, kemudian sebagian Yogyakarta juga diberikan kepada Paku Alam selaku Adipati tahun 1813.

Demikianlah perkembangan politik kerajaan Mataram. Untuk menambah pemahaman Anda, buatlah silsilah raja-raja Mataram dari awal berdirinya Mataram sampai tahun 1757. Sebagai referensinya Anda dapat membaca buku paket Sejarah Nasional Jilid II (Depdikbud) di perpustakaan sekola induk Anda. Selanjutnya silahkan Anda simak uraian materi tentang kehidupan ekonomi dan sosial budaya berikut ini.

Kehidupan Ekonomi
Letak kerajaan Mataram di pedalaman, maka Mataram berkembang sebagai kerajaan agraris yang menekankan dan mengandalkan bidang pertanian. Sekalipun demikian kegiatan perdagangan tetap diusahakan dan dipertahankan, karena Mataram juga menguasai daerah-daerah pesisir. Dalam bidang pertanian, Mataram mengembangkan daerah persawahan yang luas terutama di Jawa Tengah, yang daerahnya juga subur dengan hasil utamanya adalah beras, di samping kayu, gula, kapas, kelapa dan palawija. Sedangkan dalam bidang perdagangan, beras merupakan komoditi utama, bahkan menjadi barang ekspor karena pada abad ke-17 Mataram menjadi pengekspor beras paling besar pada saat itu. Dengan demikian kehidupan ekonomi Mataram berkembang pesat karena didukung oleh hasil bumi Mataram yang besar. Dari penjelasan tersebut, apakah Anda sudah memahami? Kalau sudah paham, bandingkan dengan uraian materi selanjutnya.

Kehidupan Sosial Budaya
Sebagai kerajaan yang bersifat agraris, masyarakat Mataram disusun berdasarkan sistem feodal. Dengan sistem tersebut maka raja adalah pemilik tanah kerajaan beserta isinya. Untuk melaksanakan pemerintahan, raja dibantu oleh seperangkat pegawai dan keluarga istana, yang mendapatkan upah atau gaji berupa tanah lungguh atau tanah garapan. Tanah lungguh tersebut dikelola oleh kepala desa (bekel) dan yang menggarapnya atau mengerjakannya adalah rakyat atau petani penggarap dengan membayar pajak/sewa tanah. Dengan adanya sistem feodalisme tersebut, menyebabkan lahirnya tuan-tuan tanah di Jawa yang sangat berkuasa terhadap tanah-tanah yang dikuasainya. Sultan memiliki kedudukan yang tinggi juga dikenal sebagai panatagama yaitu pengatur kehidupan keagamaan. Sedangkan dalam bidang kebudayaan, seni ukir, lukis, hias dan patung serta seni sastra berkembang pesat. Hal ini terlihat dari kreasi para seniman dalam pembuatan gapura, ukiran-ukiran di istana maupun tempat ibadah. Contohnya gapura Candi Bentar di makam Sunan Tembayat (Klaten) diperkirakan dibuat pada masa Sultan Agung.

Untuk menambah pemahaman Anda tentang bentuk gapura Candi Bentar tersebut, silahkan Anda simak gambar 13 berikut ini.
Gambar. Candi Bentar di makam Sunan Tembayat.

Setelah Anda menyimak gambar 2.8 tersebut apa tanggapan Anda tentang gambar tersebut? Apakah ingatan Anda tertuju pada Candi Bentar peninggalan Majapahit? Kalau ya, berarti Anda benar, karena pada masa Sultan Agung banyak unsur-unsur budaya Hindu-Budha yang dipadukan dengan unsur budaya Islam.

Contoh lain hasil perpaduan budaya Hindu-Budha-Islam adalah penggunaan kalender Jawa, adanya kitab filsafat sastra gending dan kitab undang-undang yang disebut Surya Alam. Contoh-contoh tersebut merupakan hasil karya dari Sultan Agung sendiri.

Di samping itu juga adanya upacara Grebeg pada hari-hari besar Islam yang ditandai berupa kenduri Gunungan yang dibuat dari berbagai makanan maupun hasil bumi. Upacara Grebeg tersebut merupakan tradisi sejak zaman Majapahit sebagai tanda terhadap pemujaan nenek moyang.

Untuk menambah pemahaman Anda tentang Kenduri Gunungan, silahkan Anda simak gambar 14 berikut ini.

Latihan  3

1. Jelaskan latar belakang berdirinya kerajaan Banten!
2. Sebutkan 3 faktor yang menjadikan Banten sebagai kerajaan Maritim!
3. Jelaskan tentang akhir dari pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa!

4. Jelaskan latar belakang berdirinya kerajaan Mataram!
5. Sebutkan tindakan-tindakan Sultan Agung sebagai raja Mataram!
6. Sebutkan sebab-sebab kehancuran dari kerajaan Mataram!

Bagaimana dengan jawaban Anda? Untuk meyakinkan akan kebenaran jawaban Anda, silahkan cocokkan dengan kunci jawabannya berikut ini.

  1. Banten pada awalnya merupakan daerah pelabuhan di bawah kekuasaan Pajajaran, tetapi akhirnya dapat direbut oleh Demak yang dipimpin oleh Fatahillah. Kemudian daerah tersebut diislamkan oleh Fatahillah dan diserahkan kepada putranya Hasannudin. Ketika Demak mengalami kekacauan, Banten melepaskan diri dari kekuasaan Demak dan berdiri sebagai suatu kerajaan dengan Hasannudin sebagai raja yang pertama.
  2. a. Banten terletak di Selat Sunda dan merupakan pelabuhan yang cukup aman sehingga letaknya strategis.
    b. Banten merupakan daerah penghasil bahan-bahan ekspor seperti lada.
    c. Banten menjadi pelabuhan yang ramai setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis 1511.
  3. Sultan Ageng Tirtayasa sebagai raja Banten sangat anti pada VOC Belanda sehingga selalu berusaha menyerang VOC. Hal tersebut dibalas oleh VOC dengan mengadu-domba antara Sultan Ageng dengan putra mahkotanya yaitu Sultan Haji. Sultan Ageng dapat dikalahkan oleh Sultan Haji atas bantuan VOC. Sultan Ageng ditangkap dan ditawan sampai meninggal tahun 1682.
  4. Berdirinya kerajaan Mataram tidak terlepas dari perang saudara di Pajang. Karena setelah kematian Pangeran Hadiwijaya, raja Pajang, maka terjadi perebutan kekuasaan antara Pangeran Benowo putra Hadiwijaya dengan Arya Pangiri keturunan Pangeran Trenggono. Untuk menghadapi Arya Pangiri, Pangeran Benowo meminta bantuan kepada Sutawijaya, sehingga Sutawijaya berhasil mengatasi perebutan kekuasaan tersebut. Atas jasanya secara sukarela Pangeran Benowo menyerahkan takhta Pajang kepada Sutawijaya sehingga Sutawijaya mendirikan kerajaan Mataram.
  5. a. Menundukkan daerah-daerah yang melepaskan diri untuk memperluas wilayah kekuasaannya.
    b. Mempersatukan daerah-daerah kekuasaannya melalui ikatan perkawinan.
    c. Melakukan penyerangan terhadap VOC di Batavia tahun 1628 dan 1629.
    d. Memajukan ekonomi Mataram.
    e. Memadukan unsur-unsur budaya Hindu, Budha dan Islam.
  1. a. Tidak adanya raja-raja yang cakap seperti Sultan Agung.
    b. Banyaknya daerah-daerah yang melepaskan diri.
    c. Adanya campur tangan VOC terhadap pemerintahan Mataram.
    d. Adanya politik pemecah-belah VOC melalui perjanjian Gianti 1755 dan Salatiga  1757.
  1.  Kerajaan Gowa – Tallo

Di Sulawesi Selatan pada abad 16 terdapat beberapa kerajaan di antaranya Gowa, Tallo, Bone, Sopeng, Wajo dan Sidenreng. Untuk mengetahui letak kerajaan-kerajaan tersebut, silahkan Anda amati peta dibawah ini.

 

 

Gambar  Peta lokasi kerajaan Gowa – Tallo.

Masing-masing kerajaan tersebut membentuk persekutuan sesuai dengan pilihan masing-masing.

Salah satunya adalah kerajaan Gowa dan Tallo membentuk persekutuan pada tahun 1528, sehingga melahirkan suatu kerajaan yang lebih dikenal dengan sebutan kerajaan Makasar. Nama Makasar sebenarnya adalah ibukota dari kerajaan Gowa dan sekarang masih digunakan sebagai nama ibukota propinsi Sulawesi Selatan.

Secara geografis daerah Sulawesi Selatan memiliki posisi yang sangat strategis, karena berada di jalur pelayaran (perdagangan Nusantara). Bahkan daerah Makasar menjadi pusat persinggahan para pedagang baik yang berasal dari Indonesia bagian Timur maupun yang berasal dari Indonesia bagian Barat. Dengan posisi strategis tersebut maka kerajaan Makasar berkembang menjadi kerajaan besar dan berkuasa atas jalur perdagangan Nusantara.

Kehidupan Politik
Penyebaran Islam di Sulawesi Selatan dilakukan oleh Datuk Robandang dari Sumatera, sehingga pada abad 17 agama Islam berkembang pesat di Sulawesi Selatan, Raja Makasar yang pertama memeluk agama Islam adalah Sultan Alaudin yang memerintah Makasar tahun 1593 – 1639 dan dibantu oleh Daeng Manrabia (Raja Tallo) sebagai Mangkubumi bergelar Sultan Abdullah. Sejak pemerintahan Sultan Alaudin kerajaan Makasar berkembang sebagai kerajaan maritim dan berkembang pesat pada masa pemerintahan raja Malekul Said (1639 – 1653).

Selanjutnya kerajaan Makasar mencapai puncak kebesarannya pada masa pemerintahan Sultan Hasannudin (1653 – 1669). Pada masa pemerintahannya Makasar berhasil memperluas wilayah kekuasaannya yaitu dengan menguasai daerah-daerah yang subur serta daerah-daerah yang dapat menunjang keperluan perdagangan Makasar. Perluasan daerah Makasar tersebut sampai ke Nusa Tenggara Barat.

Untuk menambah pemahaman Anda tentang daerah kekuasaan Makasar, silahkan Anda simak peta berikut ini.

 

Gambar  Peta lokasi kerajaan Makasar.

Setelah Anda menyimak peta tersebut, maka simaklah uraian materi selanjutnya.

8.  Kerajaan Makasar

Daerah kekuasaan Makasar luas, seluruh jalur perdagangan di Indonesia Timur dapat dikuasainya. Sultan Hasannudin terkenal sebagai raja yang sangat anti kepada dominasi asing. Oleh karena itu ia menentang kehadiran dan monopoli yang dipaksakan oleh VOC yang telah berkuasa di Ambon. Untuk itu hubungan antara Batavia (pusat kekuasaan VOC di Hindia Timur) dan Ambon terhalangi oleh adanya kerajaan Makasar. Dengan kondisi tersebut maka timbul pertentangan antara Sultan Hasannudin dengan VOC, bahkan menyebabkan terjadinya peperangan.

Dalam peperangan melawan VOC, Sultan Hasannudin memimpin sendiri pasukannya untuk memporak-porandakan pasukan Belanda di Maluku. Akibatnya kedudukan Belanda semakin terdesak. Atas keberanian Sultan Hasannudin tersebut maka Belanda memberikan julukan padanya sebagai Ayam Jantan dari Timur. Upaya Belanda untuk mengakhiri peperangan dengan Makasar yaitu dengan melakukan politik adu-domba antara Makasar dengan kerajaan Bone (daerah kekuasaan Makasar). Raja Bone yaitu Aru Palaka yang merasa dijajah oleh Makasar meminta bantuan kepada VOC untuk melepaskan diri dari kekuasaan Makasar. Sebagai akibatnya Aru Palaka bersekutu dengan VOC untuk menghancurkan Makasar.

Akibat persekutuan tersebut akhirnya Belanda dapat menguasai ibukota kerajaan Makasar. Dan secara terpaksa kerajaan Makasar harus mengakui kekalahannya dan menandatangai perjanjian Bongaya tahun 1667 yang isinya tentu sangat merugikan kerajaan Makasar.

Isi dari perjanjian Bongaya antara lain:
a. VOC memperoleh hak monopoli perdagangan di Makasar.
b. Belanda dapat mendirikan benteng di Makasar.
c. Makasar harus melepaskan daerah jajahannya seperti Bone dan pulau-pulau di luar Makasar.
d. Aru Palaka diakui sebagai raja Bone.

Walaupun perjanjian telah diadakan, tetapi perlawanan Makasar terhadap Belanda tetap berlangsung. Bahkan pengganti dari Sultan Hasannudin yaitu Mapasomba (putra Hasannudin) meneruskan perlawanan melawan Belanda.                                               

Sultan Hasannudin dan Makamnya serta Benteng Fort Rotterdam

Makam Sultan Hasanuddin terletak di komplek pemakaman raja-raja Gowa di Katangka Somba Opu Gowa Sulawesi Selatan. Di tempat yang sama dimakamkan pula Sultan Alauddin (Raja yang mengembangkan agama Islam pertama di Kerajaan Gowa) dan disebelah kiri depan komplek makam, terdapat lokasi tempat pelantikan raja Gowa yang bernama Batu Pallantikan. Menurut tulisan yang terukir di makamnya, beliau lahir tahun 1629, menjadi raja tahun 1652, meletakkan jabatan tahun 1668 dan wafat tanggal 12 Juni 1670. Dimakamnya jg tertera nama Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe Mohammad Bakir yang merupakan nama kecil Sultan Hasanuddin

Untuk menghadapi perlawanan rakyat Makasar, Belanda mengerahkan pasukannya secara besar-besaran dan membangun Benteng  Fort Rotterdam, salah satu benteng peninggalan Belanda yang pernah dibangun di Indonesia dan masih terawat hingga kini (bahkan Barbara Crossette di New York Times menuliskannya sebagai the best preserved Dutch fort in Asia) adalah  Fort Rotterdam yang berlokasi di Jl. Ujung Pandang No.1 Makassar.. Akhirnya Belanda dapat menguasai sepenuhnya kerajaan Makasar, dan Makasar mengalami kehancurannya.

  1. 1.    Kehidupan Ekonomi
    Seperti yang telah Anda ketahui bahwa kerajaan Makasar merupakan kerajaan Maritim dan berkembang sebagai pusat perdagangan di Indonesia bagian Timur. Hal ini ditunjang oleh beberapa faktor seperti letak yang strategis, memiliki pelabuhan yang baik serta didukung oleh jatuhnya Malaka ke tangan Portugis tahun 1511 yang menyebabkan banyak pedagang-pedagang yang pindah ke Indonesia Timur.     Sebagai pusat perdagangan Makasar berkembang sebagai pelabuhan internasional dan banyak  disinggahi oleh pedagang-pedagang asing seperti Portugis, Inggris, Denmark dan sebagainya yang datang untuk berdagang di
  2. 2.    Kehidupan Sosial Budaya
    Sebagai negara Maritim, maka sebagian besar masyarakat Makasar adalah nelayan dan pedagang. Mereka giat berusaha untuk meningkatkan taraf kehidupannya, bahkan tidak jarang dari mereka yang merantau untuk menambah kemakmuran hidupnya.

Masyarakat Makasar juga mengenal pelapisan sosial yang terdiri dari lapisan atas yang merupakan golongan bangsawan dan keluarganya disebut dengan “Anakarung/Karaeng”, sedangkan rakyat kebanyakan disebut “to Maradeka” dan masyarakat lapisan bawah yaitu para hamba-sahaya disebut dengan golongan “Ata”.

Dari segi kebudayaan, maka masyarakat Makasar banyak menghasilkan benda-benda budaya yang berkaitan dengan dunia pelayaran. Mereka terkenal sebagai pembuat kapal. Jenis kapal yang dibuat oleh orang Makasar dikenal dengan nama Pinisi dan Lombo.

  1. 9.       Kerajaan Ternate

Kolano Marhum (1465-1486), penguasa Ternate ke-18 adalah raja pertama yang diketahui memeluk Islam bersama seluruh kerabat dan pejabat istana. Pengganti Kolano Marhum adalah puteranya, Zainal Abidin (1486-1500). Beberapa langkah yang diambil Sultan Zainal Abidin adalah meninggalkan gelar Kolano dan menggantinya dengan Sultan, Islam diakui sebagai agama resmi kerajaan, syariat Islam diberlakukan, membentuk lembaga kerajaan sesuai hukum Islam dengan melibatkan para ulama. Langkah-langkahnya ini kemudian diikuti kerajaan lain di Maluku secara total, hampir tanpa perubahan.

Kedatangan Portugis                                                                                                                          Di masa pemerintahan Sultan Bayanullah (1500-1521), Ternate semakin berkembang, rakyatnya diwajibkan berpakaian secara islami, teknik pembuatan perahu dan senjata yang diperoleh dari orang Arab dan Turki digunakan untuk memperkuat pasukan Ternate. Tahun 1512 Portugis untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Ternate dibawah pimpinan Fransisco Serrao, atas persetujuan Sultan, Portugis diizinkan mendirikan pos dagang di Ternate. Portugis datang bukan semata – mata untuk berdagang melainkan untuk menguasai perdagangan rempah – rempah Pala dan Cengkih di Maluku.

Sultan Khairun bertekad mengusir Portugis dari Maluku. Tindak – tanduk Portugis menimbulkan kemarahan rakyat. Sejak masa sultan Bayanullah, Ternate telah menjadi salah satu dari tiga kesultanan terkuat dan pusat Islam utama di Nusantara abad ke-16 selain Aceh dan Demak setelah kejatuhan kesultanan Malaka tahun 1511. Ketiganya membentuk Tripple Alliance untuk membendung sepak terjang Portugis di Nusantara.

Tak ingin menjadi Malaka kedua, sultan Khairun mengobarkan perang pengusiran Portugis. Kedudukan Portugis kala itu sudah sangat kuat, selain memiliki benteng dan kantong kekuatan di seluruh Maluku mereka juga memiliki sekutu – sekutu suku pribumi yang bisa dikerahkan untuk menghadang Ternate. Dengan adanya Aceh dan Demak yang terus mengancam kedudukan Portugis di Malaka, Portugis di Maluku kesulitan mendapat bala bantuan hingga terpaksa memohon damai kepada sultan Khairun. Secara licik Gubernur Portugis, Lopez de Mesquita mengundang Sultan Khairun ke meja perundingan dan akhirnya dengan kejam membunuh Sultan yang datang tanpa pengawalnya.

Pembunuhan Sultan Khairun semakin mendorong rakyat Ternate untuk menyingkirkan Portugis, bahkan seluruh Maluku kini mendukung kepemimpinan dan perjuangan Sultan Baabullah (1570-1583), pos-pos Portugis di Maluku dan wilayah timur Indonesia digempur, setelah peperangan selama 5 tahun, akhirnya Portugis meninggalkan Maluku untuk selamanya tahun 1575.

Kemenangan rakyat Ternate ini merupakan kemenangan pertama putera-putera nusantara atas kekuatan barat. Dibawah pimpinan Sultan Baabullah, Ternate mencapai puncak kejayaan, wilayah membentang dari Sulawesi Utara dan Tengah di bagian barat hingga kepulauan Marshall dibagian timur, dari Philipina (Selatan) dibagian utara hingga kepulauan Nusa Tenggara dibagian selatan. Sultan Baabullah dijuluki “penguasa 72 pulau” yang semuanya berpenghuni. Kesultanan Ternate sebagai kerajaan islam terbesar di Indonesia timur, disamping Aceh dan Demak yang menguasai wilayah barat dan tengah nusantara kala itu. Periode keemasaan tiga kesultanan ini selama abad 14 dan 15 entah sengaja atau tidak dikesampingkan dalam sejarah bangsa ini padahal mereka adalah pilar pertama yang membendung kolonialisme barat.

Kedatangan Belanda                                                                                                                Sepeninggal Sultan Baabullah Ternate mulai melemah, Spanyol yang telah bersatu dengan Portugis tahun 1580 mencoba menguasai kembali Maluku dengan menyerang Ternate. Dengan kekuatan baru Spanyol memperkuat kedudukannya di Filipina, kekalahan demi kekalahan yang diderita memaksa Ternate meminta bantuan Belanda tahun 1603. Ternate akhirnya sukses menahan Spanyol namun dengan imbalan yang amat mahal. Belanda akhirnya secara perlahan-lahan menguasai Ternate, 26 Juni 1607 Sultan Ternate menandatangani kontrak monopoli VOC di Maluku sebagai imbalan bantuan Belanda melawan Spanyol. Th 1607 Belanda membangun benteng Oranje di Ternate yang merupakan benteng pertama mereka di nusantara.

Sejak awal hubungan yang tidak sehat dan tidak seimbang antara Belanda dan Ternate menimbulkan ketidakpuasan para penguasa dan bangsawan Ternate. Diantaranya adalah pangeran Hidayat (15?? – 1624), Raja muda Ambon yang juga merupakan mantan wali raja Ternate ini memimpin oposisi yang menentang kedudukan sultan dan Belanda. Ia mengabaikan perjanjian monopoli dagang Belanda dengan menjual rempah – rempah kepada pedagang Jawa dan Makassar.

Perlawanan rakyat Maluku dan kejatuhan Ternate                                                                               Semakin lama cengkeraman dan pengaruh Belanda pada sultan – sultan Ternate semakin kuat, Belanda dengan leluasa mengeluarkan peraturan yang merugikan rakyat lewat perintah sultan,  menimbulkan kekecewaan semua kalangan. Sepanjang abad ke-17, setidaknya ada 4 pemberontakan yang dikobarkan bangsawan Ternate dan rakyat Maluku.Akan tetapi karena keunggulan militer serta persenjataan yang lebih lengkap dimiliki Belanda perlawanan tersebut berhasil dipatahkan,  Sempat muncul keinginan pemerintah Hindia Belanda untuk menghapus kesultanan Ternate namun niat itu urung dilaksanakan karena khawatir akan reaksi keras yang bisa memicu pemberontakan baru sementara Ternate berada jauh dari pusat pemerintahan Belanda di Batavia.

 

Warisan Ternate                                                                                                                                  Imperium nusantara timur yang dipimpin Ternate memang telah runtuh sejak pertengahan abad ke-17 namun pengaruh Ternate sebagai kerajaan dengan sejarah yang panjang masih terus terasa hingga berabad kemudian. Ternate memiliki andil yang sangat besar dalam kebudayaan nusantara bagian timur khususnya Sulawesi (utara dan pesisir timur) dan Maluku. Pengaruh itu mencakup agama, adat istiadat dan bahasa.

Sebagai kerajaan pertama yang memeluk Islam Ternate memiliki peran yang besar dalam upaya pengislaman dan pengenalan syariat-syariat Islam di wilayah timur nusantara dan bagian selatan Filipina. Bentuk organisasi kesultanan serta penerapan syariat Islam yang diperkenalkan pertama kali oleh sultan Zainal Abidin menjadi standar yang diikuti semua kerajaan di Maluku hampir tanpa perubahan yang berarti. Keberhasilan rakyat Ternate dibawah sultan Baabullah dalam mengusir Portugis tahun 1575 merupakan kemenangan pertama pribumi nusantara atas kekuatan barat, oleh karenanya almarhum Buya Hamka bahkan memuji kemenangan rakyat Ternate ini telah menunda penjajahan barat atas bumi nusantara selama 100 tahun sekaligus memperkokoh kedudukan Islam, dan sekiranya rakyat Ternate gagal niscaya wilayah timur Indonesia akan menjadi pusat kristen seperti halnya Filipina.

  1. 10.    Kesultanan Tidore                                                                                                                 Tidore adalah kerajaan Islam yang berpusat di wilayah Kota Tidore, Maluku Utara, sekarang. Pada masa kejayaannya (sekitar abad ke-16 sampai abad ke-18), kerajaan ini menguasai sebagian besar Halmahera selatan, Pulau Buru, Ambon, dan banyak pulau-pulau di pesisir Papua barat.

Pada tahun 1521, Sultan Mansur dari Tidore menerima Spanyol sebagai sekutu untuk mengimbangi kekuatan Kesultanan Ternate saingannya yang bersekutu dengan Portugis. Setelah mundurnya Spanyol dari wilayah tersebut pada tahun 1663 karena protes dari pihak Portugis sebagai pelanggaran terhadap Perjanjian Tordesillas 1494, Tidore menjadi salah kerajaan paling independen di wilayah Maluku. Terutama di bawah kepemimpinan Sultan Saifuddin (memerintah 16571689), Tidore berhasil menolak pengusaan VOC terhadap wilayahnya dan tetap menjadi daerah merdeka hingga akhir abad ke-18.

Demikianlah uraian materi tentang kerajaan Makasar (Gowa dan Tallo), Ternate dan Tidure  maka untuk menguji tingkat pemahaman Anda silahkan kerjakan latihan soal berikut ini.

 

 

 

 

 

 

 

Latihan 4

  1. Sebutkan 3 faktor yang menjadikan Makasar berkembang sebagai pusat perdagangan di Indonesia Timur!
    a. ….
    b. ….
    c. ….
  2. Sebutkan 2 dampak dari isi perjanjian Bongaya dalam bidang politik terhadap kerajaan Makasar!
    a. ….
    b. ….
  3. Akibat kekalahan Makasar terhadap Belanda antara lain:
    a. ….
    b. ….
  4. Jelaskan warisan yang ditinggalkan Kerajaan Ternate turutama yang berpengaruh besar terhadap Indonesia bahagian timur ….
  5. Mengapa Sultan Mansur dari Tidure mau bekerjama dengan Spanyol ….

Soal Ojektif

  1. Sultan Hasannudin dari Makasar mendapat julukan Ayam Jantan dari Timur karena….
    A. membantu perluasan Kompeni
    B. keberanian menentang Kompeni
    C. membantu perjuangan rakyat Maluku
    D. menguasai jalur perekonomian Nusantara
    E. berhasil mengalahkan Kompeni.
  2. VOC Belanda berhasil menguasai kerajaan Makasar abad ke-17 setelah bersekutu dengan kerajaan ….
    A. Wajo
    B. Bone
    C. Soppeng
    D. Rapang
    E. Sidenreng.
  3. Rakyat Maluku bangkit menentang Portugis di bawah pimpinan Sultan Hairun karena….
    A. terbunuhnya Sultan Zaenal Abidin di benteng Sao Paolo
    B. tindakan sewenang-wenang bangsa Portugis
    C. serangan Portugis terhadap istana Ternate
    D. berkembangnya ajaran Katholik di Ternate
    E. kebencian rakyat terhadap Portugis.
  4. Sultan Baabullah dalam perangnya melawan bangsa asing tahun 1570 – 1575 berhasil….
    A. mengusir Portugis dari Maluku Utara
    B. mengalahkan Portugis di Tidore
    C. mengalahkan Portugis di Maluku Selatan
    D. mengadu domba antara Portugis dan Spanyol
    E. menghancurkan benteng Sao Paolo di Tidore.
  5. Wilayah kekuasaan kerajaan Tidure pada masa kejayaannya, Kecuali                                         a.  Halmahera                                                                                                                                     b.  Ambon                                                                                                                                      c.  Pulau Rotti                                                                                                                           d. Pulau Buru                                                                                                                                          e. Papua Barat

Bagaimana dengan jawaban Anda? Apakah Anda yakin dengan jawaban Anda sendiri? Kalau Anda belum yakin silahkan cocokkan dengan kunci jawabannya berikut ini!

  1. a. Letaknya strategis di jalur perdagangan internasional.
    b. Memiliki pelabuhan yang baik.
    c. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis tahun 1511.
  2. a. VOC berkuasa di Makasar.
    b. Daerah kekuasaan Makasar semakin sempit karena banyak daerah-daerah yang melepaskan diri.
  3. a. Peranan Makasar sebagai penguasa pelayaran dan perdagangan di Indonesia Timur berakhir.
    b. Belanda dapat menguasai Makasar yang berarti menguasai perdagangan di Indonesia Timur. Setelah Anda dapat mencocokkan dengan kunci jawaban tersebut, maka Anda dapat menyimak uraian materi kerajaan berikutnya.

 

 

 

Kegiatan   3

Akulturasi Tradisi Lokal dengan Kebudayaan  Hindu-Budha dan Islam di Indonesia

 

Keragaman suku bangsa merupakan kondisi yang objek di Indonesia, setiap suku memiliki

kepercayaan dan sosial budaya lokal masing-masing serta memilki cara pandang yang

berbeda satu dengan lainnya. Mereka melakukan berbagai cara dalammeujudkan kepercayaan  dan sosial budaya yang dimiliki sesuai  dengan pola pikirnya.

 

Masuknya budaya Hindu-Budha membawa perobahan dalam kehidupan masyarakat Indonesia melalui proses akulturasi, hal ini disebabkan masyakat memiliki dasar-dasar Kebudayaan yang kuat sehingga masuknya budaya luar dapat menambah hasanah ke – budayaan mereka dan memiliki kecakapan untuk menerima unsur-unsur budaya luar dan mengolahnya sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia, kemudian masuk lagi Islam, Indonesia kembali mengalami proses akulturasi (proses bercampurnya dua (lebih) kebudayaan karena percampuran bangsa-bangsa dan saling mempengaruhi), yang melahirkan kebudayaan baru yaitu kebudayaan Islam Indonesia. Masuknya Islam tersebut tidak berarti kebudayaan Hindu dan Budha hilang.

Bentuk budaya sebagai hasil dari proses akulturasi tersebut, tidak hanya bersifat kebendaan/material tetapi juga menyangkut perilaku masyarakat Indonesia.

Untuk lebih memahami wujud budaya yang sudah mengalami proses akulturasi dapat Anda simak dalam uraian materi berikut ini.

 

  1. I.        Bentuk Akulturasi
    1. A.     Sistem Kepercayaan

Bangsa Indonesia telah memiliki kepercayaan berupa pemujaan terhadap roh nenek moyang,benda tertentu dan tempat tertentu. Kepercayaan itu disebut Animisme dan dinamisme,sedangkan Agama Hindu-Budha dari India memuja para dewa sehingga terjadi akulturasi. Contoh  candi di India berfungsi sebagai temapat pemujaan dewa sedang di Indonesia terlihat ada unsur pemujaan roh nenek moyang karena candi   juga berfungsi sebagai makam raja dan arca raja sebagai perwujudan dewa, serta upacara Nyepi yang dilaksanakan umat Hindu Bali. Upacara pemujaan terhadap dewa pada candi pada hakikatnya juga merupakan Pemujaan terhadap roh nenek moyang. Dalam memperingati hari besar Islam dan acara sukuran dapat kita lihat adanya hasil akulturasi seperti Tabuik, Kenduri Gunungan.upacara Grebeg dan lainya. Sekarang coba anda member contoh yang ada di lingkungan sekitar tempat tinggal anda.

  1. B.     Sistem Pemerintahan

Indonesia telah mengenal sistem pemerintahan seorang Kepala Suku yang dipilihSecara demokratis oleh kelompok sukunya, yang terpilih memiliki kelebihan darianggota sukunya (primes inter press). Setelah masuk pengaruh Hindu-Budha dengasistem  pemerintanhan raja secara turun temurun. Namun dalam perkembangan  raja di Indonesia dipuja sebagai dewa atau keturunan. Dewa yang kramat sehingga rakyat sangat memuja raja seperti raja Kartanegara Singosari diwujudkan sebagai Bairawa dan Raja Reden Wijaya dari Majapahit Sebagai Dewa Syiwa. Pemerintahan raja di Indonesia ada yang turun temurun dan ada yang menerapkan prinsip musyawarah seperti pengangkatan Raja Wikrama wardana dari Majapahit. Setelah masuk pengaruh Islam terjadi perobahan dimana gelar raja menjadi Sultan dan Sultan tidak dianggap sebagai kerunan dewa, tetapi dianggap pemimpin atau Imam. Namun dalam hal kekuasaan tetap sama dan turun temurun

 

  1. C.  Bidang Kesenian
    1. a.    Seni Rupa     

Seni rupa dari India telah masuk ke Indonesia terbukti di temukannya patung Budha berlanggam Gandara di kota Bangun Kutai dan patung Budha Amarawati di sikendang Sulawesi Selatan. Wujud akulturasi dapat kita lihat pada relief dinding candi yang banyak menggambarkan suatu kisah/ cerita, seperti candi Borobudur pada umumnya menceritakan sang Budha sedang digoda oleh Mara yang menari-                                                                                                    nari diiringi gendang dan relief menunjukan suasana alam Indonesia, masyarakat, rumah panggung,dan burung merpati. Demikian juga candi Prambanan dan candi Panataran (Hindu) reliefnya mengambil Kisah Ramayana

Sedangkan tradisi Islam tidak menggambarkan bentuk manusia atau hewan. Seni ukir relief yang menghias Masjid, makam Islam dapat dilihat ukiran bangunan makam terutama hiasan jirat susunan bingkainya meniru bingkai candi. Berkembangnya seni kaligrafi dan seni hias dengan tulisan arab, menghiasi dinding masjid, motif hiasan batik, hiasan keris, hiasan batu nisan,hiasan ukiran Japara dan hiasan pada dinding rumah  terjadi pula Sinkretisme (hasil perpaduan dua aliran seni logam), agar didapat keserasian, seperti  ragam hias pada gambar kaligrafidi bawah ini.

 

                       Gambar Kaligrafi

Ukiran ataupun hiasan seperti pada gambar di atas, selain ditemukan di masjid juga ditemukan pada gapura-gapura atau pada pintu dan tiang.

  1. Seni Sastra

Seni sastra India ikut memberi corak dalam seni sastra di Indonesia dapat kita lihat dalam kisah Kitab Ramayana yang ditulis oleh Walmiki  dan kitab Mahabarata yang ditulis oleh Wiyasa. Kedua kitab ini merupakankitab kepercayaan umat Hindu , tetapi setelah berkembang di Indonesia tidak sama proses seperti aslinya karena sudah disadur kembali oleh pujangga-pujangga Indonesia kedalam bahasa Jawa Kuno. Tokoh-tokoh cerita dalam kisah tersebut ditambah dengan hadirnya tokoh Punokawan seperti Semar, Bagong, Petruk dan Gareng, bahkan dalam kitab Bratayudda yang disadurkan dari kitab Mahabarata tidak menceritakan perang antar Pandawa dan Kurawa melainkan menceritakan kemenangan Jayabaya dari Kediri melawan Jenggala. Disamping itu kisah Ramayana dan Mahabarata dijadikan sebagai suatu cerita dalam pertunjukan Wayang, tokoh Durna dalam kitab Mahabarata dalam cerita sebagai maha guru bagi Pandawa dan Kurawa yang berperilaku baik, tetapi dalam tokoh di Indonesia Durna adalah tokoh yang berperilaku buruk dan suka menghasut.

 

Lain lagi cara penulisan karya sastra pada zaman Islam dilakukan dalam bentuk tembang atau gancaran, cerita yang ditulis dalam bentuk  gancaran di sebut hikayat, sedangkancerita dalam bentuk tembang disebut syair. Pengaruh yang kuat dalam karya sastra pada zaman Islam berasal dari Persia misalanya Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Bayam Budiman, dan cerita Seribu Malam (alf laila wa laila). Seni sastra  yang muncul pada zaman Hindu-Budha disesuaikan dengan perkebangan  zaman Islam seperti kisah Mahabarata, Ramayana dan Pancatantara digubah menjadi Hikayat Pandawa Lima, Hikayat perang Pandawa Jaya, Hikayat Sri Rama dan Hikayat Pancatantar Kitab Suluk ( primbon ) ini bercorak magis dan berisi ramalan-ramalan dan penentuan hari baik dan buruk serta pemeberian-pemberian makna pada suatu kejadian seperti Suluk Wijil yang berisi wejangan-wejangan Sunan Bonang kepada wijil .

 

Sedangkan dalam seni sastra yang berkembang pada awal periode Islam adalah seni sastra yang berasal dari perpaduan sastra pengaruh Hindu – Budha dan sastra Islam yang banyak mendapat pengaruh Persia. Dengan demikian wujud akulturasi dalam seni sastra tersebut terlihat dari tulisan/aksara yang dipergunakan yaitu menggunakan huruf Arab Melayu (Arab Gundul) dan isi ceritanya juga ada yang mengambil hasil sastra yang berkembang pada jaman Hindu.

                                                 Media penyiran Islam di pulau Jawa

Islam di Jawa disebarkan dengan pendekatan budaya. Salah satunya melalui kesenian wayang yang disisipi nilai-nilai Islami. Wayang yang telah menjadi pokok ajaran bagi orang jawa, oleh para wali terutama Sunan Giri, sunan Bonang dan Sunan Kalijaga, dimasukan ajaran-ajaran Islam

 

Bentuk seni sastra yang berkembang adalah:

  1. Hikayat yaitu cerita atau dongeng yang berpangkal dari peristiwa atau tokoh sejarah. Hikayat ditulis dalam bentuk peristiwa atau tokoh sejarah. Hikayat ditulis dalam bentuk gancaran (karangan bebas atau prosa). Contoh hikayat yang terkenal yaitu Hikayat 1001 Malam, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Pandawa Lima (Hindu), Hikayat Sri Rama (Hindu).
  2. Babad adalah kisah rekaan pujangga keraton sering dianggap sebagai peristiwa sejarah contohnya Babad Tanah Jawi (Jawa Kuno), Babad Cirebon.
  3. Suluk adalah kitab yang membentangkan soal-soal tasawwuf contohnya Suluk Sukarsa, Suluk Wijil, Suluk Malang Sumirang dan sebagainya.
  4. Primbon adalah hasil sastra yang sangat dekat dengan Suluk karena berbentuk kitab yang berisi ramalan-ramalan, keajaiban dan penentuan hari baik/buruk.

Bentuk seni sastra tersebut di atas, banyak berkembang di Melayu dan Pulau Jawa. Dari penjelasan tersebut, apakah Anda sudah memahami, kalau sudah paham silahkan diskusikan dengan teman-teman Anda, untuk mencari contoh bentuk seni sastra, seperti yang tersebut di atas yang terdapat di daerah Anda.

 

  1. Aksara

Pengaruh Hindu-Budaha dalam Aksara sangat jelas, di mana sebelunya kita belum mengenal tulisan setelah masuknya hindu-budha kita sudah mengenal tulisan berarti Indonesia sudah meninggalkan jaman prasejarah.

Masuknya Islam ke Indonesia berpengaruh terhadap bidang aksara atau tulisan, yaitu masyarakat mulai mengenal tulisan Arab, bahkan berkembang tulisan Arab Melayu atau biasanya dikenal dengan istilah Arab gundul yaitu tulisan Arab yang dipakai untuk menuliskan bahasa Melayu tetapi tidak menggunakan tanda-tanda a, i, u seperti lazimnya tulisan Arab.

 

  1. D.                    Seni Bangunan

Bangunan candi memang berasal dari India tetapi keberadaan candi di Indonesia. Tidak sama dengan candi-candi di India, karena Indonesia hanya mengambil unsure dasar teoritis yang tercantum dalam kitab Silpasastra yaitu kitab memuat petunjuk pembuatan candi. Jika dilihat dari bentuknya candi di Indonesia bangunannya selalu bertingkat-tingkat yang terdiri atas kaki candi,tubuh candi, dan puncak candi yang terdapat lambang para dewa. Dasar bangunan candi adalah punden berundak-undak yang merupakan peninggalan Megalithiukum.

 

Perpaduan seni budaya Indonesia dan budaya Islam dalam seni bangunandapat di lihat melalui bangunan masjid, makam dan lainnya.

a.. Masjid-masjid yang terdapat di Indonesia berbeda gaya arsitekturnya dengan  masjid yang ada tempat lain terutama di negara arab. Hal ini terlihat dari bentuk atapnya yang bertingkat lebih dari satu denahnya berbentuk bujur sangkar dan biasanya ditambah dengan bangunan serambi di depan maupun di samping. Di Minang terdapat atap yang bertingkat dan bergonjong seperti rumah adat dibuat bahannya umum dari kayu. Wujud akulturasi dalam seni bangunan dapat terlihat pada bangunan masjid,

                                       Gambar  Masjid di Indonesia.

Wujud akulturasi dari masjid kuno  memiliki ciri sebagai berikut:

  1. Atapnya berbentuk tingkat-tingkat yaitu atap yang bersusun semakin ke atas semakin kecil dari tingkatan paling atas berbentuk limas. Jumlah atapnya ganjil 1, 3 atau 5. Dan biasanya ditambah dengan kemuncak untuk memberi tekanan akan keruncingannya yang disebut dengan Mustaka.
  2. Tidak dilengkapi dengan menara, seperti lazimnya bangunan masjid yang ada di luar Indonesia atau yang ada sekarang, tetapi dilengkapi dengan kentongan atau bedug untuk menyerukan adzan atau panggilan sholat. Bedug dan kentongan merupakan budaya asli Indonesia.
  3. Letak masjid biasanya dekat dengan istana yaitu sebelah barat alun-alun atau bahkan didirikan di tempat-tempat keramat yaitu di atas bukit atau dekat dengan makam.Mengenai contoh masjid kuno selain seperti yang tampak pada gambar  Anda dapat  memperhatikan Masjid Agung Demak, Masjid Gunung Jati (Cirebon), Masjid Kudus dan sebagainya.

Apakah di daerah Anda terdapat bangunan masjid kuno ? Kalau ada, silahkan Anda mengkaji sendiri ciri-cirinya, apakah sesuai dengan uraian dalam modul ini? Selanjutnya silahkan Anda menyimak uraian materi seni bangunan berikutnya.

b.  Makam dalam penempatan pun terjadi akulturasi antara kebudayaan Indonesia, Hindu-Budha dan Islam, seperti makam terletak di tempat yang lebih tinggi dan dekat dengan masjid. Makam diabadikan dengan bangunan dari sebuah batu yang sebut Jirat atau kijing yang di atasnya didirikan cangkup (kubah) contoh makam Fatimah binti Maimun. Dan tata upacara pemakaman memasukan jenazah dalam peti mati (kebudayaan megalitikum), tradesi tabur bunga, selamatan tiga hari,tujuh hari, empat puluh hari memperingati orang yang meninggal merupakan  unsur budaya Hindu-Budha.

Untuk itu silahkan Anda simak gambar makam berikut ini.

Gambar . Makam Sunan Giri, Sheh Burhanuddin dan Sunan Tembiyat

Latihan 5

Setelah Anda mengenal gambar 2 makam Sendang Duwur (Tuban) tersebut, Silahkan Anda cari sendiri ciri-ciri dari bangunan makam tersebut kemudian tulis pendapat Anda pada titik-titik di bawah ini.
…………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………

Selanjutnya cocokkan pendapat Anda dengan uraian materi berikut ini. Ciri-ciri dari wujud akulturasi pada bangunan makam terlihat dari:

  1. makam-makam kuno dibangun di atas bukit atau tempat-tempat yang keramat.
  2. makamnya terbuat dari bangunan batu yang disebut dengan Jirat atau Kijing, nisannya juga terbuat dari batu.
  3. di atas jirat biasanya didirikan rumah tersendiri yang disebut dengan cungkup atau kubba.
  4. dilengkapi dengan tembok atau gapura yang menghubungkan antara makam dengan makam atau kelompok-kelompok makam. Bentuk gapura tersebut ada yang berbentuk kori agung (beratap dan berpintu) dan ada yang berbentuk candi bentar (tidak beratap dan tidak berpintu).
  5. Di dekat makam biasanya dibangun masjid, maka disebut masjid makam dan biasanya makam tersebut adalah makam para wali atau raja. Contohnya masjid makam Sendang Duwur seperti yang tampak pada gambar 2 tersebut.

Apakah Anda sudah memahami ciri-ciri pada bangunan makam tersebut ? Kalau Anda sudah paham, silahkan Anda simak wujud akulturasi pada bangunan istana.

Bangunan istana arsitektur yang dibangun pada awal perkembangan Islam, juga memperlihatkan adanya unsur akulturasi dari segi arsitektur ataupun ragam hias, maupun dari seni patungnya contohnya istana Kasultanan Yogyakarta dilengkapi dengan patung penjaga Dwarapala (Hindu).

 

 

 

 

  1. E.   Filsafat

Filsafat merupakan sdisiplin ilmu yang berusaha menjawab masalah-masalah yang tidak terjawab oleh disiplin ilmu yang lain. Filsafat akan mencarai suatu kebenaran yang hakiki. Untuk mencari kebenaran, umat Islam menggunakan pendekatan  Tasawuf. Tasawuf adalah ilmu yang mempelajari tentang orang-orang yang langsung mencari tuhan karena terdorongoleh cinta dan rindu terhadap tuhan. Untuk mewujudkan kecintaan dan kerinduan terhadap tuhan mereka relameninggalkan masyarakat yang ramai dan kemewahan dunia, termasuk meninggalkan anak dan isteri/suami  semata-semata mendekatkan diri kepada tuhan dengan seluruh jiwa dan raga serta penuh keiklasan. Mereka dinamakan Sufi dab alairannya dinamakan Tasawuf.

 

  1. Aksara
    Tersebarnya agama Islam ke Indonesia maka berpengaruh terhadap bidang aksara atau tulisan, yaitu masyarakat mulai mengenal tulisan Arab, bahkan berkembang tulisan Arab Melayu atau biasanya dikenal dengan istilah Arab gundul yaitu tulisan Arab yang dipakai untuk menuliskan bahasa Melayu tetapi tidak menggunakan tanda-tanda a, i, u seperti lazimnya tulisan Arab.

Di samping itu juga, huruf Arab berkembang menjadi seni kaligrafi yang banyak digunakan sebagai motif hiasan ataupun ukiran dan gambar wayang.

 

  1. Sistem Kalender
    Sebelum budaya Islam masuk ke Indonesia, masyarakat Indonesia sudah mengenal Kalender Saka (kalender Hindu) yang dimulai tahun 78M. Dalam kalender Saka ini ditemukan nama-nama pasaran hari seperti legi, pahing, pon, wage dan kliwon.                                   Dalam kepercayaan Hindu, perhitungan waktu berdasarkan tahun Saka. Menutrut perhitunmgan satu tahun saka sama dengan 365 hari dan perbedaan dengan tahun Masehi adalah 78 tahun. Penggunaan tahun saka di temukan dalam prasati Talang Tuo berangka tahun 606 saka (606 + 78) 684 M yang menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Melayu kuno.Dan Candrasangkala adalah susuna kalimat atau gambar yang dapat dibaca  sebagai angka. Contoh menggunakan kalimat bahasa Jawa adalah Sirna ilang kertaning bhumi, apabila diartikan Sirna = 0, Ilang = 0, Kertaning = 4, Bhumi = 1 maka kalimat tersebut artinya sama dengan tahun 1400 saka (dibaca dari kanan), atau sama dengan tahun 1478 M . Apakah sebelumnya Anda pernah mengetahui/mengenal hari-hari pasaran?  Sultan Agung dari Mataram menciptakan kalender Jawa, dengan menggunakan perhitungan peredaran bulan (komariah) seperti tahun Hijriah (Islam).

Pada kalender Jawa, Sultan Agung melakukan perubahan pada nama-nama bulan seperti Muharram diganti dengan Syuro, Ramadhan diganti dengan Pasa. Sedangkan nama-nama hari tetap menggunakan hari-hari sesuai dengan bahasa Arab.  Kalender Sultan Agung  dimulai tgl 1 Syuro 1555 Jawa, atau tepatnya 1 Muharram 1053 H.

Untuk mengetahui bentuk kalender jawa tersebut, silahkan Anda amati gambar berikut ini

 

 

Gambar  Kalender Jawa

Demikianlah uraian materi tentang wujud akulturasi kebudayaan Indonesia dan kebudayaan Islam, sebenarnya masih banyak contoh wujud akulturasi yang lain, untuk itu silahkan diskusikan dengan teman-teman Anda, mencari wujud akulturasi dari berbagai pelaksanaan peringatan hari-hari besar Islam atau upacara-upacara yang berhubungan dengan keagamaan. Hasil diskusi Anda, nanti Anda kumpulkan kepada guru bina di sekolah penyelenggara.

  1. II.         Integrasi Bangsa lndonesia.
  2. Pengertian Bangsa Indonesia

Bangsa Indonesia adalah kesatuan solidaritas yang didasarkan atas perasaan kebangsaan Indonesia, yang berkehendak untuk hidup bersama di tanah air Indonesia sebagai suatu bangsa. Sedangkan pengertian dari negara Indonesia yaitu suatu organisasi politik, suatu struktur politik dimana para warganegara adalah anggota dari organisasi politik besar tersebut. Keanggotaan dalam organisasi negara atau kewarganegaraan diatur oleh aturan hukum. Jadi undang-undanglah yang menyatakan apakah seseorang adalah warganegara Indonesia atau bukan.

Dalam Negara Indonesia, kesatuan solidaritasnya berpedoman pada undang-undang atau terikat pada hukum. Sedangkah dalan Nation Indonesia, kesatuan solidaritasnya hanya didasarkan pada perasaan kebersamaan atau rasa solidaritas kebangsaan Indonesia.

Dengan demikian dapatlah dimengerti bahwa pada masa lalu sebelum terbentuknya negara Indonesia. Nation Indonesia belum ada, yang ada hanyalah nation-nation yang lebih kecil yaitu seperti bangsa Aceh, Batak, Bali, Jawa dan lain sebagainya. Tetapi setelah terbentuknya Negara Indonesia maka Nation Indonesia keanggotaannya berasal dari berbagai bangsa yang ada di kepulauan Indonesia termasuk bangsa Cina, Arab dan sebagainya.

Hal ini berarti Nation Indonesia tidak terbatas pada bangsa yang sama ataupun, ras yang sama, karena Nation Indonesia keanggotaannya berasal dari keanekaragaman ras dan suku bangsa serta agama yang berkembang di Indonesia.

  1. Proses Integrasi Bangsa Indonesia

Jika Anda mendengar atau membaca istilah Integrasi, apa yang terlintas dalam pikiran Anda? Kesatuan, atau persatuan. Banyak para ahli yang memberikan pengertian tentang Integrasi.

Dari kata integritas yang berarti keutuhan atau kebulatan dan integrasi berarti membuat unsur-unsur tertentu menjadi satu kesatuan yang bulat dan utuh. Secara umum integrasi diartikan sebagai pernyataan secara terencana dari bagian-bagian yang berbeda menjadi satu kesatuan yang serasi. Kata integrasi berkaitan erat dengan terbentuknya suatu bangsa, karena suatu bangsa terdiri dari berbagai unsur seperti suku/etnis, ras, tradisi, kepercayaan dan sebagainya,yang beranekaragam. Untuk itu integrasi suatu bangsa terjadi karena adanya perpaduan dari berbagai unsur tersebut, sehingga terwujud kesatuan wilayah, kesatuan politik, ekonomi, sosial maupun budaya yang membentuk jatidiri bangsa tersebut. Integrasi bangsa tidak terjadi begitu saja, tetapi memerlukan suatu proses perjalanan waktu yang panjang yang harus diawali adanya kebersamaan dalam kehidupan. Kebersamaan tersebut memiliki arti yang luas yaitu kebersamaan hidup, kebersamaan pola pikir, kebersamaan tujuan dan kebersamaan kepentingan.

Dengan demikian integrasi suatu bangsa dilandasi oleh cita-cita dan tujuan yang sama, adanya saling pendekatan dan kesadaran untuk bertoleransi dan saling menghormati. Demikian pula untuk integrasi bangsa Indonesia. Mengingat Indonesia sebagai bangsa yang majemuk dan memiliki keanekaragaman budaya. Maka sangat memerlukan proses integrasi, karena dampak dari kemajemukan ini sangat potensial terjadinya konflik/ pertentangan.

Kecenderungan terjadinya konflik di Indonesia sangatlah besar, untuk itu hendaknya setiap warga masyarakat di Indonesia harus menyadari dan mempunyai cita-cita bersama sebagai bangsa Indonesia. Cita-cita bersama sebagai bangsa Indonesia adalah sederhana tetapi agung yaitu suatu masyarakat dimana semua golongan dapat hidup rukun. Mengembangkan diri tanpa merugikan golongan lain dan bahkan membantu mendukung golongan-golongan lain, sehingga terwujud suatu masyarakat yang adil dan makmur.

Perlu juga disadari bahwa mengejar cita-cita yang demikian tidaklah mudah, bukan merupakan proses yang sekali jadi, tetapi membutuhkan waktu yang lama. Dan untuk mencapainya bukan hanya merupakan tugas orang-orang tertentu atau golongan-golongan tertentu tetapi merupakan tugas seluruh nation/bangsa yang memiliki solidaritas terhadap kebangsaan Indonesia. Dalam mengupayakan, memperjuangkan cita-cita yang luhur tersebut diperlukan pemahaman kondisi, dalam kenyataan pemahaman dari segi-segi budaya dan akhirnya kebijaksanaan yang didasarkan atas kearifan dan perhitungan sebagai integrasi dapat terwujud.

Dari penjelasan tersebut di atas, apakah Anda dapat memahami dengan baik? Kalau Anda sudah paham silahkan simak kembali uraian materi selanjutnya.

Proses integrasi bangsa Indonesia menurut A. Sartono Kartodirjo dapat dibagi dalam 2 jenis yaitu ;

  1. Proses integrasi geopolitik yang dimulai sejak jaman prasejarah sampai awal abad 20  Dalam proses integrasi geo politik di Indonesia mulai menonjol pada awal abad 16 dan dalam proses integrasi bangsa Indonesia tersebut banyak faktor yang berperan antara lain pelayaran dan perdagangan antar pulau serta adanya bahasa Melayu sebagai bahasa pergaulan. Para pedagang-pedagang Islam mejadi motor penggerak terjadinya proses integrasi, hal ini karena dalam ajaran Islam tidak membedakan manusia baik berdasarkan kasta, agama, suku/etnis atau golongan. Bagi pedagang-pedangan Islam yang terpenting adalah perdagangan yang saling menguntungkan. Dengan adanya hal tersebut maka mempermudah hubungan dan komunikasi suku bangsa yang berada di Nusantara.
  2. Proses integrasi politik kaum elite sejak abad 20 sampai jaman Hindia Belanda..Integrasi kaum elite yang berkembang pada awal abad 20 yang berperan adalah pendidikan karena dengan pendidikan lahirlah golongan intelektual Indonesia yang menyadari nasib bangsanya sehingga berusaha mengembangkan wawasan integral kebangsaan. Untuk itu integrasi politik kaum elite merupakan tulang punggung gerakan Nasionalisme Indonesia. Melalui gerakan nasionalisme maka lahirlah integrasi nasional bangsa Indonesia sampai sekarang.

Demikialah uraian materi tentang integrasi bangsa Indonesia. Untuk menguji tingkat pemahaman Anda. Kerjakanlah latihan berikut ini.

Selanjutnya kerjakanlah latihan-latihan soal berikut ini, agar tingkat pemahaman Anda dapat terukur. Selamat mengerjakan!

 

 

 

 

 

Latihan  6

1. Berikan penjelasan tentang ciri-ciri wujud akulturasi pada seni bangunan berikut ini.

 

2. Sebutkan nama-nama masjid kuno dan daerahnya sebagai hasil wujud akulturasi.

 

3. Berikan contoh dan penjelasan ciri-ciri wujud akulturasi pada seni rupa dan aksara pada kolom di bawah ini.

 

4. Berikan contoh dan penjelasan wujud akulturasi dalam seni sastra.

5. Berikan penjelasan tentang kalender Jawa

 

Soal Objektif

Petunjuk soal

1. Bacalah soal dengan teliti sebelum Anda menjawab

2. Dahulukan menjawab soal yang Anda anggap mudah.

3. Bentuk soal terdiri dari 10 pilihan berganda dan 2 essay.

 

I. Pilihlah salah satu jawaban yang dianggap benar.

1.  Berdasarkan bukti sejarah yang berupa nisan kubur dan tata masyarakatnya maka golongan

pembawa Islam ke Indonesia adalah para pedagang dari …

a. Arab                                          d. Cina

b. Persia                                       e. Mesir

c. Gujarat

2.   Penduduk Indonesia yang mula-mula mengenal agama Islam adalah…

a. masyarakat Indonesia yang tinggal di pedalaman

b. masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah pantai.

c. para raja dan keluarga bangsawan

d. masyarakat Indonesia yang belum beragama

e. para wali atau mubaliq

3.  Berita pertama adanya penyebaran Islam di Nusantara diperoleh pedagang Venetia

yaitu …

a. Ma Huan                                     d. Jnanabadra

b. Dante                                                      e. Hwining

c. Marcopolo

 

4.  Para pedagang Islam dari Arab datang pertama kali ke Indonesia pada jaman berkuasanya

kerajaan..

a. Samudra Pasai                                          d. Mataram

b. Sriwijaya                                                   e. Tarumanegra

c. Majapahit

 

 

5. Berdasarkan teori baru Islam masuk ke Indonesia pada abad …. M

a. 6                                                               d. 11

b. 7                                                               e. 13

c. 8

 

6. Yang tidak termasuk cara-cara penyebaran Islam di Indonesia adalah melalui ..

a. penaklukkan                                              d. pendidkan

b. perkawinan                                                e. dakwah

c. perdagangan

 

7. Salah satu lembaga pendidikan yang pertama didirikan di pulau jawa adalah pesantren  Ampel Denta yang didirikan oleh…

a. Makdum Ibrahim                                   d. Ja’far Shodiq

b. Malik Ibrahim                            e. R. Rahmat

c. R. Paku

 

8. Wujud akulturasi dalam seni sastra yang berbentuk dongeng yang berpangkal dari

peristiwa/tokoh sejarah di sebut dengan….

a. Babad                                                  d. Primbon

b. Hikayat                                                e. . Sya’ir

c. Suluk

d. Primbon

 

9. Kalender Jawa diciptakan pertama kali oleh…

a. Sultan Hamengkubuwono                      d. Sultan Agung

b. R. Patah                                              e. Sunan Kalijaga

c. Sultan Ageng

10. Salah seorang Walisongo yang menyebarkan Islam di Demak adalah ….

a. Sunan Ampel                                        d. Sunan Muria

b. Sunan Giri                                            e. Sunan Kudus

c. Sunan Kalijaga

 

 

 

 

 

 

 

 

Kunci  Jawaban 2

Untuk meyakinkan kebenaran jawaban Anda, cocokkan dengan kunci jawabannya berikut

1. Masjid kuno cirinya:1. Beratap tumpang, dan kemuncaknya disebut Mustaka.

2. tidak dilengkapi dengan menara tetapi dilengkapi dengan bedug   atau   kentongan.

3. terletak di pusat kota/di ibukota atau di tempat-tempat keramat.

Makam kuno cirinya :1. Terletak di atas bukit, atau tempat yang dianggap keramat   yang dibuat berundak-undak

2. dilengkapi dengan kijing/jirat dan nisan yang terbuat dari batu.

3. dilengkapi dengan cungkup/kubah

4. diberi tembok atau gapura yang berbentuk kori agung atau candi bentar.

5. terdapat bangunan masjid

2. Nama Masjid hasil Akulturasi di lingkungan saya ……………………………..

 

3. seni rupa/seni pahat dan seni hias contohnya: ukiran pintu, hiasan dinding, batu nisan,  gapura, kaligrafi.

 

4.. Aksara contoh Arab Melayu/Arab Gundul. Ciri-cirnya huruf Arab tetapi tidak memakai tanda baca/harakat

a. Hikayat adalah dongeng yang berpangkal dari peristiwa-peristiwa tokoh-tokoh   sejarah.

Contohnya : Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Sri Rama, Hikayat Panji Kuda    Semirang.

b.  Babad adalah karya sastra rekaan yang dianggap sebagai cerita/peristiwa

sejarah.

Contohnya : Babat Tanah Jawi, Babat Cirebon

c . Suluk adalah kitab yang membentangkan soal-soal tasawuf.

Contohnya : Suluk Wujul, suluk Sukarsa

d.  Primbon adalah kitab yang berisi ramalan, keajaiban dan penentu hari baik.

 

  1. Kalender Jawa adalah kalender yang diciptakan Sultan Agung pada tahun 1043 atau 1643 M. yang merupakan perpaduan antara kalender saka dengan kalender Islam yaitu dimulai tanggal 1 Syuro 1555 Jawa.

Bagaimana dengan jawaban Anda apakah sudah sesuai ? Bagus ! Jika Anda dapat     menjawab dengan tepat.

Demikianlah uraian materi kegiatan belajar 1, semoga Anda sudah mampu memahami materi ini dengan baik. Untuk selanjutnya kerjakanlah tugas kegiatan belajar 1 berikut dengan cermat dan bacalah petunjuk soalnya terlebih dahulu. Selamat mengerjakan

Daftar Pustaka

 

  1. I Wayan Badrika,  2007, Buku Sejarah Indonesia untuk SMA Kelas XI. IPS,

Jakarta  Penerbit Erlangga.

 

  1. Mohammad Iskandar, dkk , 2007 Buku Sejarah Nasional Indonesia untuk kelas

XI  IPS  .  Jakarta, Penerbit Ganeca th. 2007.

 

  1. Nana Suptriatna, 2007, Buku Sejarah untuk kelas XI IPS, Jakarta Penerbit Grafindo Media Pratama.

 

  1. Shodiq Mustafa,2007  Buku Sejarah Indonesia dan Dunia untuk kelas XI IPS,

Jakarta, Penerbit Tiga Serangkai.

 

5.  Internet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: